JOGJA – Meski Ujian Nasional (Unas) tak lagi menentukan kelulusan siswa, bukan berarti pelaksanaan ujian yang mengguna-kan standar nasio-nal tersebut men-galami penurunan penyelenggaraan. Kepala Dinas Pendidikan dan Pemuda (Disdik-pora) DIJ Kadar-manta Baskara Aji memastikan, pe nyelenggaraan Unas tetap sama seperti tahun-ta hun sebelumnya.
“Pelaksanaannya tetap sama. Kami kedepankan kejujuran siswa dalam mengerjakan Unas,” kata Aji, kemarin (25/3).Ia mengungkapkan, pengama-nan soal juga masih sama. Pi-haknya akan menggandeng kepolisian untuk distribusi soal-soal tersebut ke sekolah. “Juga di sekolahan. Saat pelaksanaan, ada guru yang mengawasi,” te-rangnya.Guru pengawas Unas ini, terang Aji, memang sedang dikaji. Dis-dikpora belum memastikan apakah akan menggunakan me-kanisme rolling antarsekolah atau tetap guru masing-masing sekolah tersebut. “Baru akan dirapatkan,” jelasnya.Hasil dari Unas, sambung Aji, memang tak seperti tahun-tahun yang lalu. Siswa kini tak berpa-tokan hanya dengan Unas untuk menentukan kelulusan. Tapi, hal tersebut bukan berarti lantas menyelenggarakan Unas dengan asal-asalan. “Ini juga untuk me-ngukur penyelenggaraan kegia-tan belajar mengajar (KBM),” tuturnya.
Artinya, Unas tahun ini justru menjadi bahan input bagi Dis-dikpora. Sebagai bahan untuk mengevaluasi kinerja sekolahan dalam menyelenggarakan KBM. “Termasuk di DIJ juga akan men-jadi patokan masuk sekolah,” terangnya. Kebijakan menggunakan Unas sebagai poin pertimbangan pe-nerimaan siswa ini, hanya ber-laku DIJ. Di sini, sengaja meng-gunakan Unas untuk peneri-maan siswa mengingat tetap menggunakan sistem Real Time Online (RTO). “Pemerintah pu-sat memang hanya menghapus Unas sebagai standar kelulusan. Tapi, pemanfaatan hasil Unas diserahkan ke masing-masing daerah,” jelasnya.Karena dikembalikan ke daerah ini, kata Aji, pihaknya lantas mengundang kepala sekolah jenjang SMA se-DIJ. Mereka di-kumpulkan untuk membahas mengenai pemanfaatan hasil dari Unas tersebut. “Ternyata semua sepakat untuk tetap me-manfaatkan nilai Unas,” ung-kapnya.
Dengan kebijakan penghapu-san Unas sebagai tolok ukur utama kelulusan siswa ini, nilai rapor, nilai sikap sehari-hari, dan nilai ujian sekolah menjadi sangat penting. Inipun berdam-pak terhadap penilaian untuk masuk sekolah.Dari semua tolok ukur itu, tak ada yang menggunakan standar soal yang sama. Hanya, Unas yang masih bisa diandalkan ka-rena di semua sekolah, soal dan penilaiannya sama. “Akhirnya Unas ini yang kami jadikan tolok ukur masuk sekolah,” lanjutnya.Perubahan kebijakan ini, di-prediksi baru akan berlangsung pada tahun 2016 mendatang. Setelah ada penyerahan wewe-nang pengelolaan SMA dan sederajat ke Pemprov DIJ. Ini bakal berdampak terhadap pe-nerimaan peserta didik baru (PPDB).
Jika selama ini masing-masing kabupaten dan kota menerapkan sistem kuota ter-hadap siswa dari luar, hal terse-but tak akan berlaku.Alhasil, siswa dari luar kota dipastikan akan berbondong-bondong menyerbu sekolah di Kota Jogja. Sebab, sudah bukan rahasia lagi, kalau sekolah ne-geri di Kota Jogja masih men-jadi favorit wali siswa. “Otomatis, penerapan sistem kuota siswa dari luar tidak ber-laku lagi,” ujar anggota Komisi D DPRD DIJ Zuhrif Hudaya, Zuhrif menjelaskan, jika kuota ini ha-pus akan berdampak luas. Awal-nya, dari PPDB di mana sekolah favorit seperti SMA N 1 Kota Jogja, SMA N 3 Kota Jogja, dan SMA N 8 Kota Jogja akan keban-jiran siswa. Persaingan untuk masuk ke sekolah-sekolah favo-rit itu bisa dipastikan akan sangat sengit.”Siswa-siswa dengan nilai hasil Unas tinggi yang akan diterima. Karena, yang bersaing masuk pasti akan sangat tinggi nilainya,” ujar Zuhrif.(eri/ila/ong)