FRIETQI SURYAWAN/RADAR JOGJA
SIAP: Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu didampingi Ketua Umum FKPPI Pontjo Sutowo saat pembukaan Munas FKPPI di Akmil Magelang kemarin (28/3).
MAGELANG-Tahun 2015 menjadi tahun kebangkitan Forum Komunikasi Putra-Putri Purnawirawan TNI/Polri Indonesia (FKPPI) dan Generasi Muda (GM) FKPPI. Tekad ini ditunjukkan dengan keinginan kedua organisasi ini untuk melebur dalam Musyawarah Nasional (Munas) yang digelar hingga hari ini di Kompleks Akademi Militer (Akmil) Magelang. Munas dibuka Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu. Menurut Ketua Panitia Munas Hans Silalahi, dua raga yang saat ini ada di FKPPI, yakni GM FKPPI dan Keluarga Besar FKPPI, harus bisa menjadi satu. Ini menjadi salah satu semangat munas kali ini. Munas dihadiri 3.375 orang. “Mereka adalah peserta munas dan peninjau,” kata Hans kemarin (28/3).
Menurut Hans yang juga menjabat sebagai ketua GM FKPPI, peleburan ini nantinya akan memperkuat dan mempercepat eskalasi konsolidasi dari tingkat rayon sampai pusat. Selain itu juga menghimpun kekuatan anak-anak tentara dan polisi ke dalam FKPPI. Selain itu diupayakan sinergis dan komunikasi dengan pembina TNI-Polri. FKPPI adalah barisan terdepan keluarga besar tentara dan polisi yang menjadi gerak juang TNI-Polri. “Kami bangga karena munas bisa diselenggarakan di Akmil yang notabene kawah candradimuka bagi para pemimpin TNI maupun negara,” tuturnya.
Munas ini merupakan kelanjutan dari Rakornas FKPPI dan Generasi Muda FKPPI di Manado, 13 Februari 2015 lalu. Saat itu, Ketua Umum FKPPI Pontjo Sutowo dan Hans Silalahi sepakat untuk meleburkan organisasi ini menjadi satu. Mereka kembali pada semangat khitah pembentukan FKPPI tahun 1978.Hal ini untuk memperkuat organisasi menjadi solid, kuat dan militan. Ini merupakan munas bersejarah, setelah FKPPI lahir pada 1978. Maka pada Munas III yang berlangsung di Magelang tahun 1987, di Kompleks Akmil ini juga, FKPPI yang awalnya bernama Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan Indonesia, berubah menjadi Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan dan Putra Putri ABRI. “Sehingga tempat ini sungguh bermakna,” jelas Potjo Sutowo dalam pidato pembukaannya.
Pontjo menegaskan, munas kali ini bukan sekadarnya. Karena pihaknya memberanikan diri untuk melakukan evaluasi terhadap kehidupan berbangsa dan negara. Terutama kekhawatiran terhadap adanya dua kekuatan besar yang saat ini hidup di Indonesia. Yakni satu kekuatan yang tidak peduli dengan Pancasila dan UUD, juga jeritan masyarakat kecil.”Satu pihak lagi merupakan bagian masyarakat yang terus peduli dan membangun komitmen yang tinggi terhadap Pancasila serta UUD. FKPPI terbentuk demi tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia juga Pancasila dan UUD,” tegasnya.
Menhan sepakat memilih Kompleks Akmil sebagai tempat munas. Karena Akmil merupakan tempat lahirnya para pemimpin bangsa, juga lambang bersatunya TNI. “Silahkan secara per-orangan anggota FKPPI mau kemana saja. Tetapi FKPPI tetap satu. Juga tetap netral,” ujarnya.Menantu mantan Wapres Try Sutrisno tersebut menyindir soal keberadaan koalisi yang ada di ranah politik. “Silahkan ada merah putih. Memang hanya mereka yang merah putih. Juga yang mengaku Indonesia hebat. Emang hanya mereka yang hebat. Biarkan mereka ribut. Kita tidak usah ikuti dan dengarkan mereka. Ini sudah tidak jelas. FKPPI harus satu. FKPPI harus jelas. Bagaimanapun saya juga anak tentara,” tegasnya.
Pembukaan munas dihadiri juga beberapa Gubernur Akmil Mayjen Sumardi, pimpinan TNI, pejabat daerah dan lainnya. Menhan yang semula hanya berbatik coklat, diberi seragam FKPPI bertuliskan Ryamizard, saat tiba di Gedung Lily Rochli Kompleks Akmil, yang digunakan sebagai tempat pembukaan. Ren-cananya, munas akan ditutup hari ini oleh KASAD Jenderal Gatot Nurmantyo. Sebelum penutupan, peserta akan melakukan kegiatan di Puncak Gunung Tidar dan Lapangan Sapta Marga. (dem/din/ong)