JOGJA – Jelang ujian nasional (Unas), Pemerhati Pendidikan DIJ Prof Wuryadi sebarkan ‘virus’ kejujuran. Virus yang dimaksud, imbauan kepada pihak sekolah dan anak didik atau siswa, agar tidak menggunakan segala cara agar mendapat nilai bagus. Se-bab tujuan dari pendidikan, tak sekadar membentuk siswa men-jadi lebih cerdas, tapi keper-cayaan diri dan pembentukan ka-rakter anak.”Murid harus te-tap belajar dan mengerjakan soal sesuai kemampu-annya. Jangan curang, harus jujur apa adanya, sesuai kemampuan yang dimiliki,” tegas Wuryadi kepada Radar Jogja, kemarin (27/3).
Selain itu, masya-rakat diminta tetap mengawasi sekolah dan guru. Penga-wasan dianggap penting, karena kelulusan seorang siswa kini ada di tangan sekolah dan guru, bukan nilai unas seperti tahun-tahun sebelumnya. Jangan sampai, sekolah dan guru tidak transpa-ran ketika memberikan nilai kepada anak didiknya yang di-nyatakan lulus dan tidak lulus.”Sekolah dan guru harus jujur. Sebab, guru dan sekolah, gerbang utama penentu kelulusan siswa,” tandas Wuryadi
Ia menegaskan, sebagai pe-nentu kelulusan, sekolah dan guru harus bersikap jujur ketika akan memberikan nilai peserta didiknya. Jangan sampai, sekolah dan guru tak jujur atas perolehan nilai yang akan diberikan ke-pada siswa. “Guru juga jangan sampai menebar ancaman kepada anak didiknya. Jika ada guru yang mengancam siswanya, pasti akan menurunkan kepercayaan siswa, dan ini berbahaya untuk masa depan siswa tersebut,” ingat do-sen UNY ini.
Wuryadi mengingatkan, se-gala cara yang dilakukan untuk nilai bagus, sama saja dengan membohongi diri sendiri, dan pihak sekolah tidak perlu malu jika anak didiknya hanya ber-prestasi biasa-biasa saja. “Buat apa jika mendapat nilai bagus, tapi kemudian berurusan dengan hukum. Kalau sampai terjadi, akan mencoreng citra sekolah danb dunia penduidikan pada umumnya, ” tegasnya.Wuryadi juga mengapresiasi kebijakan pemerintah yang me-nyatakan unas tidak lagi men-jadi penentu kelulusan. Namun demikian, untuk mendapatkan sistem pendidikan yang baik dan mencetak generasi bangsa yang bagus, kebijakan pemerintah saat ini terhadap sistem kelulusan siswa masih perlu dievaluasi.
“Di Eropa, penentu siswa layak lulus dan tidak lulus, adalah guru, bukan sekolah atau pemerintah. Sebab, guru lah yang mengetahui kualitas dan keseharian siswa ketika belajar di sekolah. Bukan ke-pala sekolah atau pemerintah,” terang anggota Dewan Pendi-dikan Jogjakarta ini.Menurutnya, pendidikan tidak sekadar membentuk siswa men-jadi lebih cerdas. Ada kepen-tingan yang lebih besar di balik pendidikan, yaitu membentuk manusia yang percaya diri, jujur, peduli terhadap orang lain.”Jadi, pendidikan itu tidak semata-mata nilai dan ilmu, tapi percaya diri dan pemben-tukan karakter anak,” jelasnya. (mar/jko/ong)