FRIETQI SURYAWAN/RADAR JOGJA
ANGGOTA KEHORMATAN: Penutupan munas dilakukan Jenderal TNI Gatot Nurmantyo. Ia memberi arahan soal gotong royong dan proxy war.
MAGELANG – Melalui musya-warah nasional (munas) selama dua hari di Akademi Militer (Akmil) Magelang, dua organisasi yang membawa bendera Forum Komunikasi Putra-Putri Purna-wirawan TNI/Polri Indonesia (FKPPI) akhirnya bersatu. Kedua-nya adalah Ormas atau Keluarga Besar FKPPI dan Generasi Muda (GM) FKPPI. Dua ketua umum organisasi tersebut, Pontjo Sutowo dari Ormas dan Hans Silalahi dari GM sepakat membagi peran dalam pucuk pimpinan FKPPI yang sudah bersatu.”Saya sebagai ketua umum dan Bung Hans di ketua harian,” kata Ketua Umum FKPPI Pusat Pontjo Sutowo, Minggu (29/3).
Pontjo secara aklamasi diminta memim-pin organisasi tersebut untuk lima tahun ke depan.Dikatakan pria yang juga menjabat ketua umum sejak 2004, penyatuan “Dua Raga Satu Jiwa” tersebut bagian dari komitmen FKPPI untuk bisa lebih berperan nyata dalam ke-hidupan berbangsa dan bernegara. Terutama membangun Indonesia dengan semangat gotong royong dan persatuan.”Kami lebih menampung dan mengakomodir kader berpotensi dalam kepengurusan kali ini,” paparnya.
Pontjo menegaskan, pihaknya tetap memberi kebebasan pada kepengurusan tingkat daerah maupun rayon untuk membentuk kepengurusan.”Bisa meniru kami di pusat pembagian pimpinannya. Atau beda juga tidak apa-apa. Kami memberi kebebasan. Yang jelas, kami targetkan dalam tiga tahun sudah bisa selesaikan persoalan ini hingga cabang dan rayon,” tegasnya.
Hans Silalahi berharap, ada keikhlasan dan ketulusan dalam berorganisasi di FKPPI. Tidak hanya melihat kepentingan sesaat atau masa kini. Tetapi selalu berorientasi ke depan.”Soal memimpin semua ada waktunya. Kami ingin lebih berbakti pada bangsa dan negara,” tegasnya.Munas yang dibuka Menhan Ryamizard Ryacudu, pada Sabtu (28/3) merupakan kelanjutan dari Rakornas FKPPI dan Generasi Muda FKPPI di Manado pada 13 Februari 2015.
Saat itu, Ketua Umum FKPPI Pontjo Sutowo dan Hans Silalahi sepakat meleburkan organisasi ini menjadi satu. Langkah itu merupakan semangat khitah pembentukan FKPPI tahun 1978. Harapannya, untuk mem-perkuat organisasi menjadi solid, kuat, dan militan.Secara organisasi, FKPPI menjadi dua organisasi pasca-Musyawarah Luar Biasa (Muslub) pada 12 September 1995. Salah satu keputusannya, merubah nama FKPPI yang selama ini dikenal sebagai Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP) menjadi Generasi Muda FKPPI (GM-FKPPI) dengan tetap melanjutkan masa bakti hingga 1998
Saat bersamaan, dibentuklah wadah baru bernama FKPPI sebagai wadah berhimpun bagi anggota FKPPI yang berusia 40 tahun ke atas. Organisasi ini dideklarasikan pada peringatan HUT ke-17 FKPPI pada 12 September 1995 di Balai Sidang Senayan Jakarta. Saat itu, ketua umum pertama kalinya adalah Bambang Trihatmojo dan Indra Bambang Utoyo (Sekjen).”Sekarang, kami menjadi satu lagi. Kami sudah berintegrasi,” tegas Pontjo dan Hans bersamaan.Penutupan Munas dilakukan KASAD Jenderal TNI Gatot Nurmantyo di Gedung Lily Rochli Akmil Magelang.
Pada kesempatan tersebut, pria yang pernah menjabat Pangkostrad ini memberikan pengarahan soal arti penting gotong royong dan proxy war. Gatot sempat memberikan pertanyaan pada peserta munas, seandainya mereka diberi kesempatan menjadi presiden yang bertetangga dengan Indonesia, tetapi negara yang dipimpin dalam krisis ekonomi, pangan, dan air.”Kita akan rampok dan pecah belah Indonesia. Beri pemuda narkoba.Kemudian kita jajah (Indonesia),” kata salah satu peserta dari Aceh.Dalam kesempatan tersebut, Gatot memaparkan hasil jawaban dari mahasiswa dari 23 universitas yang pernah ditanyakan per-tanyaan serupa. (dem/hes/ong)