MAGELANG – Proses mediasi antara kontraktor dan subkon-traktor terus saja dilakukan. Namun, prakteknya terus saja molor. Ini dikarenakan ambu-radulnya data pemesanan pem-buatan sekat antarlos dan ke-uangan dari Paguyuban Pedagang Pasar Rejowinangun Magelang (P3RM) yang dipimpin Heri Se-tiawan. Perpanjangan waktu lima hari untuk pencocokan data antara P3RM dengan CV Trika-rya Indah selaku pihak ketiga pembuatan sekat antarlos di Pasar Rejowinangun belum juga ada titik temu. Dampaknya, beberapa subkontraktor yang melaksanakan pekerjaan sema-kin merana, karena tagihan me-reka belum juga dibayar.”Kami saat melaksanakan pe-kerjaan pembuatan sekat di-minta cepat-cepat, karena los akan ditempati pedagang yang akan masuk bersama-sama. Yak-ni, dari Pasar Penampungan awal Maret 2014. Namun, pekerjaan yang sudah diselesaikan, belum juga dibayar-bayar karena am-buradulnya data. Kami jelas dirugikan kalau seperti ini,” keluh Fajar Adi Nugroho, salah satu subkontraktor pembuatan sekat antallos Pasar Rejowinangun, kemarin (26/3).
Fajar mengaku ada tagihan Rp 155 juta. Dari total tagihan para subkontraktor sejumlah kurang lebih Rp 600 jutaan minta agar persoalan keuangan juga menjadi agenda pembicaraan saat media-si. Tidak hanya pencocokan data.”Tagihan saya yang sejumlah Rp 155 juta sudah diverifikasi dan hanya dua kios yang masih dipertanyakan. Harusnya kalau data kami sudah diiyakan, ya dibayar dulu. Tidak perlu per-hitungan secara keseluruhan selesai. Karena ini menyangkut tagihan yang sudah setahun le-bih,” imbuhnya.
Ketua Asosiasi Pedagang Pasar Rejowiangun “Rejotama” Nasi-rudin Hadi mengaku hingga kini, proses mediasi belum se-lesai. Karena dari pencocokan data antara P3RM dan Trikarya, baru 330 los yang datanya sama dan sesuai. Masih ada 150-an kios yang belum klop datanya. Sehingga perlu waktu tambahan, untuk kedua belah pihak mela-kukan pembuktian di lapangan.”Kami akan melakukan pem-buktian terbalik terhadap 152 los yang saat ini belum klop datanya. Karena yang datanya sudah klop baru 330 los. Pihak P3RM maupun Trikarya harus bisa membuktikan kalau punya data atas kebera-daan pekerjaan tersebut. Begitu juga subkontrakor,” tegasnya.Dikatakan, awalnya pihak Tri-karya mengklaim melakukan pembuatan sekat antarlos seba-nyak 414 buah. Sedangkan P3RM berkisar pada angka 380 los
“Kalau data dari subkontrak-tor masih berubah-ubah, ka-rena mereka sendiri saling klaim pekerjaan di lapangan. Ada beberapa kios yang diklaim merupakan pekerjaan dua sub-kontraktor. Ini semua karena data amburadul. Baik yang ada di P3RM, Trikarya, maupun subkon,” katanya.Seperti diketahui, proses pen-cocokan data antara CV Trikarya Indah selaku kontraktor pem-buatan sekat antarlos Pasar Rejo-winangun dengan P3RM masih berlangsung. Kegiatan dilakukan sejak Kamis (12/3) dan target selesai pada 20 Maret 2015 dan dilakukan pembayaran ke sub-kontraktor.
Faktanya, meski diperpanjang lima hari dari kesepakatan, pro-ses pencocokan data belum kelar dan pembayaran belum juga dilakukan. Pihak subkon-traktor, baik Fajar maupunSan-to dari CV Mentari Jogja, juga Supeno dan Supardji dari Super Alumunium, termasuk Eko Pri-yono telah mengajukan tagihan”Yang jelas, kami semua berha-rap bisa diselesaikansecepatnya. Karena usia tagihan kami sudah hampir setahun,”keluh Fajar.Sebelumnya, tidak kunjung di-bayar bahan dan biaya pemasangan-nya, subkontraktor mencoba membongkar sekat dan pintu los rolling door yang terpasang di los lantai 2 Pasar Rejowinangun, Fe-bruari lalu. (dem/hes/ong)