MAGELANG – Setelah turun kurang dari dua bulan, tarif angkutan umum kota (angkot) di Kota Magelang kembali dinaikkan. Kenaikan yang diberlakukan adalah tarif yang berlaku saat harga bahan bakar minyak (BBM) jenis premium tembus Rp 8.500 per liter pada November-Januari lalu.
Setiap penumpang umum, ditarik Rp 4 ribu dan pelajar Rp 2 ribu. Ini menyusul kenaikan harga BBM Rp 500 per liternya, sejak Jumat (28/3).
Ketua Forum Komunikasi Angkutan Kota Magelang (Forkam) Darsono mengatakan, pemberlakuan tarif saat ini merupakan penyesuaian terhadap kenaikan harga BBM. Ia mengakui, penerapan itu sekaligus menanggalkan SK Wali Kota Nomor 551.2/45/112 Tahun 2015 yang diterbitkan Februari lalu.
“Kami pakai SK yang dulu lagi, waktu penumpang umum Rp 4 ribu dan pelajar Rp 2 ribu. Kenaikan ini hanya menyesuaikan saja, karena BBM dan kebutuhan pokok sudah naik,” tegas Darsono kemarin (30/3).
Ditambahkan Darsono, Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Kota Magelang belum diberitahu soal kenaikan tarif baru itu. Ia mengaku tidak ada pilihan lain. Alasannya, bila pihaknya harus menunggu ketetapan tarif baru dari pemerintah, pasti mereka akan rugi.
“Pedomannya, selain karena fluktuasi harga BBM, harga kebutuhan pokok, juga onderdil kendaraan yang terus membengkak. Tapi, segera mungkin kami akan beritahu Dishub soal kenaikan ini,” janjinya.
Sebelumnya, saat harga BBM naik pada November 2014, tarif angkutan juga menyesuaikan naik dari semula Rp 3 ribu untuk umum menjadi Rp 4 ribu. Sedangkan pelajar, dari Rp 1.500 menjadi Rp 2 ribu per penumpang.
Di sisi lain, saat harga BBM mengalami penurunan pada Januari hingga awal Februari 2015, ini tak langsung direspons awak angkutan umum. Mereka tetap mematok dengan tarif Rp 4 ribu untuk umum dan Rp 2 ribu untuk pelajar.
Forkam berdalih, masih mengacu pada ketentuan SK Wali Kota kala itu. Barulah, pada pertengahan Februari, Pemkot Magelang bereaksi dengan melayangkan SK Wali Kota Nomor 551.2/45/112 Tahun 2015, agar tarif angkutan diturunkan menjadi Rp 3.500 untuk penumpang umum dan Rp 1.750 untuk pelajar. Saat itu, harga premium berkisar antara Rp 6.600 hingga Rp 6.900.
Namun, ketahanan SK tersebut tak berlangsung lama. Terakhir, Jumat (28/3), para awak angkutan dari 12 jalur yang ada sepakat kembali memberlakukan tarif seperti dulu lagi, di saat harga BBM untuk premium dan solar masing-masing naik Rp 500 menjadi Rp 7.400 dan solar Rp 6.900.
Keputusan ini mendapat tanggapan kalangan mahasiswa. Salah satu mantan punggawa Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kota Magelang Tri Ardiyanto. Ia menyatakan, para awak angkutan umum dan Pemkot Magelang sama-sama bersikap tidak konsisten. Ia beralasan, ketika harga BBM turun, mereka tak langsung meresponsnya.
“Beda saat harga BBM naik, enggak perlu ada SK Wali Kota langsung naik. Ini kan tidak konsisten namanya. Parahnya lagi, kenapa pemerintah membiarkan begitu saja. Anggap aturan enggak ada gunanya,” kritik mahasiswa semester akhir Untidar ini.(dem/hes/mga)