GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
AMAN KERKENDARA: Siswa BIAS Special School dibantu petugas Dishub Kota Jogja memahami rambu-rambu di Taman Keselamatan Lalu Lintas Terminal Giwangan, Jogja, kemarin (26/3).

Yang Tunarungu Tetap Sulit Dapatkan SIM

Kecelakaan di jalan raya bisa menimpa siapa saja, termasuk bagi anak berkebutuhan khusus (ABK), seperti penyandang tuna grahita. Untuk itu pengenalan keselamatan berlalulintas juga perlu dikenalkan pada ABK. Seperti rambu-rambu lalu lintas, dan berkendara secara aman.
HERU PRATOMO, Jogja
RURIN beserta para guru BIAS Special School, terus berupaya membujuk Aditya Akmal Wirasena untuk turun dari mobil mainan aki yang dikendarainya. Meski su-dah beberapa kali mengitari areal miniatur jalan raya, bocah 6 tahun tersebut, belum mau turun, apa lagi bergantian dengan te-mannya. Rayuan dari ibu dan gurunya, juga tidak mempan. Adit terus menaiki mobilnya dengan santai. Setelah berputar beberapa kali, Adit yang merupakan penyandang tuna grahita ini, mampu memahami aturan di jalan raya, yang diterangkan istruktur sebelumnya. Saat lampu bangjo (Traffic Light) di mi-niatur lalu lintas meyala merah, dia ber-henti sambil berteriak. “Masih merah!”.
Itulah salah satu sesi (gambaran), pelaks-anaan sosialisasi keselamatan berken-dara untuk anak-anak tuna grahita yang diadakan Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Jogja di Taman Lalu Lintas yang be-rada di selatan Terminal Giwangan Jogja, kemarin (26/3).Adit bersama 46 teman-temannya dibe-lajari tentang keselamatan berlalu lintas di jalan, dan kenalkan rambu-rambu lalu lintas yang kerap ditemui di jalan, seper-ti alat pemberi isyaratlampulalulin-tas(APILL), larangan melintas, jalan sea-rah dan lainnya.Kepala Bidang Pengendalian Operasi dan Keselamatan Lalu Lintas Dinas Perhubung-an (Dishub) Kota Jogja Sugeng Sanyoto mengatakan, kehadiran para ABK ini juga dimanfaatkan untuk menguji fasilitas Taman Lalu Lintas yang tak jauh dari lokasi Termi-nal Giwangan tersebut
“Dari kunjungan ini, kami akan mengetahui hal-hal apa saja yang harus ditingkatkan, sehingga Taman Lalu Lintas ini bisa di-akses oleh siapa saja dengan mudah, termasuk para penyan-dang disabilitas,” kata Sugeng.Menurutnya, di Taman Lalu Lintas tersebut, pengunjung diajarkan mengenai cara-cara yang tepat saat berkendara di jalan raya, di antaranya meng-gunakan jalur yang benar, dan selalu mematuhi rambu-rambu lalu lintas. Sugeng menjelaskan, kecelakaan lalu lintas, lebih ba-nyak disebabkan oleh unsur kesalahan manusia, akibat tidak menaati rambu lalu lintas. “Ha-rapannya, anak-anak sudah bisa mengerti sejak dini menge-nai keselamatan berlalu lintas, sehingga bisa mengurangi ang-ka kecelakaan,” tuturnya.
Menurutnya, pengenalan ke-selamatan berlalu lintas harus dimulai sejak dini, termasuk bagi ABK. Setelah mendapatkan pembelajaran ini, paling tidak, para ABK bisa mengingatkan orang tua atau saudaranya yang sedang berkendara supaya lebih berhati-hati. “Memang butuh proses dan harus dimulai sejak dini,” ungkapnya.Sementara ituDivisi Inklusi Community Sentra Advokasi Perempuan Difabel dan Anak (Sapda) Sutiyono menjelaskan, jalan-jalan di Kota Jogja masih banyak yang belum ramah bagi penyandang difabel. Seperti jalan yang curam untuk akses keluar masuk bus Trans Jogja. Selain itu para penyandang di-fabel juga kesulitan untuk menda-patkan SIM, terutama bagi tu-narungu. “Karena kesulitan mendengar bisa jadi penyebab tunarungu sulit mendapatkan SIM,” terangnya.Sedangkan untuk pelatihan ke-selamatan berlalu lintas bagi ABK, dirinya juga menyambut baik. “Mereka (Para ABK) juga harus tahu dan memahami cara ber-lalu lintas dengan aman, sehing-ga bisa mengurangi risiko ke-celakaan di jalan raya,” katanya.Meskipun demikian, ia berha-rap agar fasilitas di Taman Lalu Lintas tersebut ditingkatkan, sehingga lebih menjamin ke-amanan anak berkebutuhan khu sus, misalnya penambahan ram, kondisi jalan yang lebih lan dai, jalan dilengkapi guidan-ce block dan toilet yang bisa diakses oleh ABK. (*/jko/ong)