GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
DUA BULAN PERCOBAAN: Florence Sihombing mengkuti sidang vonis di Pengadilan Negeri Jogja, kemarin (31/3).
JOGJA – Pengadilan Negeri (PN) Jogja akhirnya menjatuhkan vonis dua bulan kurungan dengan masa percobaan enam bulan penjara dan denda Rp 10 juta subsider satu bulan penjara kepada Florence Sihombing kemarin (31/3). Artinya, bila dalam enam bulan ke depan Flo tidak melakukan tindak pidana, maka ia tidak perlu menjalani hukuman dua bulan kurungan.
“Tapi untuk denda Rp 10 juta, tetap harus dibayar. Bila denda tidak dibayar maka dikenai satu bulan kurungan,” kata Ketua Majelis Hakim Bambang Suwanto SH saat membacakan amar putusan.
Vonis yang dijatuhkan kepada mahasiswa S2 Kenotariatan UGM ini lebih ringan dari tuntutan jaksa. Sebelumnya, jaksa menuntut enam bulan penjara dengan masa percobaan 12 bulan. Florence dinilai terbukti melanggar UU Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) oleh majelis hakim yakni Pasal 27 ayat 3 juncto Pasal 45 ayat 1 UU ITE No 11/2008.
Hakim menilai terdakwa Flo telah menyebarluaskan kalimat bernada menghina dan mencemarkan nama baik warga dan Kota Jogja melalui status di Path pada Agustus 2014. Atas vonis ini, Flo diberikan kesempatan tujuh hari untuk berpikir, apakah selenajutnya mengajukan banding atau menerima putusan itu.
Bambang berharap vonis yang dialami Flo dapat menjadi kontemplasi dan refleksi bagi terdakwa. “Untuk memberikan efek jera,” terang Bambang.
Hal-hal yang meringankan adalah selama mengikuti sidang Flo berlaku sopan, tercatat sebagai mahasiswi aktif, tidak pernah berurusan dengan hukum, dan meminta maaf kepada masyarakat dan Sultan Hamengku Buwono X. “Terdakwa telah meminta maaf kepada masyarakat Jogja,” jelasnya.
Ditemui usai mengikuti sidang, Flo enggan memberikan keterangan kepada wartawan. “Nggak mau,” kata Flo singkat, sambil berjalan menghindari wartawan. Ia terlihat menangis.
Kolega Flo, Wibowo menilai, majelis hakim memutus orang yang salah terkait konten UU ITE. “Kontennya (penghinaan, Red) untuk individu, bukan masyarakat secara umum. Apalagi orang emosi tidak bisa dikatakan menghina,” kata Wibowo, seraya meninggalkan PN Jogja. (mar/laz/ong)