Ganjar Pranowo
MAGELANG – Tapal batas wilayah Kota dan Kabupaten Magelang hingga kini masih jadi sengketa. Kendati seringkali dimediasi Pemprov Jawa Tengah, faktanya dua daerah ini belum menemui titik terang. Tidak heran bila ini menjadi salah satu perhatian Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.Ganjar menilai, wilayah Kabupaten Ma-gelang punya beban yang cukup banyak. Ini dilihat dari banyaknya kecamatan dan daerah yang luas dibandingkan wilayah Kota Magelang yang hanya punya tiga ke-camatan. Karenannya, dengan membagi beban dengan Kota Magelang, ia meyakini mampu memberi dampak positif terhadap masyarakat.”Saya kira memang (Kota Magelang) perlu ditambah. Sementara Kabupaten Magelang bebannya (wilayah) terlalu kebanyakan. Mbok itu yang dekat-dekat dikasih saja. Rakyatnya juga akan senang,” kata Ganjar usai memimpin musyawaran perencanaan pembangunan (Musrenbang) se-Karesidenan Kedu, di Gedung Bakorwil II, Kota Magelang, Jumat (27/3).
Saat ini, Pemprov Jawa Tengah melayang-kan persoalan ini pada pemerintah pusat. Dengan harapan, keputusan soal penegasan batas wilayah antara Kota dan Kabupaten Magelang segera ditetapkan.Saat ini, lanjut Ganjar, permasalahan dua wilayah yang bersangkutan sudah dikirim ke pusat. Ia mendesak pemerintah pusat segera memberi keputusan dan kejelasan.”Sudah rembugan sebenarnya antara dua Magelang ini, tapi mentok. Saya pasrahkan saja ke pusat (pemerintah pusat), supaya segera diputuskan batas-batasnya,” imbuhnya
Soal mediasi, papar Ganjar, pihaknya cukup getol mem-fasilitasi Pemkab dan Pemkot Magelang selama ini. Hanya selama itu, hasil mufakat tidak pernah tercapai.”Saya sudah kumpulkan Pak Bupati, Pak Wali Kota. Saya beri kesempatan mereka, tapi ternyata enggak bisa ngalah. Oke, kami bawa ke pemerintah pusat. Tolong segera (pemerintah) pusat putuskan. Nanti kalau enggak mau ke BPN (Badan Pertanahan Nasional) juga boleh kok,” tandasnya.Solusi lainnya, Ganjar minta pada pemkab dan Pemkot Magelang membicarakan masalah ini dengan masyarakat. Terlebih, warga yang berada di titik abu-abu tersebut.”Mungkin masyarakat juga perlu diajak bicara soal ini. Magelang dengan Magelang gitu. Biar ada kejelasan, seperti apa sih yang diinginkan ma-syarakat,” tegasnya.
Peseteruan klasik garis batas antara pemkab dan Pemkot Magelang belum terselesaikan sampai sekarang. Ini membuat Pemprov Jateng getol menjadi penengah dalam memfasilitasi mediasi kedua daerah ini. Harapannya, ada solusi terbaik yang bisa diterima keduanya.Plt Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Magelang, Agung Trijaya menegaskan, lambannya proses penyelesaian tapal batas, karena kota dan Kabupaten Magelang punya pedoman yang berbeda. “Kabupaten punya versi sendiri. Demikian juga dengan Kota Magelang,” ujarnya.Ia merinci beberapa kawasan yang masih jadi sengketa berada di sisi selatan Kota Magelang dengan Kecamatan Mertoyudan. Antara lain di Desa Mertoyudan, Bulurejo, dan Banyurojo. Selain tiga desa tersebut, Agung menegaskan tidak ada persoalan lagi.”Untuk tiga desa yang berada di selatan, masih tarik ulur dan belum ada ketegasan. Tapi yang titik lain tidak ada masalah,” papar mantan Asisten Pemerintah Kabupaten Magelang ini.
Saat ditanya soal dukungan terhadap wacana perluasan bila direalisasikan Pemkot Magelang, Agung minta agar ketegasan batas diselesaikan terlebih dahulu. Wali Kota Magelang Sigit Widyonindito juga enggan ber-komentar terkait persoalan tapal batas daerah antara Kecamatan Magelang Selatan dengan Ke-camatan Mertoyudan. Ia hanya tersenyum saat sejumlah awak media menanyakan perihal tapal batas. (dem/hes/ong)