BANTUL – Meskipun telah digulirkan, jumlah puskesmas yang menjadi trauma center Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan (BPJS) Ketenaga-kerjaan masih sedikit. Dari 17 puskesmas rawat inap se-Bantul, baru satu unit puskesmas yang ditunjuk memberikan pelayanan kepada peserta BPJS Ketenagakerjaan. Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul Maya Sintowati menuturkan, baru Puskesmas Banguntapan II yang menjadi percontohan BPJS Ketenagakerjaan. Program percontohan ini tak terlepas dari Desa Tamanan, Banguntapan menjadi pelopor BPJS Ketenagakerjaan. “Di sini kan juga banyak pekerja informal yang terdaftar di BPJS Ketenagakerjaan,” terang Maya, kemarin (3/4).
Menurutnya, seluruh puskesmas rawat inap di Bantul bakal diproyeksikan melayani peserta BPJS Ketenagakerjaan. Namun, pengembangan seluruh puskesmas yang membuka pelayanan 24 jam ini juga tergantung BPJS Ketenagakerjaan sendiri. “Nanti tergantung BPJS Ketenagakerjaan bagaimana,” ujarnya.Maya memperkirakan BPJS Ketenagakerjaan bakal membuat kajian terlebih dahulu. Melalui hasil kajian ini BPJS Ketenagakerjaan dapat memilah wilayah mana yang menjadi prioritas. “Targetnya ya seluruh Puskesmas rawat inap,” ungkapnya.
Dengan demikian, seluruh peserta BPJS Ketenaga-kerjaan dapat memperoleh pelayanan. Persis dengan BPJS Kesehatan, mekanisme BPJS Ketenagakerjaan juga memberlakukan sistem rujukan dengan Puskesmas sebagai garda terdepan pelayanan. Bedanya, BPJS Ketenagakerjaan khusus untuk kecelakaan kerja. “Kalau perlu mendapatkan perawatan lebih ya dirujuk ke RSUD atau rumah sakit yang lebih tinggi,” jelasnya. (zam/din/ong)