JOGJA – Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) DIJ I Gede Sudiatmaja SH, tancap gas. Be-lum satu bulan dilantik sebagai Kajati DIJ, dia langsung bikin gebrakan baru dengan membentuk tim Satuan Tugas Khusus Penanganan dan Penyelesaian Perkara Tindak Pidana Korupsi (Satgassus P3TPK). Satgas ini bertugas untuk menangani perkara-perkara korupsi yang telah masuk dalam tahap penyidikan di kejati
“Tugas satgassus untuk perce-patan penuntasan kasus-kasus korupsi yang menjadi pekerjaan rumah kejati,” kata I Gede Sudi-atmaja akhir pekan kemarin.Pembentukan Satgassus merujuk SK Nomor Kep – 065/O.4/Fd.1/03/2015 dan menindakla-njuti Surat Jampidsus No.B-350/F/Fjp/02/2015. Anggota Satgassus sebanyak 23 orang jaksa internal Kejati DIJ bidang pidana khusus, bidang pengawasan, dan bidang tata usaha negara.”Satgassus juga dibentuk di daerah-daerah lain berdasar petunjuk Kejaksaan Agung,” lan-jut pria asal Bali ini.Selain bekerja untuk perce-patan penuntasan kasus ko-rupsi, Satgassus bertugas men-gungkap kasus-kasus korupsi teranyar di wilayah hukum Jogjakarta. “Yang menjadi prio-ritas utama, adalah perkara lama, seperti Pergola, Persiba, dan PLN,” sloroh Asisten Pi-dana Khusus (Aspidsus) Ke-jati DIJ, Azwar SH.
Tugas pokok Satgassus ada dua hal, yaitu menyelesaikan kasus, dan melimpahkannya ke Penga-dilan Tipikor atau menyelesaikan kasus dengan mengeluarkan Surat Perintah Penghentian Penyi-dikan (SP3) atas dasar kurangnya alat bukti.”Acuan kerja berdasar fakta hukum dari alat bukti, profesio-nal dan proporsional, serta eva-luasi. Jika ternyata alat bukti kurang, cenderung perdata, bisa dihentikan demi kepastian hukum,” tandas Azwar.Ditanya adanya kekhawatiran kinerja Satgassus tumpang tin-dih dengan jaksa penyidik pi-dana khusus yang sudah ada? Azwar memastikan tidak akan terjadi gesekan. Sebab, Satgassus dalam kendali langsung oleh kepala kejaksaan tinggi. “Tidak akan. Ini timnya khusus, kerja khusus, tapi tetap satu koordi-nasi dari Kepala Kejati DIJ,” te-gasnya. (mar/jko/ong)