SLEMAN – Masih ingat kasus pembacokan beruntun yang terjadi di wilayah Depok dan Ngemplak pada 25 Desember 2014. Kemarin (25/3), polisi menggelar reka ulang. Itu untuk memberi gambaran perstiwa bagi penyidik dan penuntut umum atas kasus yang mene-waskan Nailul Mazda Azzajid Ahmad, 18, warga Purwodadi, Kediri, Jawa Timur dan melukai sedikitnya lima korban lain.Reka ulang dengan 33 adegan diperankan oleh tersangka Faqih Amrullah alias Ketel, 23, dan ER, 17. Sedangkan para korban di-perankan oleh anggota Satreskrim Polres Sleman. Usai rekonstruk-si, beberapa penyidik dan jaksa menanyai Faqih tentang kebe-radaan pedang yang digunakan untuk membacok korban setelah aksinya selesai. Penyidik juga penasaran untuk mengorek ke-terangan lain yang mendorong dua tersangka kembali ke tem-pat kejadian perkara, di mana korban tewas, untuk melihat suasana.Padahal, saat itu me-reka sudah kembali ke rumah masing-masing. “Masih di mo-tor. Saya mabuk berat. Pulang lalu tidur,” dalihnya menjawab keberadaan pedang.
ER lantas menimpali bahwa pe-dang dikembalikan di tempat se-mula, di atas almari rumahnya. Pedang tersebut memang milik ER yang dipinjam Faqih untuk mem-bacok. “Pedang nggak ada darah, kok. Cuma bau amis,” kata ER. Dalam aksi mereka, ERberpe-ran sebagai joki. Faqih memba-cok para korbannya sambil membonceng di jok belakang. “Kok, bisa tahu ada korban tewas,” tanya seorang penyidik. ER menjawab, dia memperoleh kabar dari broadcast di ponsel melalui Blackberry Messenger (BBM). “Kalau saya nggak tahu karena langsung tidur,” sahut Faqih yang mengaku terlelap sekitar 15 menit sebelum di-bangunkan oleh ER, yang me-mintanya turut menengok TKP. Ternyata, tersangka hanya mendapati kerumunan warga, sementara korban sudah dibawa ke rumah sakit. Sementara itu, adegan demi adegan dijalani dua tersangka, merunut deskripsi yang dibacakan petugas.
Meski mengaku mabuk, Faqih mem-peragakan setiap detil gerakan-nya saat membacok korban. Dia juga mengoreksi beberapa kete-rangan dalam berita acara pe-meriksaan (BAP) yang dianggap kurang pas. Dia mengaku selalu memalingkan kepalanya ke kiri setiap mengayun kan pedang ke arah korban. Reka ulang diawali Faqih meng-hampiri ER di rumahnya di Pe-dukuhan Manukan, Condong-catur, Depok. Keduanya adalah teman sekampung. Mereka lan-tas berputar-putar menunggang Honda Vario AB 2655 EU.Sesampai di TKP 1, Kepuh-sari, Maguwoharjo, Depok ke-duanya berpapasan dengan Ricardo Fernandes. Korban per-tama mereka terkena sabetan pedang pada bagian mulut.ER terus memacu Vario sampai TKP 2, Karangsari, Wedomar-tani, Ngemplak. Korban Ber-nado Robert yang berboncengan dengan Veronica mengalami luka gores di lengan kanan. Nasib apes menimpa Nailul Mazda yang berpapasan dengan tersangka di TKP 3, Candi Ge-bang, Ngemplak. Korban ter-sayat bagian leher hingga urat nadinya putus. Korban terakhir pasangan bapak dan anak, Purwanto dan David Eko Prasetyo di TKP 5, Krapyak, Ngemplak. Pedang yang disabet-kan ke arah Prasetyo mengenai jaket kulit yang dipakainya. Namun, David yang membonceng di bela-kang terkena sayatan di lengan kanan. (yog/ila/ong)