SETIAKY A KUSUMA/RADAR JOGJA
KEHILANGAN : Keluarga dan kerabat melakukan doa usai pemakaman Akseya Ahad Dori di pemakaman keluarga besar TNI AU di Dusun Kradenan, Maguwoharjo, Depok.
SLEMAN- Suasana duka terasa di kediaman Kolonel Sus Murdoto di Jalan Elang 04, Tegalsari, Kalasan kemarin (31/3).Dosen Akademi Angkatan Udara itu baru saja kehilangan putera keduanya. Akseya Ahad Dori,19, yang sedang menempuh kuliah di Jurusan Biologi, Fakultas MIPA di Universitas Indonesia Jakarta.
Remaja yang dikenal santun itu ditemukan tewas di Danau Kenanga, kawasan Kampus UI di Beji, Depok, Jawa Barat pada (26/3). Jenazah korban lantas diterbangkan ke Jogjakarta kemarin pagi. Pemakaman dilakukan di tempat pemakaman keluarga besar TNI AU di Dusun Kradenan, Maguwoharjo, Depok sore harinya.
Keluarga korban tampak terpukul dengan peristiwa nahas yang menimpa Dori. Tak henti-hentinya ibu korban, Karimatul Ummah, terisak mulai rumah hingga pemakaman. Beberapa kali, dosen Fakultas Hukum UII itu menciumi kayu nisan setelah tanah merah diurug ke lubang makam. 

Informasi dari para tetangga, pihak keluarga mendesak polisi mengusut tuntas kasus yang menimpa korban. “Pelaku harus segera ditngkap dan diadili,” ujar Naim, tetangga dekat keluarga korban.
Dori diduga menjadi korban pembunuhan oleh begal. Saat ditemukan polisi, pribadi yang dikenal baik sudah tidak bernyawa. Jasadnya ditemukan mengambang di tengah danau. Tubuh korban terikat sebuah batu pemberat.
Saat pertama kali ditemukan, polisi menduga korban telah meninggal dunia dua hari sebelumnya.
Di mata kawan-kawan sebayanya, korban adalah pribadi yang baik dan pintar. Tak heran, saat pemakaman banyak teman-teman saat SMA hadir melayat.
“Pendiam dan tak banyak ulah. Dia pintar dan supel sejak dulu,” ungkap Mada Nugraha, teman kecil korban. Mada mengaku terkejut dengan nasib tragis temannya itu. (yog/din/ong)