GUNAWAN/RADAR JOGJA
TETAP SEMANGAT: Sutarmin bersama istri dan salah satu anaknya menyiapkan biji jagung untuk ditanam di Sukerjo Rt 02/09, Sambirejo, Ngawen, Sabtu (28/3).

Sutarmin-Sutarmi, Pasangan Keluarga Miskin yang Ingin Tetap Bahagia

Jodoh, rezeki, hidup dan mati, adalah rahasia Illahi. Setiap manusia memiliki takdir masing-masing. Bisa diubah dengan tangan sendiri, namun juga perlu campur tangan pihak lain untuk membantu. Salah satu keluarga miskin yang tengah berjuang membolak-balikkan takdir itu, adalah warga Gunungkidul.
GUNAWAN, Gunungkidul
BELAKANGAN ini hujan terus meng-guyur Kota Gaplek, Gunungkidul. Salah satu rumah di Sukerjo Rt 02/09, Sambirejo, Ngawen, Sabtu (28/3) pagi tampak lengang. Sisa-sisa air terlihgat menggenangi lekukan tanah yang tidak rata.Di perkampungan kecil tersebut, tinggalah sepasang suami istri Sutarmin-Sutarmi yang hidup serba kekurangan. Menempati rumah tak layak huni, mengandalkan roda pereko-nomian dari tangan seorang kepala kelu-arga dari bekerja serabutan, dan cenderung kurang laku tenaganya. Biduk rumah tangga mereka dikaruniai dua orang anak, masing-masing Citra Wi-jilestari,7, dan Adnan Nasrul Ramadani,3. Kedua buah hatinya masih beruntung, ka-rena kedua orang tua mereka tetap berse-mangat menyekolahkannya.
Tentu saja, lagi-lagi, mengingat kehidupan serba terbatas tadi, baik Citra maupun Ad-nan, menyimpan buku pelajaran di tempat kurang aman. Manakala hujan datang, ka-lau tidak buru-buru diamankan, bisa rusak karena terkena air hujan. “Untuk itu iseng-iseng, saya manfaatkan drum sebagai tempat buku sekolah anak, sekaligus dijadikan meja belajar,” kata Su-tarmin. Drum yang dimaksud, adalah drum yang sudah dipotong
Jika untuk menyimpan buku, maka drum tersebut ditaruh menengdah ke atas, lalu ditutup ala kadarnya. Jika dimanfaatkan sebagai meja belajar, semua alat tulis sekolah diambil, lalu drum ditengkurapkan. “Ketika teng-kurap, juga sudah seperti meja bundar,” ungkapnya polos.Memang kondisi ekonomi su-lit tak membuat pasutri tersebut menyerah. Di hadapan anak tercinta, mereka ingin terlihat gagah. Berbekal sepetak lahan garapan, digarap dan hasilnya untuk menyambung hidup.Walau kondisi ekonomi de-mikian berat, Sutarmin-Sutarmi tetap memiliki tabungan. Jangan langsung dibayangkan tabung-an itu berupa uang. Karena, faktanya tabungan yang dimaksud Sutarmin adalah beberapa ekor ayam. Jika sewaktu-waktu men-ghadapi situasi genting, hewan unggas itu dijual. “Untuk memperbaiki rumah tunggu dulu. Rumah ini pening-galan orang tua, pada waktunya akan saya perbaiki juga,” ucapnya.
Sutarmin memang sempat sempat bungah ketika mendengar ada program bedah rumah dari pemerintah. Namun dia tetap harus bersabar, karena hingga sekarang, dia belum mendapat moment itu. Beban hidup yang ditanggung-nya kini semakin berat, apalagi saat ini sang istri tengah berba-dan dua (hamil lagi). “Istri saya sedang hamil 8 bulan,” akunya.
Jika kondisi sudah sulit, semen-tara anak banyak, bagaimana pasutri tersebut menyikapi? Bagi Sutarmin, anak adalah pe-nerus perjuangan. Sedarurat apa pun ekonomi, katanya, harus tetap dihadapi. Untuk urusan hak makan, dengan sangat ter-paksa, Sutarmin setiap harinya memanfaatkan nasi beras yang dikeringkan (nasi aking). “Meski nasi aking, tetap enak,” katanya.Pekerjaan sehari-hari sebagai seorang petani tadah hujan dan buruh tani, membuat Sutarmin selalu memutar otak dan meme-ras keringat yang dalam. Terlebih adanya kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), seperti sekarang ini, biasanya turut mengerek harga kebutuhan lain. “Harga bensin terasa berat ke-tika kami harus berurusan dengan kesehatan keluarga,” katanya.
Urusan kesehatan yang di-maksud, adalah ketika ada ang-gota keluarganya yang sakit dan harus berobat ke kota, atau se-kadar ke puskesmas. “Biasanya, untuk kepentingan kesehatan ini, saya harus minjam kendar-aan tetangga. Dan di situ, tentu saya harus ngisi BBM,” tuturnya.Apa lagi sekarang ini, dia sering membawa istrinya yang sedang hamil tua. Dia sering mengontrol-kan kesehatan istri dan janin yang dikandung. “Belakangan ini memang sering memeriksakan kandungan istri. Dan saat itu pinjam kendara-an tetangga,” lanjut pria yang ting-gal di rumah seluas 6X8 meter ini.Bagi dia, menjaga kesehatan janin adalah mutlak. Suratmin tidak ingin kejadian beberapa tahun lalu terulang. Yakni ke-tika anak pertama lahir prema-ture, karena asupan gizi tidak mencukupi. “Kami terus berju-ang mengubah keadaan,” tegas-nya. (*/jko/ong)