HENDRI UTOMO/RADAR JOGJA
CIPTAKAN PELUANG: Proses pembuatan bakso lele di rumah Sukarjo, 45, di Pedukuhan Ploso, Banguncipto, Sentolo, Kulonprogo, kemarin.

Akomodasi Sortiran Terbesar-Terkecil dengan Bakso Lele

Bakso daging sapi, mungkin sudah terlalu biasa kita temukan. Tapi kalau bakso ikan lele, mungkin masih bisa dihitung dengan jari. Salah satunya bisnis bakso lele sedang dikembangkan Sukarjo, 45, warga Ploso, Desa Banguncipto, Sentolo, Kulonprogo. Minggu (29/3) kemarin, Radar Jogja mengunjungi tempat produksi bakso ikan lele tersebut.
HENDRI UTOMO, Kulonprogo
MENGHADAPI kerasnya persaingan usaha, tidak jarang membuat seseorang muncul ide hebatnya untuk membuat pe-luang. Itu juga yang terjadi pada diri, Su-karjo, 45, warga Ploso, Banguncipto, Sen-tolo, Kulonprogo. Puluhan tahun sukses membudidayakan lele, dan berhasil menjadi pemasok puluhan warung pecel lele di sepanjang Jalan Wates wilayah Sentolo, memunculkan idenya un-tuk berinovasi dengan ikan lele. Berawal dari keprihatinannya, terhadap banyaknya sortiran ikan lele saat memenuhi kebutuhan warung-warung pecel lele di Kulonprogo, Sukarjo memiliki ide cemerlang untuk mem-buat bakso dengan bahan baku daging ikan lele.Dalam beberapa tahun terakhir, ikan lele memang memiliki nilai ekonomis yang tinggi, seiring dengan banyaknya pengu-saha warung pecel lele di hampir seluruh kota di Indonesia, termasuk di Kulonprogo.
Sayangnya, ikan yang disajikan di warung pecel lele, biasanya ukurannya sama dari warung tenda yang satu dan dengan warung tenda lainnya. Alasannya jelas, jika terlalu kekecilan, tidak ada konsumen yang mam-pir. Namun jika terlalu besar, usaha akan cepet bangkrut karena rugi. Masalah lain-nya, tidak semua ukuran lele saat dibudi-dayakan bisa tumbuh sama. “Tidak sedikit ikan lele mengalami over size, atau terlalu kecil, sehingga tidak laku saat dijual ke warung makan. Akhirnya saya berkreasi mengolah sendiri menjadi bakso lele,” ungakpnya
Ide awal membuat bakso lele berawal saat dirinya pernah menghadiri acara pemberdaya-an dari pemerintah. Ilmu meng-olah bakso dengan bahan ikan lele merupakan salah satu yang didapatnya dalam pelatihan tersebut.”Akhirnya saya coba praktikkan, mengingat bahan baku sudah ada dan banyak petani atau pembudidaya lele sambat bahwa lelenya kebesaran dan tak laku dijual ke warung pecel lele,” ungkapnya.Proses pembuatan bakso lele sama dengan bakso-bakso lainnya yang berbahan baku daging sapi. “Pro-sesnya sama, cuma ada tambahan putih telur dan tepung,” tuturnya.Bakso lele ini punya kelebihan bertahan lama, bisa bertahan awet hingga satu tahun, ken-dati proses pembuatannya tanpa sedikit pun dicampur ba-han pengawet kimia. Bakso lele dijual Rp 65 ribu per kilogram. “Tanpa pengawet dan bisa tahan lama, itu alah satu keunggulan-nya,” ujarnya.
Hingga saat ini, bisnis mem-produksi bakso ikan lele Su-karjo, kurang lebih sudah ber-jalan tiga tahun. Sejak awal dike nalkan pada 2012 lalu, pe-langgan Sukarjo terus bertambah. “Tiga tahun berlalu, banyak kon-sumen yang tertarik, kemudian menjadi pelanggan kami hingga saat ini,” ungkapnya bangga.Setelah bakso lelelnya berha-sil menarik pelanggan, kendala berikutnya adalah saat menda-pat pesanan banyak. Karena ia sering diminta menghidangkan bakso lele dalam pertemuan atau rapat yang digelar pemerintahan. “Saat ini, saya merasa kuwalahan dan kehabisan tenaga,” katanya.
Dia merasa beruntung bisa menjadi salah satu pengelola Kelompok Asuh Keluarga Bi-nangun (KAKB) Bangun Raos. Dari situ, dia mendapat ban-tuan dari koperasi yang me-naunginya (Koperasi Binangun Sejati). “Sedikit tertolong dengan bergabung di koperasi,” ujarnyaSementara itu, melihat banya-knya permintaan akan bakso lele, membuat Sutarjo kembali berinovasi dengan meluncurkan program 100 gerobak bakso ikan lele. Untuk program tersebut, Sukarjo bersama koperasinya (Koperasi Binangun Sejati) sering menggelar pelatihan pembuatan bakso lele. Sebagai tahap awal, dalam peluncuran program 100 gerobak bakso lele, diawali dengan 20 unit dulu. Dua puluh unit gerobak bakso lele tersebut akan disebar di beberapa wilayah kecamatan di Kulonprogo. “Pembuatan bakso lele ini se-cara tidak langsung menjadi sebuah pertanggungjawaban moral saya kepada anggota kelompok sebagai petani ikan lele. Karena yang laku di warung pecel lele, hanya ukuran ter-tentu, yang over size harus di olah menjadi bakso Lele, sehingga bisa mendatangkan pendapatan,” imbuhnya.
Sekretaris Koperasi Binangun Sejati Sutanto menyatakan, kelompok usaha yang dikelola Sukarjo, merupakan salah satu dari 68 kelompok yang dinaung-inya. Ia mengakui, program 100 gerobak bakso lele itu ide hebat dan menjadi salah satu gebrakan dalam menembus pasar pro-duksi lele yang selama ini sering mentok, saat tidak laku dijual ke warung makan, karena ukuran-nya yang kelewat besar.”Rencananya, bulan ini, pe-nempatan gerobak ada di Wates em pat gerobak, Sentolo (dua ge robak), Nanggulan (satu ge-robag), Lendah (satu gerobag), Kokap (dua gerobag), Temon (dua gerobag), Girimulyo dan Pe ngasih masing-masing satu,” kata Sutanto.Pengadaan gerobak dibiayai koperasi. Sementara pendukung lain akan dilengkapi masing-masing kelompok usaha. Se-cara rinci, modal untuk mem-buat satu gerobak bakso lele Rp 1 juta. “Hasilnya, sesuai tujuan pro gram ini, akan diperuntukkan bagi kesejahteraan anggota. Jika ini berhasil, kami akan perluas pemasaran ke toko modern agar produknya terangkat,” tandasnya.(*/jko/ong)