ADIDAYA PERDANA/RADAR JOGJA
HIBURAN SEGAR: Wakil Bupati Zaenal Arifin (kiri) menyerahkan gunungan pada Ki Dalang Seno Nugroho, sebelum pentas wayang kulit dimulai

Bintang Tamu Rabies, Pentaskan Wahyu Katentreman

Pada hari jadi Kota Mungkid tahun ini, para pecinta kebudayaan Jawa kembali mendapat hiburan segar. Panitia yang berasal dari Pemkab Magelang menyuguhkan pergelaran wayang kulit yang digelar di Pendopo Lapangan Drh Soepardi Mungkid.
ADIDAYA PERDANA, Mungkid
ACARA pergelaran wayang kulit semalam suntik menjadi hiburan segar bagi warga Magelang. Suasana meriah dan seperti hujan di tengah musim kemarau, di tengah haus hiburan wayang kulit, masyarakat dibuat tidak beranjak.Kali ini, suguhan pergelaran wayang kulit ini juga mendatangkan bintang tamu, pelawak Rabies. Juga ada Wisky dan Rini Budiarti yang tidak mau ketinggalan sebagai bintang tamu dalam pergelaran wayang kulit dengan dalang Ki Seno Nugroho dari Jogjakarta. Ki Seno memilih mementaskan lakon Wahyu Katentreman. Dengan gaya yang khas, clengekan, Rabies tampil habis-habisan untuk mengocok perut penonton. Terutama saat “limbukan” dan “Goro Goro”. Ribuan penonton tidak beranjak hingga penampilannya berakhir.
Pada kesempatan tersebut, Ki Dalang Seno Nugroho menyampaikan, Wahyu Ketentreman menceritakan kehidupan para Pandawa. Mereka bersedih, karena negaranya dilanda bencana yang tidak kunjung hilang. Sementara, ungkap Ki Seno, Kresna sebagai penasehat Pandawa menegaskan, ke kacauan negaranya diakibatkan hilangnya pusaka negara. Yaitu Jamus Kalimasada yang dicuri Abimanyu.Raden Werkudoro dan Raden Janaka yang mengetahui hal tersebut marah. Mereka bergegas berangkat ke Tanjung Anom untuk menangkap dan memberi pelajaran Abi-manyu. Hal ini juga membuat gempar seluruh negara termasuk putra- putra Pandawa juga ikut mencari Abimanyu. Hanya Raden Antasena dan Antareja yang masih berpikir jernih mengingat Abimanyu tidak pernah bertindak yang tidak benar.Karena itu, keduanya menyelidiki kebe-naran berita yang disampaiakan Prabu Kresna itu
Kresna tidak bisa mengelak ketika berhadapan dengan Raden Antasena dan Antareja. Sehingga kecurigaan keduanya memuncak dan menghajar Prabu Kresna hingga berubah menjadi Begawan Durna. Karenanya, terkuaklah kebusukan Durna atas perintah Duryudana.Semula, Abimanyu yang disang-ka mencuri sempat dihajar. Bahkan, ia akan dibunuh orang tuanya sendiri. Karena keiklasan serta ketabahan menerima fitnah dari Begawan Durna, akhirnya ia justru mendapat Wahyu Katentreman dari dewata.Sdangkan Raden Antasena serta Antareja berusaha men-jernihkan suasana dengan mem-bawa bukti, Begawan Durna telah diikat dan dipukuli sebagai hukuman telah menjadi provo-kator serta pemicu rusaknya kerukunan keluarga Pandawa.”Pergelaran wayang kulit ini dalam rangka Peringatan HUT ke-31 Kota Mungkid.
Selain itu juga untuk melestarikan budaya luhur, serta memberikan hiburan pada masyarakat Kabupaten Magelang,” kata Sekertaris panitia HUT ke-31 Kota Mungkid Edi Wasono.Menurut Edi, sebelum pemen-tasan wayang, juga telah dipen-taskan kesenian Ketoprak di Gedung TIC Borobudur, ke senian daerah, serta berbagai kegiatan guna mengisi rangkaian Hari Jadi Kota Mungkid. Sebelum pergelaran wayang Kulit dimulai, Wakil Bupati Ma-gelang Zaenal Arifin menyerah-kan hadiah dan penghargaan pada para pemenang lomba lomba yang diadakan guna me-meriahkan hari jadi Kota Mungkid.Selain itu juga, Zaenal juga menyerahkan gunungan pada dalang Ki Seno Nugroho. Pada malam tersebut, panitia juga menyediakan makan berupa bakmi, nasi goreng, serta wedang ronde sebanyak 1.500 porsi bagi masyarakat. Semuanya diberikan cuma-cuma. (*/hes/ong)