DWI AGUS/RADAR JOGJA
PEDULI:Pentas Beningnya Air Mengalir di Gedung Societed Militair Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Selasa malam (24/3).
JOGJA – Kegelisahan akan kon-disi alam, menggunggah sejum-lah pedagang dan pengamen di Jogjakarta. Kegelisahan ini me-reka kemas dalam pementasan teater dengan lakon Beningnya Air Mengalir. Mengusung bende-ra Teater Tantra, mereka me-mentaskan di Gedung Societed Militair Taman Budaya Yogya-karta (TBY), Selasa malam (24/3).Pementasan ini tak hanya dike-mas melalui teater. Beberapa penggawa jalanan ini membawa-kan ragam musik hingga pemba-caan puisi. Puisi dan musik yang dibawakan merupakan ciptaan sendiri, sebagai bentuk kegelisa-han keadaan lingkungan saat ini.”Ini sebagai bentuk penyuara-an apa yang kami rasakan seha-ri-hari. Khususnya untuk kon-disi air yang merupakan kebu-tuhan penting manusia. Kepe-dulian untuk menjaga masih minim. Bahkan ketika terjadi sebuah bencana, baru peduli,” kata Ketua Teater Tantra Yosep Iwan Taruntu.Dalam pementasan kali ini, para pengamen dan pedagang jalanan menjajal beradu akting
Meski tidak sesempurna layak-nya seniman panggung, me-reka mampu menyampaikan pesan. Terutama saat adegan dua orang petani yang dengan seenaknya sendiri menggun-duli hutan.Imbas dari perbuatan ini, ada-lah kondisi tanah yang menjadi tidak stabil. Alhasil, tanah yang seharusnya menyerap air, justru menjadi awal bencana. Bencana ini tidak hanya merusak ling-kungan, juga tatanan masyara-kat di sekitarnya.”Bencana-bencana, seperti sudah sering kali terjadi, tapi terus terulang. Contoh kecil ban-jir di ibukota karena sampah. Pasti terus terulang, tapi seakan masyarkat tidak memiliki kesada-ran. Baru berteriak ketika ben-cana sudah terjadi, sehingga tidak ada solusi,” ungkapnya.Menurutnya, pementasan ini untuk membuktikan bahwa para penggawa jalanan juga berhak untuk berkesenian. Me-ski tahapan pembelajaran ber-beda dengan seniman panggung, namun tetap patut diapresiasi. Termasuk bagaimana menghadir-kan isu menarik dalam sebuah pe mentasan teater.Para penggawa jalanan ini rata-rata berjualan di seputar kawasan titik nol kilometer Jog-jakarta.
Selain itu ada juga yang mencari nafkah di seputaran jalan Mangkubumi dan lesehan RS Bethesda. Baginya kemam-puan seni ini patutlah diwadahi dan dipertontonkan.Dalam kesempatan ini, mereka juga berharap agar masyarakat dapat melihat sisi lain. Termasuk dinas terkait dalam mewadahi pengamen dan pedagang jalanan. Permasalahan yang kerap timbul, mengalami penggusuran, namun tidak mendapatkan solusi yang selayaknya.”Kadang dari akting-akting meraka, kita bisa melihat apa yang terjadi di lingkungan. Ka-rena menggunakan bahasa yang jujur, baik secara verbal maupun non verbal. Dengan teater ini, kami juga menyuarakan apa yang kami rasakan. Semoga bisa didengarkan oleh semua elemen masyarakat,” katanya. (dwi/jko/ong)