DWI AGUS/RADAR JOGJA
TETAP EKSIS: Ki Eko Suryo dalam pementasan wayang kulit dengan lakon Dumadine Sareyan Imogiri di pendopo Tembi Rumah Budaya, Senin (23/3) lalu.

Kesempatan Pentas, Tak Sebanding dengan Jumlah Dalang

Empat tahun berdiri (dibentuk 11 Maret 2011), Paguyuban Dalang Muda Sukra Kasih Jogjakarta, telah menaungi puluhan dalang-dalang muda. Sedikitnya 70-an dalang muda telah bergabung dengan paguyuban ini.
DWI AGUS, Bantul
SENIN malam (23/3) lalu, pendopo Tem-bi Rumah Budaya dipadati warga. Malam itu, menghadirkan pentas Wayang Babad dengan dalang Ki Eko Suryo. Pria yang men-jabat sebagai Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Jogja tersebut, memba-wakan lakon Dumadine Sareyan Imogiri. Pementasan wayang kali ini bukanlah pe-mentasan biasa. Wayang Babad dihadirkan sebagai wujud syukur empat tahun berdi-rinya Paguyuban Dalang Muda Sukra Kasih Jogjakarta. Pementasan wayang menjadi tonggak, bahwa Sukra Kasih, siap mengawal kesenian wayang di Jogjakarta.
Ketua Sukra Kasih Ki Gondo Suharno meng ungkapkan, dunia pewayangan di Jog jakarta mulai memasuki masa yang ce-rah. Ini terbukti dengan lahirnya beberapa dalang muda. Tidak hanya dari perguruan seni, juga individual pelestari seni peda-langan.”Semakin ke sini, perkembangannya cukup menggembirakan. Meski lonjakan tidak seperti disiplin ilmu lainnya, sudah bisa meregenerasi kesenian tradisi ini. Selain mewadahi, Sukra Kasih juga memberikan kesempatan pentas para dalang-dalang muda ini,” katanya.Menurut Ki Gondo, regenerasi dalang tidak hanya dengan menampung. Juga menam-pilkan kemampuan dalam mendalang di depan khalayak umum. Dengan cara se-perti itu, kemampuan setiap dalang men-jadi lebih terasah.Di Jogjakarta, jumlah dalang muda cukup banyak. Sayangnya, kesempatan untuk pentas, tidak sebanding dengan jumlah dalang. Sehingga perlu diadakan secara mandiri untuk pementasan dalang-dalang muda
“Potensi semakin bertambah, namun tempat untuk memen-taskannya masih kecil. Untung-nya tahun-tahun ini beberapa instansi, baik dinas pemerinta-han maupun swasta, mulai mem-berikan ruang. Ini sangat bagus untuk meregenerasi potensi-potensi ini,” ungkapnya.Ki Gondo juga menyebutkan dunia persaingan saat ini yang semakin ketat. Terlebih dunia hiburan yang mulai menggeser seni pertunjukan, khususnya tradisi. Untuk menghadapi hal ini, perlu ada inovasi dan krea-si dari dalang – dalang muda ini.Menurutnya, kondisi saat ini sudah memasuki era yang sang-at maju dan berkembang. Era serba digital, elektrik dan instan ini dapat menyebabkan iklim pertunjukan wayang kulit menu-run. Namun seorang dalang wa-jib mengikuti dinamika yang ada.
Penyesuaian dinamika ini menu rutnya, wajib dilakukan tanpa harus kehilangan jati diri. Sehingga akar tetap dipegang, namun fleksibel mengikuti arah perubahan. Apa lagi selera pe-nikmat pertunjukan wayang, selalu berubah setiap tahapan waktu.Salah satu hal yang dilakukan adalah mengikuti dinamika ma-syarakat. Ini bisa diwujudkan dalam konsep pertunjukan yang diusung. Selain itu, bisa mene-rapkan konsep jemput bola. Se-hingga kesenian wayang kulit tetap ada dan tidak tergerus zaman.”Terbukti bahwa pertunjukan wayang kulit tetap dapat berta-han, walaupun harus bermeta-morfosa. Kita juga menggunakan media sosial untuk publikasi, dan ini sangat efektif. Jemput bola dengan membuat proposal tidak salah, tapi juga jangan menghilangkan tata krama dan tetap membawa diri,” paparnya.
Lebih lanjut, Ki Gondo meng-ungkapkan, keberadaan Paguyu-ban Sukra Kasih bertujuan men-jalin kerukunan antardalang muda Jogjakarta. Ini terwujud dalam menjalin komunikasi budaya, diskusi seni, melakukan penelitian, berproses pakeliran, dan karawitan.”Sehingga tidak hanya berkar-ya dalam wujud pergelaran wa-yang kulit, juga ada wujud ekspe-rimen wayang jenis yang lain,” tuturnya. Semua ini, lanjutnya, terwujud dalam semboyan Menjalin Ikatan Emosional dan Berbagi, Hilangkan Fanatisme dan Egoisme.”Menjaga dan melestarikan wujud pakeliran gagrag Jogja-karta dengan mengusung dina-mika. Paguyuban Sukra Kasih juga tidak bermaksud merusak tata nilai pakeliran yang sudah ada. Namun bagaimana bersan-ding dan saling mengisi antara yang tradisi dan yang kreasi,” paparnya.
Impian Sukra Kasih, masih panjang. Terutama dalam men-ciptakan sinergi positif antarse-mua pihak yang berkompeten di dunia pedalangan. Muara dari semua itu, terwujudnya sebuah perubahan cara berfikir, sehingga menghasilkan karya pakeliran yang indah untuk di-nikmati.Meski mulai tertata dengan baik, ada beberapa catatan ten-tang regenerasi. Salah satunya, belum terdatanya potensi dalang muda di wilayah Gunungkidul dan Kulonprogo. Meski Ki Gon-do yakin kedua tempat ini pro-duktif, namun belum bergabung dalam Sukra Kasih.”Belum bergabung hingga saat ini, tapi saya yakin regenerasi sudah berjalan. Tapi setidaknya jika bergabung, bisa bertukar ide tentang dunia pewayangan ini. Apalagi setiap daerah me-miliki perbedaan gaya dan tra-disi. Inilah yang membuat untuk saling mempelajari,” pungkasnya. (*/jko/ong)