BANTUL – Majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Bantul menjatuhkan vonis yang cukup mengejutkan kepada terdakwa kasus Hello Kitty berinisial Nk. Kemarin (26/3) majelis hakim yang diketuai Intan Tri Kumalasari men-jatuhkan vonis rehabilitasi kepada terdakwa yang masih berusia 16 tahun tersebut. Dengan demikian, remaja putri yang masih duduk di bangku kelas X SMA ini terbebas dari hukuman pidana penjara. “Menjatuhkan pidana pem-binaan bagi anak di Panti Sosial Bina Remaja Sleman selama 24 bulan,” jelas Intan membacakan putusan majelis hakim.
Selain itu, majelis hakim juga memerintahkan agar Nk segera di-keluarkan dari LP Wirogunan Kota Jogja. Majelis hakim sebetulnya mengakui dakwaan jaksa penuntut umum (JPU) terbukti dalam proses persidangan. Dalam dakwaannya, JPU Heradian Salipi menjerat terdakwa Nk dengan dua pasal. Yaitu, Pasal 351 Ayat 1 juncto Pasal 55 Ayat 1 dengan hukuman maksimal dua tahun delapan bulan penjara serta Pasal 333 Ayat 1 juncto Pasal 55 Ayat 1 KUHP dengan hukuman delapan tahun penjara.Namun demikian, majelis hakim juga memiliki pertimbangan lain. Dalam undang-undang No.1/2012 tentang Sistem Peradilan Anak disebutkan hukuman penjara me-rupakan alternatif terakhir bagi terdakwa yang masih di bawah umur.Amar putusan majelis hakim ini disambut gembira oleh tim pendamping Nk dari Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI). Salah satu anggota tim pendamping Sapto Nugroho menilai keputusan majelis hakim sangat tepat. “Anak itu masih punya masa depan,” tegasnya saat ditemui usai persidangan.
Senada diungkapkan anggota tim pendamping lainnya bernama Pranowo. Dia berpendapat Nk tidak pantas menerima hukuman pidana penjara. Pertimbangannya, Nk ikut terlibat dalam kasus penyekapan dan penganiayaan terhadap Laras Aprilia Arisandi di indekos yang terletak di Pedukuhan Saman, Bangunharjo, Sewon karena diperintah Ratih yang notabene sebagai dalangnya. “Dalam melakukan lebih banyak suruhan orang dewasa,” ungkapnya.Sementara itu, Heradian Salipi bakal mengajukan banding atas amar putusan majelis hakim. Dia beralasan vonis majelis hakim seharusnya sesuai dengan tuntutan. Lagipula, dakwaan JPU terbukti dalam proses persidangan. “Saya pikir-pikir dengan keputusan ini,” tandasnya.
Heradian memastikan keputusan banding murni karena keputusan majelis hakim tak sesuai dengan tuntutan. Bukan karena tekanan dari keluarga Laras. Ya, tidak hanya JPU yang meradang. Laras beserta sejumlah keluarganya yang datang ke PN langsung syok mendengar amar putusan majelis hakim.Bahkan, Menik Pardjiyem, ibunda Laras langsung berancang-ancang melaporkan ringannya vonis majelis hakim ini ke Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. “Memangnya dia (Nk) mau diperlakukan seperti anak saya kemudian pelakunya hanya direhabilitasi? Enak saja!,” keluhnya.
Seharusnya, kata Menik, Nk men-dapatkan hukuman berat. Setidaknya hukuman pindana penjara sesuai dengan tuntutan JPU. Mengingat, selain menjemput Laras di wilayah Babarsari, Sleman, Nk juga sekaligus melakukan penyiksaan bersama delapan pelaku lainnya. Dia juga berperan memasuk-kan botol ke dalam kemaluan warga Kadipolo, Sendangtirto, Berbah, Sleman tersebut.Meski majelis hakim telah menjatuhkan vonis, Menik tetap sanksi bila Nk bakal menjalani rehabilitasi selama 24 bulan utuh. Dari itu, Menik pun meminta kepada seluruh pihak untuk turut serta mengawasi Nk selama menjalani rehabilitasi. (zam/din/ong)