DEWI SARMUDYAHSARI/RADAR JOGJA
SANG LEGENDA: Finarsih di Toko Fina Sport miliknya. Selain berbisnis, Finarsih juga aktif membina pemain-pemain muda.

Atlet Juga Harus Punya Mimpi untuk Meraih Prestasi

Tahun 90-an adalah masa-masa kejayaan bulutangkis Indonesia. Atlet Indonesia merajai peringkat dunia, membawa berbagai piala dan medali kejuaraan internasional. Satu di antara mereka adalah Finarsih. Apa kesibukannya sekarang?
DEWI SARMUDYAHSARI, Sleman
SETELAH memarkir motor di bibir lapangan Kentungan, Sleman, banner outdoor bertuliskan Fina Sport pun tertera jelas di depan mata. Tanpa pikir panjang Koran ini melangkah masuk ke took peralatan olahraga di Jalan Kaliurang Km 6,5 B27 ini. Seorang karyawan menyapa ramah, dan langsung menunjuk keberadaan orang yang saya cari. Finarsih masih saja terlihat bugar. Meskipun perhatiannya terpecah, lantaran harus me-ngurus pesanan peralatan olah-raga. “Kesehariannya ya seperti ini. Siang pasti saya di sini. Pagi biasanya kumpul dengan pe-ngurus KONI ataupun PBSI. Baru sore ke klub untuk melatih anak-anak,”ujarnya kepada Radar Jogja kemarin (27/3).
Ya, Fina Sport salah satu kesi-bukan yang dia tekuni selepas menggantung raket atau pen-siun dari bulutangkis. Sejak keputusannya untuk pensiun dari bulutangkis di tahun 1998, Fina pun kembali ke Jogjakarta. Tetapi, karena olahraga ini su-dah begitu mendarah daging, dia pun tak bisa lepas begitu saja dari dunia bulutangkis yang sudah digelutinya sejak kecil. Pemain ganda putri yang sempat berpasangan dengan Lily Tam-pi ini pun disibukkan dengan jadwal latihan di klub.Jayaraya Satria, klub bulutangkis yang belum genap berusia satu tahun ini masih banyak menyita perhatiannya.
Meskipun tidak lagi bermain di lapangan, dia masih menggantungkan mimpi. “Dari klub seperti inilah diharapkan muncul bibit-bibit muda yang nantinya dapat mengembalikan lagi kejayaan bulutangkis tanah air,”ujar wanita kelahiran, Sleman, 8 Februari 1972 ini.Optimisme Fina bukan tanpa alasan. Fasilitas saat ini jauh lebih bagus dari saat dirinya masih men-jadi atlet. Untuk mengasah skill dan kemampuan, turnamen pun sudah sangat beragam. Tetapi prestasi memang tidak bisa didapat secara instan. Atlet bagus pun demikian. Perlu waktu, usaha dan daya juang.
Menurutnya, sistem sekarang memang berbeda dengan yang dulu. Contoh kecilnya soal usia. Dia ingat betul saat masih usia 16 tahun sudah masuk pelatnas. Sehingga saat mengikuti kejua-raan dunia junior, usia 17 atau 18 tahun sudah bisa diasah dan terus digali hingga di usia emas. “Tapi sekarang kebanyakan usia 18 tahun baru masuk pelatnas. Itu sulit se-kali untuk mengejar prestasi juara-juara dunia yang sudah digodok sejak usia 16 tahun,”ujar atlet yang pensiuan di usia 26 tahun ini.
Selain sistem, para atletnya pun juga harus memiliki mimpi dan target. Karena mimpi itulah yang akan membakar semangat juang, sehingga mimpi dapat diraih. Pe-ngalaman inilah yang juga dia bagikan kepada anak-anak asuh-nya. Kalau bisa jangan hanya jadi juara kompetisi lokal, tapi juara nasional, tapi setelah itu punya mimpi jadi juara internasional. “Kita pasti bisa kembali jaya, karena bahannya pun kita mi-liki melimpah. Tapi perlu didu-kung juga oleh pengurus yang juga harus loyal dan tanpa ke-pentingan. Sehingga bersama-sama membuat para atlet bulu-tangkis Indonesia menjadi raja dan ratu lapangan dunia,”ujarnya.
Berbekal mimpi, Fina pun sem-pat menjadi salah satu andalan Indonesia di ganda putrid ber-pasangan dengan Lily Tampi. Dia ikut andil merebut Piala Uber 1994 dari Tiongkok dan kem-bali mempertahankannya 1996. “Saat itu ya seperti mimpi. Tapi itulah mimpi yang akhirnya bisa saya wujudkan. Bagi atlet bulu-tangkis, Piala Thomas dan Uber memang sebuah kebanggaan tersendiri yang tidak bisa disam-akan dengan kejuaraan dunia apapun,”ujarnya. (*/din/ong)