HERU PRATOMO/RADAR JOGJA
MASIH MENGANCAM: Tanah longsor yang terjadi di tebing Sungai Winongo yang masuk wilayah Jatimulyo, Kricak, Tegalrejo, Jogja, Kamis (26/3) sore. Selain puting beliung, bencana tanah longsor juga masih mengncam keselamatan warga hingga musim penghujan berakhir.
SLEMAN – Hujan disertai angin kencang yang melanda wilayah Kabupaten Sleman tiga hari berturut-turut, sejak Selasa (24/3) hingga Kamis (26/3), disimpulkan telah menyebabkan kerugian material hingga ratusan juta rupiah. Selain mengakibatkan tiga korban jiwa, dan dua luka-luka, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman mencatat sedikitnya 73 rumah rusak, 400 batang po-hon tumbang, dan puluhan tiang listrik patah setelah disapu angin puting beliung. Total kerugian tersebut tersebar di delapan kawasan, yakni Kecamatan Sleman, Mlati, Nga-glik, Tempel, Turi, Seyegan, Minggir, dan Moyudan. Rumah rusak terdiri atas 60 kategori ringan, 11 sedang, dan 2 rusak berat. “Terbanyak rusak pada Kamis. Total 36 rumah di Sleman, Mlati, dan Ngaglik,” jelas Kepala Pelaksana BPBD Ju-lisetiono Dwi Wasito, kemarin (27/3).Terhadap musibah ini, Pemkab Sleman meng-alokasikan anggaran untuk santunan bagi keluarga korban. Bagi korban meninggal dunia, masing-masing akan mendapat santunan Rp 2 juta. Demikian pula untuk rumah rusak, juga dapat bantuan masing-masing Rp 2 juta
Sedangkan untuk rumah rusak sedang dan ringan, masing-masing mendapat bantuan Rp 1 juta dan Rp 500 ribu. Semen-tara untuk korban rawat inap dibantu Rp 1 juta, dan rawat jalan Rp 500 ribu. “Dana itu sudah ada. Hanya belum ada yang mencairkannya, karena butuh proses,” kata Ju-lisetiono.Proses pencairan bantuan ha-rus dilalui lewat pengajuan oleh kepala desa setempat yang di-ketahui camat. Sebelum ban-tuan disalurkan kepada yang berhak menerima, data peng-ajuan harus diverifikasi oleh BPBD. “Prosedurnya memang begitu,” tandasnya.
Selama tiga hari, Julisetiono mengerahkan ratusan relawan, SAR, TNI, dan Polri untuk meng-inventarisasi kerusakan bangunan pemukiman. Selanjutnya, tim gabungan memprioritaskan penanganan pohon tumbang. Terutama yang melintang dan menutup akses jalan. Sementara itu untuk bantuan logistik dan terpal, sudah disa-lurkan beberapa jam setelah kejadian rumah rusak. Karena cuaca ekstrem belum bisa diprediksi kapan berhenti, Julisetiono mengingatkan ma-syarakat selalu waspada. Pemi-lik pohon yang sudah tua di-minta segera menebangnya. Atau setidaknya memangkas ranting yang dianggap membahayakan. Misalnya, ranting yang meny-entuh kabel listrik.Untuk keperluan itu, BPBD melibatkan Badan Lingkungan Hidup (BLH) untuk inventari-sasi pohon yang diangap ber-bahaya.
Seperti diketahui, tiga korban tewas akibat musibah puting beliung ini, antara lain Tanti Yuliana,54, Theresia Widiastuti, 40, dan Maria Magdalena Suki-lah,30. Ketiganya menghembus-kan nyawa akibat tertimpa rerun-tuhan atap dan tembok dapur di rumah milik Sutadi, 60, warga Gondang, Tambakrejo, Tempel pada Rabu (25/3). Saat kejadian, ketiganya sedang bercengke-rama sambil memasak untuk keperluan katering.Di bagian lain, bencana puting beliung yang melanda DIJ dan sekitarnya, tahun 2015 ini, men-galami peningkatan daripada tahun sebelumnya. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIJ mencatat, dibandingkan tahun lalu, ben-cana angin kencang ini, me-ningkat dua kali lipat. “Kami imbau masyarakat untuk was-pada. Puting beliung tahun ini lebih merata di semua daerah,” kata Kepala BPBD DIJ Gatot Saptadi, kemarin (27/3).
Gatot menuturkan, tahun lalu, bencana puting beliung hanya terjadi di Prambanan, Sleman saja. Tahun ini, di Sleman merata dari Ngaglik, Tempel, Turi, Godean, dan Sayegan. Kemudian, terjadi Kota Jogja, Bantul, dan Kulonprogo. “Ku-lonprogo di Sentolo. Bantul di Sedayu. Saya juga heran, ka-rena tahun lalu di kedua daerah itu tidak terjadi,” jelasnya.Selama musim pancaroba, lanjut Gatot, bencana puting beliung memang paling rentan terjadi. Ini karena adanya peru-bahan musim dari penghujan ke kemarau. “Kemudian ditam-bah dengan perubahan iklim. Sangat berpengaruh,” lanjutnya.
Puting beliung ini, menurut Gatot, tiap tahun memang sel-alu terjadi di DIJ. Hanya saja, peristiwanya fluktuatif. Beber-apa tahun yang lalu dari penga-matannya, puting beliung tak rata seperti tahun ini. Kejadian-nya pun tak menimbulkan dam-pak kerusakan yang parah. “Tapi tahun ini, yang meninggal ada tiga dan dua mengalami luka-luka. Kerusakan rumah juga cukup banyak,” tandasnya.Kepala Seksi Data dan Infor-masi BMKG DIJ Teguh Prasetyo mengakui, musim pancaroba tahun ini lebih sering terjadi puting beliung. Hembusan angin kencang ini memiliki ke-cepatan 50 kilometer per jam. “Pancaroba ini biasanya disertai dengan anginkencang,” katanya.
Menurut dia, pada saat pan-caroba, biasanya pergantian suhu jugadrastis. Siang panas, menjelang sore hujan. “Sebelum hujan biasanyadisertai dengan angin kencang. Yang terjadi di Sleman kemarin jugademikian,” ujarnya.Teguh mengungkapkan, kece-patan angin pada masa panca roba tergolongkencang, yakni berki-sar 40-45 kilometer per jam. “Ke-cepatannyatergolong kencang, bisa merobohkan pohon, tiangbahkan rumah,” ungkapnya.Dia meminta kepada warga untuk meningkatkan kewaspa-daan. Langkahpreventif yang bisa dilakukan antara lain tidak berteduh di bawahpohon rindang atau bangunan yang rawan am-bruk. “Sebaiknya jugamenghin-dari bepergian,” imbuhnya.

TANAH LONGSOR

Selain pohon tumbang, dalam masa pancaroba saat ini, po-tensi bencana lain yang bisa terjadi adalah tanah longsor. Seperti yang terjadi di tebing Sungai Winongo yang masuk wilayah Jatimulyo, Kricak, Te-galrejo, Jogja, Kamis (26/3) sore.Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja Agus Winarto meminta warga yang tinggal di bantaran sungai, yang melintasi Kota Jogja, untuk waspada dan me-mantau kondisi tebing.
Jika ada perubahan, seperti retakan tanah atau sejenisnya, segera dilapor-kan ke BPBD Kota Jogja. “Warga yang tinggal di sana tentu lebih mengetahui kondisi wilayahnya. Setiap ada peruba-han, kami minta segera dilapor-kan,” katanya, kemarin (27/3).Agus menambahkan, relawan dan pengelola kampung tangguh bencana juga diminta mening-katkan kewaspadaan. Belajar dari kasus di Jatimulyo, Agus mengimbau masyarakat untuk memperhatikan kondisi talang rumah yang diarahkan ke lo-kasi yang aman, tidak langsung dibuang ke tanah. “Penyebab longsor tidak hanya karena air hujan, juga bisa ka-rena di sana sudah jenuh, atau sebelumnya sudah terjadi reta-kan,” terangnya.
BPBD Kota Jogja sudah me-metakan beberapa lokasi lain yang juga rawan terjadi longsor, seperti wilayah di tebing Sungai Gajah Wong di wilayah Gambiran, dan Kotagede yang memiliki tebing curam dan tinggi.Terpisah, Kepala Bidang Peng-airan dan Drainase Dinas Pemu-kiman dan Prasarana Wilayah (Kimpraswil) Kota Jogja Aki lUk-man mengaku sudah menerjun-kan tim untuk melaku kan penge-cekan di lokasi longsor an. “Se-telah ada laporan, segera kami lakukan perbaikan,” terangnya. (yog/eri/pra/jko/ong)