ZAKKI MUBAROK/RADAR JOGJA
LANJUTKAN BISNIS ORTU: Sarjuni, putra kedua Mbah Sumiran sibuk menyelesaikan pesanan replika andong Garudo Yekso di bengkel yang didirikan orangtuanya, kemarin (27/3).

Konsumen dari Jogja, Jabar, Jatim, Hingga Malaysia

Bengkel sepeda, motor, atau mobil, jumlahnya sudah pasti sangat banyak. Itu berbeda dengan bengkel andong, yang merupakan salah satu alat trasportasi tradisional (khas) Jawa. Di Sewon, Bantul ada salah satu bengkel andong yang kondang, Bengkel Andong Mbah Sumiran.
ZAKKI MUBAROK, Bantul
BENGKEL Andong Mbah Sumiran, me-rupakan salah satu dari sedikit reparasi andong yang masih bertahan di Jogjakarta. Berkat jasa tangan-tangan terampil bengkel yang terletak di Randubelang, Bangun-harjo, Sewon ini, kendaraan tradisional Jawa itu, hingga kini masih eksis di Jogja.Mengunjungi bengkel andong Mbah Sumiran, seperti berada di ruang produksi mebeller. Banyak kayu berserakan di berbagai sudut ruangan bangunan yang terbuat dari kayu tersebut. Ukuran bangunan yang berdiri di pinggir jalan kampung itu, juga tak cukup besar untuk sebuah bengkel. Hanya sekitar 4 meter x 7 meter. Bedanya dengan mebeller, di dalam bangunan ini ada pernik-pernik aksesoris andong. Di bagian depan bengkel juga terpampang banner bertuliskan “Bengkel Andong Mbah Sumiran”. Tapi, jangan salah sangka. Meski kecil, bengkel yang berdiri sejak tahun 70-an itu, telah memperbaiki ratusan, atau bahkan ribuan andong di Jogja. “Pendirinya orang tua saya,” terang Widi Rahmanto, pengelola bengkel andong Mbah Sumiran saat ditemui Radar Jogja, kemarin (27/3)
Nama Mbah Sumiran diambil dari pendiri bengkel ini bernama Sumiran. Seiring waktu berjalan, pengelolaan bengkel ini kemu-dian diserahkan kepada anak bungsunya. Yaitu Widi Rah-manto. Sesekali, pria yang be-rusia 70 tahun ini tetap turut ikut menangani.Bersama salah satu kakaknya bernama Sarjuni, ragil dari em-pat bersaudara ini mencoba melebarkan bisnis keluarga yang dirintis orang tuanya itu. Manto, sapaan akrabnya, tak hanya fo-kus menerima reparasi andong. Sejak sembilan tahun silam, Bengkel Andong Mbah Sumiran juga menerima pesanan pem-buatan kendaraan tradisional khas Jawa itu.Seringnya, andong-andong yang biasa beroperasi di wi-layah Malioboro datang ke beng-kel hanya untuk memperbaiki pegas dan roda. “Tak membu-tuhkan waktu lama untuk mem-perbaiki bagian bawah andong tersebut,” ungkapnya.Dikatakan, sejumlah pemilik andong di Jogja telah memiliki bengkel langganan sendiri-sendiri, meskipun jumlah bengkel andong di Jogja yang masih bertahan hingga sekarang juga dapat dihitung dengan jari.”Ada juga yang langganan ke Tamanan (Banguntapan), Jetis. Terus ada juga yang ke Banyakan (Piyungan),” tutur Manto di sela kesibukannya mengawasi proses pembuatan andong.
Para pegawai Bengkel Andong Mbah Sumiran sejak beberapa bulan terakhir tengah sibuk me-nyelesaikan pesanan andong. Ada pesanan empat unit andong. Tiga unit andong merupakan pesanan salah satu instansi pemerintahan di Purwakarta, Jawa Barat. “Yang tiga ini andong jenis biasa. Informasinya, mau dijadikan kendaraan saat acara-acara pe-merintahan tertentu,” jelasnya.Sarjuni menambahkan, ber-beda dengan reparasi, proses pembuatan andong memakan waktu lama. Sedikitnya mem-butuhkan waktu sekitar tiga bulan untuk menyelesaikan satu unit andong jenis biasa. Kenapa begitu lama? Putra kedua Mbah Sumiran ini men-jelaskan, bahwa bengkelnya mengolah sendiri berbagai ba-han dasar andong. Besi misalnya, bengkel menempa sendiri hingga menjadi lekukan-lekukan khas untuk kebutuhan andong. Be-gitu pula dengan kayu. “Untuk rodanya, juga kami buat sendiri. Khusus ban, bia-sanya kami datangkan dari Kla-ten,” jelas Sarjuni.
Satu unit andong lainnya, kata Sarjuni, merupakan pesanan salah satu hotel ternama di Su-rabaya. Proses pembuatan satu unit andong yang ini, memakan waktu lebih lama lagi. Yaitu, se-kitar lima bulan.Menurutnya, jenis andong me-mengaruhi lamanya waktu pem-buatan. Ini karena satu unit andong pesanan dari Surabaya tersebut, merupakan replika Garudo Yek-so. “Karena ada rumahan-ruma-hannya. Sehingga, pembutannya membutuhkan waktu yang lebih lama,” papar Sarjuni.Sehingga tak mengherankan harga satu unit andong replika Garudo Yekso mencapai Rp 150 juta. Ada pun harga satu unit andong jenis biasa sekitar Rp 60 juta hingga Rp 80 juta. “Dalam setahun, kami hanya dapat me-nyelesaikan sekitar lima unit andong,” tambahnya. Dapat dimaklumi, Bengkel An-dong Mbah Sumiran hanya ada lima tenaga kerja. Mereka adalah Sumiran beserta dua anaknya, dan dibantu dua tetangga.Selama sembilan tahun berkiprah, banyak pemesan dari luar kota, luar pulau, hingga luar negeri. “Malaysia juga pernah pesan ke sini,” tutupnya. (*/jko/ong)