ZAKKI MUBAROK/RADAR JOGJA
RAMAH: Mufidah Jusuf Kalla (bersimpuh, kanan) menyapa perajin gerabah di Kasongan Bantul (foto kiri), dan menyapa buruh gendong dalam acara silaturahmi di Istana Kepresidenan Gedung Agung, Jogjakarta, kemarin (25/3).
BANTUL – Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akhir-akhir ini, seharus-nya membawa berkah bagi industri ekspor. Tak terkecuali bagi perajin gerabah di Ka-songan Bantul, yang produknya dijual ke kawasan Eropa dan Amerika Serikat. Namun pada kenyataannya, para perajin gerabah hanya bisa gigit jari.Memang, dampak tingginya nilai tukar dolar AS, telah mempengaruhi penjualan eskpor gerabah Kasongan hingga 20 persen. Sayangnya, keuntungan dari naiknya pen-jualan ini lebih banyak dinikmati para eksportir
“Jadi ya kalau bisa, harga (ge-rabah) dinaikkan. Kalau naik, kesejahteraan perajin kan juga pasti akan ikut meningkat,” kata istri wakil presiden, Mufi-dah Jusuf Kalla di sela berkun-jung bersama Organisasi Aksi Solidaritas Era Kabinet Kerja (OASE KK) di sentra kerajinan gerabah Kasongan kemarin (25/3).Ketua Koperasi Setya Bawana UPT Kasongan Timboel Rahar-djo mengakui, nilai penjualan ekspor gerabah belakangan ini memang menunjukkan grafik yang cukup menggembirakan. Permintaan ekspor dari berba-gai negara, meningkat hingga 20 persen. “Itu terjadi menyusul anjloknya nilai tukar rupiah ter-hadap dolar,” katanya.
Dikatakan, dalam sebulan, nilai ekspor gerabah menembus angka Rp 2 miliar. “Setiap bulan kita pasti mengirim dua kontai-ner,” terangnya.Tujuan ekspor berbagai produk kerajinan gerabah ini ke berba-gai benua. Misalnya, Timur Tengah, Eropa, Australia, dan Amerika Serikat. Menurut Tim-boel, para perajin sebetulnya juga memperoleh keuntungan dengan peningkatan nilai pen-jualan eskpor ini. Sebab, bahan baku gerabah yang notabene dari lokal, tak terkena dampak dari menguatnya dolar. Namun, keuntungan para perajin ini ka-lah banyak dibanding para eksportir.”Karena transaksinya meng-gunakan rupiah dengan harga tetap. Bukan dolar,” tandasnya.
Dari itu, Timboel punya ini-siatif bakal meminta para ekspor-tir untuk menaikkan harga pem-belian. Ini dengan harapan melemahnya rupiah terhadap dolar juga dinikmati para pera-jin. Di bagian lain, Pengelola Dwi yanto Ceramic Sumiasih khawatir kesulitan menjual ber-bagai produk kerajinannya bila harus menaikkan harga jual, meskipun nilai tukar dolar me-nguat. “Biasanya mengandalkan wisatawan yang datang setiap akhir pekan,” paparnya.Berdasar data Koperasi Setya Bawana, setidaknya saat ini ada 350 perajin di sentra kerajinan gerabah Kasongan. Biasanya, ada 10 hingga 15 perusahaan eksportir yang membeli produk kerajinan gerabah di sentra ke-rajinan Kasongan ini. Sebelum mengunjungi Kasong-an Bantul, Mufidah Jusuf Kalla mengadakan silaturahmi di Is-tana Kepresidenan Gedung Agung, Jogjakarta. Kegiatan ini diikuti oleh 227 buruh gendong dari berbagai pasar tradisional di Jogjakarta. Pertemuan ini ditujukan untuk meningkatkan hubungan ma-syarakat dengan para istri menteri Organisasi Aksi Soli-daritas Era (OASE) Kabinet Kerja. (zam/pra/jko/ong)