DWI AGUS/RADAR JOGJA
NUANSA ABSURD: Yumaya Dika lebih selektif dalam menonton film seperti film dengan konsep thriller hingga yang bernuansa absurd. Dia cenderung memilih film yang sesuai dengan karakternya.
FILM tidak hanya menjadi sebuah hiburan bagi seorang Yumaya Dika. Bagi dara manis ini, film memiliki makna yang lebih. Dari sebuah film, dia bisa belajar tentang makna kehidupan. Hingga beragam budaya bangsa lainnya yang diusung dalam sebuah film.Meski begitu tidak semua film menjadi objek tontonannya. Dika, sapaan akrabnya, lebih selektif dalam menonton film. Seperti film dengan konsep thriller hingga film yang bernuansa absurd. Meski terlihat aneh, Dika benar-benar menemukan jati dirinya dalam film yang ditontonnya.”Kalau menonton film harus ada yang bisa diambil maknanya. Jadi enggak hanya menonton film saja, tapi ada yang bisa didapat. Lebih suka memilih film yang sesuai dengan karakter pribadi,” ungkapnya ditemui belum lama ini (26/3).
Dara kelahiran Jogjakarta 28 Juli 1989 ini mengaku, kurang begitu menyukai beberapa genre film. Seperti film ber-genre science fiction atau yang mengadaptasi cerita komik. Bagi-nya film-film ini meski memiliki nilai hiburan namun tidak ada petuah yang bisa dipetik.Satu hal lagi yang tidak dia suka dari sebuah film yaitu sebuah alur yang terkesan dipaksakan. Seperti bagaimana sebuah film berakhir bahagia. Meski dalam realitas kehidupan, akhir yang bahagia tidak selamanya bisa ditemui.”I don’t like movie with happy ending, karena rasanya enggak nyata aja. Kadang kenyataan tidak berakhir dengan indah. Belajar kehidupan tidak harus dengan akhir yang indah, kadang jatuh pun membuat kita belajar,” ungkap alumnus Jurusan Hubungan Internasional UPN Veteran Jogjakarta.
Meski menonton beragam film dengan tipikal mikir, Dika tidak mudah terpengaruh. Dalam berbagai kasus kerap terjadi film dapat mempengaruhi penontonnya. Hal ini ternyata tidak mempengaruhi Dika. Ini karena Dika menganggap film hanya sebagai tontonan. Selain itu, dalam memilih film dirinya cenderung menonton yang sesuai karakter dirinya. Cara selektif ini diakui dapat membuat lebih mood saat menonton film pilihannya.
Dari seluruh film yang pernah ditontonnya, Dika memiliki sebuah film favorit. Film berjudul Boys Don’t Cry karya Kimberly Peirce menjadi favoritnya sepanjang masa. Ini karena film yang dirilis tahun 1999 ini memiliki kedekatan secara emosional.”Pemerannya Hilary Swank memerankan tokoh tomboi. Waktu SMA dulu saya dandannya emang tomboi, jalan ceritanya juga menarik,” kenangnya.Ada juga film yang berjudul Rashmon film Jepang tahun 1950 yang disutradarai oleh Akira Kurosawa. Film ini terbilang tua karena masih dalam format hitam putih. Dua film ini merupakan bagian kecil dari film yang ada di hardisk miliknya. (dwi/ila/ong)