FOTO-FOTO: DWI AGUS/RADAR JOGJA
MENIKMATI: Pengunjung pameran menyempatkan diri berfotoria dengan latar belakang lukisan yang dipamerkan di Bentara Budaya Yogyakarta (BBY). Dalam pameran ini, digeber lukisan lima perupa berdarah Bali dengan tajuk I (Aku).
JOGJA – Lima perupa berdarah Bali di Jogjakarta berpameran di Bentara Budaya Yogyakarta (BBY). Bertajuk I, kelima perupa: Made Arya Palguna, Dewa Made Mustika, Tjokorda Bagus Wiratmadja atau Coky, Putu Agus Suyadnya, dan Ida Bagus Sindu Putra, mengusung karya dari lukisan hingga instalasi.Meski berasal dari Bali, kelima perupa ini sudah lama berproses di Jogjakarta. Tema pameran diambil dari bahasa Inggris I yang bermakana aku. Dalam pameran ini, kelimanya ingin menyiratkan sebuah landasan pemikiran tentang konsep pameran mereka.”Tema ini merefleksikan kita para perupa, sebagai subjek yang hadir sebagai dirinya dalam karyanya. Bisa juga bermakna identitas kekaryaan masing-masing perupa. Identitas ini bisa terlihat pada pilihan teknis, bahasa visual, dan pilihan tematik,” kata Made Arya Palguna (3/4).
Setiap seniman hadir dengan persepsi mereka tentang tema yang diusung. Sindu Putra menghadirkan identitas dirinya yang terlahir dari keluarga Brahmana atau rohaniawan. Melalui karyanya, Sindu hendak bertutur ikhwal identitas dirinya,di mana dalam kehidupannya memori tentang keluarga tidak hanya memberinya identitas genetis, tapi juga kultural. Dalam karyanya, Sindu menghadirkan foto lama keluarganya. Salah satunya dalam karya berjudul Me (purusa pradana series).”Menggunakan teknik drawing charcoal, dikemas dengan image remasan. Ada pula potongan-potongan puzzle untuk meng-konstruksi pandangan-pandangan konseptual memori dan identitas diri saya,” katanya.
Dewa Made Mustika merepre-sentasikan diri dengan konsep visual alam. Seperti dalam karyanya yang berjudul Rhtym of Merapi dalam kanvas ber-ukuran 150 cm x 180 cm. Dia menghadirkan karya dengan visual letusan Gunung Merapi.Melalui karyanya, Mustika ingin menggambarkan makna dari gunung meletus. Selama dirinya hidup di Jogjakarta mampu memahami kultur masyarakat. Termasuk dalam memaknai saat gunung Merapi sedang masa erupsi.”Dalam kacamata saya melihat kalau letusan ini bukan sebuah bencana yang meluluh-lantakkan. Tapi lebih kepada sebuah bahasa simbolik, betapa fenomena alam seperti gunung meletus adalah siklus alamiah. Siklus ini ibarat cara alam dalam menyampaikan kejujurannya,” katanya.Konsep unik dihadirkan Putu Agus Suyadnya dengan meng-hadirkan gajah dalam karyanya. Secara tersirat Agus ingin meng-hadirkan makna simbolis gajah. Seperti dalam karya yang berjudul Analogi Kebenaran yang meng-gambarkan manusia dalam memaknai kebenaran.
Tjokorda Bagus Wiratmadja atau Coky menghadirkan karya abstraksi wajah. Kali ini, lukisan-nya hadir dengan berbagai karakter dan mimik. Secara abstraktif, Coky memandang wajah adalah jendela untuk memahami hakikat diri.”Selain sebagai penanda identitas seseorang, wajah me-nampilkan kondisi emosional seseorang. Ini terlihat dalam berbagai raut muka dan ekspresi. Untuk karya mengusung struktur tumpukan, kerokan, serta efek-efek abstraktif lainnya,” kata Coky. Seniman terakhir, Made Arya Palguna hadir dengan figur-figur deformatifnya. Palguna men-ceritakan dalam pandangan kosmologi Hindu, manusia memiliki Atman atau roh yang menjadi penggerak hidup manusia.
Untuk pameran ini, dirinya mengusung tiga karya dalam satu judul GOD. Karya ini me-nurutnya mewakili tiga fase hidup manusia yakni lahir, hidup, dan mati. Melalui karyanya, Palguna ingin mengajak manusia untuk merenung tentang siklus kehidup-an sembari menghayati nilai-nilai keilahian.”Atman dalam pandangan Hinduisme adalah percikan terkecil dari Brahman (Tuhan). Sehingga dalam diri manusia sesungguhnya tersimpan sifat-sifat keilahian itu sendiri,” ungkapnya. (dwi/jko/ong)