DWI AGUS/RADAR JOGJA

MILA ROSINTA TOTOATMOJO

TARI merupakan dunia yang tidak bisa diting-galkan Mila Rosinta Totoatmojo. Wanita kelahi-ran 15 Mei 1989 ini, memiliki beragam impian dalam dunia tari. Salah satunya ingin mendiri-kan sebuah studio tari di Jogjakarta
Keinginannya untuk mendiri-kan studio tari tersebut, berawal dari mimpi yang sederhana. Di mana dirinya ingin melihat ba-gaimana ragam tarian di Jogja-karta dapat berkumpul dalam satu tempat. Jogjakarta yang terkenal sebagai Indonesia mi-ni, menurutnya menyimpan kekayaan dalam bidang seni, khususnya tari.
“Jogjakarta memiliki ragam komunitas tari dengan disiplin yang berbeda-beda. Sehingga menyebabkan terkotak-kotak dan berkembang sendiri. Lalu saya berpikir kenapa tidak me-wadahi ragam tari ini dalam satu tempat,” katanya saat dite-mui di studio tarinya, daerah Wisata Kuliner Kampung Pring-wulung, Sleman (27/3).
Studio tari yang rencananya diresmikan pertengahan April mendatang, akan mengajarkan ragam jenis tari. Mulai dari tari tradisi gaya Jogjakarta, Sunda, Sumatera, Bali, hingga tari kre-asi baru dan kontemporer. Ada pula tari Hip-Hop, K-Pop, Tari Caha-caha, Salsa, Line, kelas Yoga, dan Olah Tubuh.Menurut alumnus ISI Jogja-karta ini, belajar tari adalah suatu hal yang penting. Selain menjaga kelestarian seni, juga menjaga kesehatan tubuh. Ba-hkan dengan belajar tari, dapat meningkatkan ngrasa dalam jiwa manusia.
Mila mengungkapkan, tari pada zaman dahulu menjadi hal yang wajib untuk dipelajari. Ter-lebih tari tradisi dan gamelan dalam budaya masyarakat zaman dahulu. Sebab, dalam dua ke-senian ini mengandung nilai-nilai kearifan lokal dan khasanah ilmu kehidupan.”Punya impian juga agar setiap masyarakat memiliki jiwa yang seni. Meski tidak harus menjadi seniman, dapat menerapkan nilai-nilai dalam seni ke dalam kehidupan sehari-hari,” ungkap-nya.
Dalam studio tidak hanya dia-jarkan satu disiplin ilmu tari. Beragam disiplin ini dapat mem-buka khasanah dalam dunia tari. Kedepannya dengan konsep ini juga diharapkan akan ada kolaborasi atau eksperimen da-lam bidang seni tari.Menurutnya belajar seni tida-klah terbatas dalam satu ruang. Tujuannya untuk melihat ruang atau khasanah dalam bidang yang lain. Termasuk dalam mem-pelajari tari, menjadi lebih baik jika terbuka dan mau mempela-jari ragam tarian.”Bisa saling melihat perbe-daan yang ada. Selanjutnya bisa menginspirasi dalam berkarya, bisa berkolaborasi dalam satu karya. Jika kita berpikiran sem-pit dan tertutup maka tidak bisa belajar. Menghargai dan melihat perbedaan melalui kesenian tari,” pungkasnya. (dwi/jko/ong)