Bidara Silsi AnjaniGuru Sekolah Menengan Musik (SMM) Jogja
ALIRAN musik yang berbeda-beda kadang membuat “gap” dalam setiap kelompok. Para pelajar yang bisa dibilang masih labil dalam mengelola emosi nya terhadap suatu perbedaan, terkadang saling meluapkan emosinya dengan tindakan yang tidak semestinya. Agar hal itu tidak berkelanjutan, dan saling merugikan, maka harus dikelola sejak dini.Sebagai contoh, kadang ketika pelajar A suka musik jazz, dia kadang mengang-gap remeh dan mengejek musik kesu-kaan pelajar lain, yaitu si B yang suka music rock dan begitu sebaliknya.
Hal seperti itu dapat dicegah dengan memberikan banyak referensi peng-etahuan akan genre music. Mereka harus diberikan peng-etahuan yang lebih terhadap macam-macam musik. Agar nantinya mereka bisa bertoleransi terhadap perbedaan-perbedaan itu. Selain memberikan banyak refe-rensi aneka ragam music, hal tersebut juga harus didukung dengan penga-walan lingkungan terdekat mereka. Karena bagaimanapun, ketika seko-lah sudah memberikan pengetahuan yang cukup, kalau lingkungan tidak mendukung, maka hal itu tidak akan berjalan sebagaimana mestinya.
Di sekolah yang berbasis music se-perti Sekolah Menengah Musik (SMM) perbedaan aliran bukanlah hal yang tabu. Karena di sini musikalitas serta apresiasi sudah ditanamkan sejak dini. Keragaman jenis music justru mem-punyai pengaruh tinggi dalam krea-tivitas bermusiknya. Mereka tidak pernah memandang perbedaan ali-ran musik apapun sebagai hal yang aneh. Justru keanekaragaman ini sering mereka adaptasi untuk dapat digabungkan dengan alat musik per-kusi klasik mereka. Seperti hasil be-kereng percussion yang merupakan hasil dari adaptasi keanekaragaman aliran music. (mey/man/ong)