Setiaky/Radar Jogja
TAK LAYAK: Kapolres Sleman AKBP Faried Zulkarnaen menginterograsi pemilik pabrik Nata de Coco Danang Ari Prasetyo saat penggerebekan kemarin (31/3).

Dicampur Pupuk ZA, Bahayakan Konsumen

SLEMAN – Sebuah tempat usaha pembuatan Nata de Coco di Desa Sidomulyo, Godean, kemarin (31/3) digerebek polisi dari Polres Sleman. Usaha rumah tangga yang menempati bangunan gedung bekas SD Semarangan 3 itu ditutup paksa aparat karena diduga melakukan praktik ilegal.
Polisi menduga, dalam proes pembuatan Nata de Coco, pemilik mencampurkan pupuk kimia jenis ZA, yang dianggap membahayakan jika dikonsumsi manusia. Penggerebekan pun tidak tanggung-tanggung, dipimpin langsung oleh Kapolres Sleman AKBP Fried Zulkarnaen.
Di tempat kejadian perkara (TKP), Kapolres juga ikut menginterogasi pemilik usaha, Danang Ari Prasetyo. Danang mengaku belajar membuat produk semacam agar-agar itu secara otodidak. Dia menjalankan usaha ilegal menggunakan pupuk ZA lebih lima tahun lalu.
Pupuk pertanian itu diperolehnya di sebuah KUD atau toko mainan. “ZA itu hanya diambil nitrogennya untuk mengikat glukosa,” dalihnya. Alasan itu disebutkan Danang supaya hasil Nata de Coco sempurna.
Dalam seminggu, usaha ini menghasilkan sekitar 800 kilogram Nata de Coco. Untuk membuat produk tersebut, dibutuhkan air kelapa sebagai bahan utama. Lalu, pupuk ZA, gula pasir, dan cuka dicampurkan ke dalam rebusan air kelapa. 
”Rata-rata seribu liter sekali produksi,” katanya.
Danang mengaku produknya telah memperoleh sertifikasi uji laboratorium dari Institut Pertanian Bogor (IPB) sejak 2013.
Kapolres menegaskan bahwa tindakan pelaku tergolong ilegal. “Pupuk jelas bukan bahan makanan. Itu melanggar undang-undang,” tandasnya.
Terkait kasus itu, Danang disangka melawan hukum dengan menabrak UU Perlindungan Konsumen. Tersangka juga dijerat pasal penyalahgunaan pupuk bersubsidi.
Faried mengatakan, Nata de Coco ala Godean itu untuk memasok sebuah perusahaan di wilayah Ciputat. Untuk selanjutnya dikemas dan dipasarkan ke supermarket berjejaring di wilayah Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi) melalui beberapa distributor.
Menurut Kapolres, produk itu dipasarkan di ritel yang bersih dan higienis. Kondisi itu berlawanan dengan pabrik pembuatannya yang kotor dan berbau tidak sedap alias tidak layak sebagai pabrikan. Untuk menindaklanjuti kasus ini, polres akan berkoordinasi dengan laboratorium UGM dan Balai Besar POM. (yog/laz/ong)