YOGI ISTI PUJIAJI/RADAR JOGJA CARA TRADISIONAL : Petani merontokkan padi dengan cara diinjak-injak. Padi yang masih menempel di batang dengan balutan damen (daun) ditumpuk di atas terpal yang digelar.
SLEMAN – Tanpa didukung alat yang memadai, petani Dusun Bandulan, Sukoharjo, Ngaglik mampu menghasilkan panen lebih banyak dibanding daerah lain. Setiap 1 hektare lahan menghasilkan gabah kering panen hingga 11 ton. Jumlah itu hanya selisih sedikit dengan hasil panen di Seyegan yang mencapai 9,8 ton.
Petani Bandulan yang tergabung dalam Kelompok Tani Harapan Sembada optimistis hasil panenan bisa lebih maksimal jika didukung peralatan modern. Saat ini, kelompok hanya memiliki traktor. Mereka belum punya transplanter (mesin tanam) dan power treasure (mesin perontok) padi.
Ketua Harapan Sembada Mujarto Wardoyo mengatakan, selama ini, setiap kali panen, petani merontokkan padi dengan cara tradisional. Padi yang masih menempel di batang dengan balutan damen (daun) ditumpuk di atas terpal yang digelar. Lalu diinjak-injak. Dengan begitu, sebagian besar bulir padi rontok. Tapi tetap masih banyak yang tersisa menempel di batang. “Kami butuh treasure supaya kerja lebih efektif dan efisien,” ujarnya saat menemui rombongan pejabat Pemkab Sleman di dusun setempat kemarin (1/4).
Bandulan menjadi wilayah uji coba proyek sekolah lapangan pengelola tanaman terpadu (SLPTT) 2014, yang menerapkan sistem tajarwo. Yakni, tanam jajar legowo. Nah, untuk menghasilkan tanaman dengan jarak dan kerengganan yang konsisten antar batang, dibutuhkan transplanter. Menurut Wardoyo, sistem tajarwo mampu meningkatkan hasil panen, sekaligus menghemat pupuk.
Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Widi Sutikno menanggapi serius pernyataan perwakilan petani itu. Widi tidak menampik bahwa kebutuhan alat-alat modern untuk membantu proses pertanian tak bisa dipungkiri. Apalagi, saat ini jumlah petani selalu menurun. “Petani bisa mengajukan proposal bantuan kepada pemerintah,” sarannya.
Lebih dari itu, Widi berharap petani siap menghadapi pasar selama panen raya. Sebab, saat ini stok cenderung melimpah. Akibatnya, harga beras turun. Kondisi itu akan diikuti harga gabah petani. “Tentu berlaku hukum pasar seperti itu,” kata Widi.(yog/din/mga)