SETIKY/RADAR JOGJA
DRAMA PENYALIPAN: Mahasiswa Universitas Sanata Dharma Jogjakarta menggelar drama terbuka penyalipan di lapangan Realino, kemarin (3/4). Kegiatan ini dalam rangka memperingati Paskah 2015.
JOGJA – Umat Kristiani mengikuti misa Jumat Agung di sejumlah gereja di Jogja, kemarin (3/4). Peringatan wafat Isa Almasih ini ber-langsung khusyuk. Bahkan tak sedikit umat yang tampak tertegun, terutama saat prosesi penghormatan salib. Seperti yang tampak di Gereja Santo Antonius Padua, Kotabaru, Jogja. Misa yang terbagi menjadi tiga sesi terebut tidak menyisakan kursi satu pun karena dip-enuhi umat yang datang. Hujan deras pun tidak menghalangi para umat yang mengikuti misa sore dan malam hari. Mereka tetap khu-syuk mengikuti misa Jumat Agung sebagai rangkaian perayaan Tri Hari Suci.
Pada misa sesi kedua yang berlangsung pukul 17.00, Romo Ignatius L Madya Utama SJ mengajak para umat untuk bertobat se-belum terlambat. “Malam ini yang pertama-tama kita harus bersyukur karena Yesus tidak pernah berhenti mencintai kita, karena Tuhan tidak pernah jera mengasihi kita. Mari kita tanggapi itu agar tidak terlambat,” ujarnya.
Dalam khotbahnya, Romo Madya juga me-nyayangkan masih adanya diskriminasi dalam masyarakat kita. Mulai dari status sosial, jenis kelamin, hingga agama. Ia mencontohkan, adanya sebuah daerah yang masih melakukan diskriminasi. Ketika ada makan bersama, semua yang memulai dan menikmati adalah para laki-laki, sedangkan yang wanita dan anak-anak hanya makan sisa.”Diskriminasi seperti itulah yang oleh Yesus dilawan. Ketika orang miskin dan orang ber-dosa dinilai tidak pantas untuk mengalami kasih dan keselamatan, justru Yesus merangkul dan duduk makan bersama.” (dya/laz/ong)