Perkembangan zaman yang makin terbuka, tampaknya berpengaruh terhadap angka pernikahan dini di DIJ. Setidaknya bisa dilihat dari Sleman, Bantul dan Kulonprogo.
YANG memprihatinkan adalah, banyaknya ang-ka pernikahan dini di tiga kabupaten itu (mungkin juga di daerah lain), terjadi karena faktor “keter-paksaan”
Yakni karena si perempuan telah mengalami “kecelakaan” atau ha-mil dulu, sehingga penyelesaian singkatnya melalui pernikahan.Di Kabupaten Sleman misalnya. Pernikahan dini atau bawah umur di wilayah ini terus mengalami peningkatan dalam kurun 10 tahun terkhir. Pengantin pria berusia kurang dari 19 tahun, sedangkan wa-nita di bawah 16 tahun.
Pasangan atau salah satu peng-antin yang menikah di bawah umur harus memperoleh dis-pensasi Pengadilan Agama. Ber-dasarkan data statistik di Kemen-terian Agama Sleman, total se-banyak 533 peristiwa nikah di bawah umur pada 2004-2014. Lonjakan drastis terjadi antara 2008-2009 dan 2013-2014.Kepala Kementerian Agama Sleman M Lutfi Hamid menga-ku prihatin dengan kondisi itu. Sebab, sebagian besar pernika-han dini dilakukan karena peng-antin perempuan hamil sebelum menikah. “Itu akibat banyak generasi muda nggak cukup paham hakekat perkawinan,” ungkap Lutfi kepada Radar Jogja kemarin (3/4).
Lutfi menengarai, kasus hamil di luar nikah didorong oleh pengaruh negatif tayangan atau adegan dalam acara televisi. Hal itu diperparah dengan adanya situs-situs dewasa yang bisa di-akses melalui internet, yang menggambarkan seolah-olah sebuah hubungan seksual mer-upakan sesuatu hal yang indah. Tanpa memahami konsekuensi dan tanggung jawab atas hasil dari hubungan tersebut. Pelaku juga tidak memperhati-kan kesehatan reproduksi pada diri masing-masing. “Karena itu, banyak kasus nikah dini berujung perceraian. Karena saat menikah kondisi emosi keduanya belum stabil,” bebernya.
Selain nikah bawah umur, ada pula pernikahan muda atau be-lum cukup umur. Itu jika salah satu atau dua calon pengantin berusia antara 19-21 tahun. Un-tuk kasus itu tak perlu dispen-sasi nikah Pengadilan Agama. Tapi cukup izin dari orang tua masing-masing calon mempelai. “Izin itu wajib karena calon peng-antin dianggap belum cukup dewasa,” jelas Lutfi. Menurut Lutfi, kasus ini juga banyak terjadi. Umumnya per-nikahan antarsesama teman sekolah atau seumuran. Misalnya, masing-masing calon mempelai berusia 18 tahun. Bagi calon pengantin perempuan termasuk cukup umur, meski belum de-wasa. Tapi pengantin pria masih tergolong di bawah umur, se-hingga butuh dispensasi nikah.Bolehkah menikah saat peng-antin perempuan hamil? Men-urut Lutfi, hal itu masih menim-bulkan pro dan kontra. Sesuai fikih, hal itu memang dilarang.
Namun berdasarkan Kompilasi Hukum Islam, asal mempelai perempuan dinikahkan dengan suami yang menghamilinya, maka diperbolehkan. “Ini masih jadi perselisihan pendapat para ulama,” ungkapnya.Di Sleman, angka pernikahan penduduk sangat tinggi. Rata-rata per tahun di atas 6.500 perkawinan. Untuk memperoleh keterangan sah pernikahan, calon mempelai harus mengikuti prosedur normal. Mulai laporan ke kelurahan atau balai desa untuk mendapatkan beberapa surat keterangan. Di antaranya, kehendak nikah, kete-rangan orang tua dan wali, serta asal usul calon. Calon yang mela-kukan numpang nikah harus memperoleh rekomendasi dari Kantor Urusan Agama (KUA) di mana si calon seharusnya menikah.Biaya pernikahan nol rupiah alias tak dipungut biaya asal dila-kukan di KUA. Jika nikah di luar KUA dikenakan biaya Rp 600 ribu. Ketentuan itu tak berlaku bagi warga miskin. Bagi yang memi-liki surat keterangan miskin, tetap tak dipungut biaya meski nikah di luar KUA. (yog/laz/ong)

Sama-Sama Pelajar, Usia Sepantaran

CEPATNYA perubahan pola pergaulan remaja selama 10 tahun terakhir membawa sejumlah dam-pak. Salah satunya adalah tingginya anak di bawah umur yang ‘terpaksa’ melakukan pernikahan. Me-skipun dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, jumlah pernikahan dini fluktuatif
Kasi Bimbingan Masyarakat Islam Kantor Kementerian Aga-ma (Kemenag) Bantul Sidiq Pramono menuturkan, angka pernikahan dini di Kabupaten Bantul cukup tinggi. Pada tahun 2012 misalnya, Kantor Kemenag mencatat ada 108 pernikahan dini. Tahun berikutnya menga-lami peningkatan, yakni 123 pernikahan dini.”Pada tahun lalu menurun. Hanya di angka 94,” sebut Sidik saat ditemui di kantornya, Kamis (2/4).
Karena itu, Sidiq tak dapat memprediksi jumlah pernikahan dini pada tahun ini. Apakah akan mengalami peningkatan atau justru menurun drastis. Meski-pun hingga bulan ini Kantor Kemenag telah mencatat ada tujuh pernikahan dini.Menurutnya, pernikahan dini mayoritas disebabkan hamil di luar nikah. Rata-rata usia mem-pelai pria sekitar 17 hingga 18 tahun karena mereka masih berstatus sebagai pelajar.”Usia perempuannya rata-rata sepantaran, karena sama-sama pelajar. Tetapi, ada juga si pe-rempuannya yang masih di ba-wah umur,” ujarnya.
Meskipun begitu, Kantor Keme-nag juga mencatat ada pula calon pengantin yang melakukan per-nikahan dini karena faktor lain. Ada calon kedua mempelai yang salah satunya masih di bawah umur sepakat menikah untuk ‘mengamankan’ hubungan as-mara. Ada pula yang didasari nilai-nilai agama. Mereka khawa-tir tercebur dalam kubangan dosa karena berzina. “Tapi jum-lahnya hanya seberapa,” urainya.Dia berpendapat tingginya angka pernikahan dini dalam 10 tahun terakhir karena cepat-nya pola perkembangan per-gaulan para remaja. Tingginya akselerasi perkembangan tek-nologi turut menjadi faktor be-rubahnya pola pergaulan re-maja. Ironisnya, kondisi itu tak diiringi dengan perkembangan mentalitas mereka.”Anak sekarang lebih cepat me-respons ponsel yang berdering daripada dipanggil orangtua me-reka,” paparnya.
Di sisi lain, tak sedikit orangtua saat ini lemah da-lam mengawasi perkembangan pergaulan anak-anak mereka. Ba-hkan, ada pula paradigma orangtua yang turut mengalami perubahan.Dia menguraikan pada era 80 atau 90-an orangtua akan bert-indak tegas kepada anak me-reka yang diketahui hamil di luar nikah. Ini berbeda dengan kondisi sebagian orangtua dalam 10 tahun terakhir.”Tontonan televisi saat ini juga berbeda jauh dengan dulu. Ha-mil di luar nikah sekarang sudah dianggap wajar seperti dalam tontonan televisi itu,” tandasnya.Kantor Kemenag sebetulnya tak bersikap diam melihat pola pergaulan remaja. Sejak 2013, Kantor Kemenag menerapkan program Quranisasi untuk mem-bekali pengetahuan agama anak didik. Sayangnya, sasaran program ini masih terbatas pada siswa SD. Itu pun hanya kelas III.”Setiap kecamatan diambil satu SD. Ini pilot project. Nanti-nya akan kami sampaikan ke pemkab, agar program ini bisa dikembangkan lagi,” ungkapnya.
Selain itu, Kantor Kemenag Bantul juga menerjunkan para penyuluh ke seluruh kecamatan. Peran penyuluh ini diharapkan mampu memberikan wawasan keagamaan kepada warga.Sidiq menambahkan, persen-tase pernikahan dini sebenarnya sangat sedikit dibanding perni-kahan mempelai pengantin yang telah berusia dewasa. Namun demikian, pernikahan dini tetap menjadi PR serius bagi Kantor Kemenag dan se-jumlah pihak.”Usia dewasa, ya yang sudah di atas 19 tahun calon prianya. Bagi mempelai wanita di atas 16 tahun,” jelasnya.Humas Pengadilan Agama (PA) Bantul Ahsan Dawi membenar-kan angka pernikahan di Kabu-paten Bantul cukup tinggi. Ber-dasar keterangan yang diperoleh PA dari kedua calon mempelai, mayoritas penyebab pernikahan dini karena hamil di luar nikah.Ya, bagi calon mempelai yang masih di bawah umur tak bisa serta-merta mendaftarkan perni-kahan ke Kantor Kemenag. Me-reka terlebih dahulu harus menda-patkan keputusan kompensasi dari PA. “Kedua calon mempelai beserta orangtuanya masing-masing harus datang ke sini,” tam-bahnya. (zam/laz/ong)