ACREATORS JOGJA FOR RADAR JOGJA
WORKSHOP: Pembekalan untuk seniman muda diberikan selama tiga minggu yang terbagi dalam empat kelas. Workshop ini mengajak para seniman berpikir di luar zona nyamannya.
JOGJA – Para seniman terus ber-kembang dan mewarnai dunia seni Jogjakarta. Meski mengusung unsur kebaruan namun akar Jogjakarta tidak mereka tinggalkan. Ini tersaji dalam sebuah even bertajuk All You Can Art #7 di Jogja National Museum (JNM) dari 29 hingga 31 Maret lalu.Bertajuk Candradimuka, ajang ini mampu mengumpulkan jiwa seni muda. Even yang digarap Acreators Jogja ini menggelar serangkaian workshop creative sharing. Tujuannya menjembatani para seniman muda bertemu para ahlinya yang sudah lebih dahulu terjun dalam bidangnya.”Candradimuka diharapkan mampu menjadi wadah bagi para seniman muda untuk mengasah potensi.
Sudah berlangsung sejak awal Maret lalu, terbagi dalam empat kelas kreatif, yaitu kelas musik, kelas seni visual, kelas fotografi dan kelas fashion,” kata Project Officer All You Can Art #7 Haryo Rachmantyo baru-baru ini (31/3). Haryo mengungkapkan, para peserta pameran terlebih dahulu menjalani proses workshop. Pembekalan ini diberikan selama tiga minggu yang terbagi dalam empat kelas tersebut. Workshop ini, lanjutnya, mengajak para seniman berpikir di luar zona nyamannya.Para seniman ini tidak hanya belajar disiplin ilmunya. Namun diajak untuk mempelajari disiplin ilmu seni lainnya. Sehingga para seniman dapat ber-kolaborasi dalam sebuah karya. “Para peserta sangat antusias dan mereka belajar banyak hal dari para mentor dan profesional dari berbagai bidang. Banyak hal yang tidak diduga tercipta dalam proses workshop ini. Mereka berani untuk bermain di luar zona nyaman mereka,” kata Haryo.
Sedangkan kelas fashion mewadahi para fashion designer, jewellery designer, wardrobe stylist dan textile designer. Tema yang diusung untuk kelas ini adalah Deconstructive. Tema ini mendefinisikan ulang nuansa tradisi dalam kemasan yang lebih global.Ide ini, menurut penanggung jawab kelas fashion Juris Bramantyo, sesuai dengan prinsip fesyen yang universal dan selalu move forward. Nuansa tradisi mulai dari kain-kain tradisional seperti batik dan lurik, bentuk-bentuk desain tradisional seperti kebaya dan surjan diolah ulang menjadi karya untuk dipamerkan.Materi yang dipamerkan berupa moodboard design yang berisi konsep koleksi fesyen hasil dari pembelajaran selama proses mentor dan workshop kreatif dengan berbagai mentor. “Selain moodboard, peserta juga akan memamerkan sketsa desain karya mereka dan hasil karya berupa fashion item, baik baju, gaun, ataupun kain dan perhiasan,” ungkap Juris.
Dalam rangkaian workshop musik mengambil tema Mix It Up!. Sedangkan kelas visual art mengusung tema Nowness of History. Dalam kelas fotografi, mengajak para fotografer berpikir tentang konsep tidak hanya teknik.Penanggung jawab kelas fotografi Carten Nulagraha mengungkapkan, kelas ini membuka referensi baru. Idealnya seorang fotografer tidak hanya kuat di teknik namun juga konsep. Sebab kadang terlalu fokus dengan teknis dan gadget-nya sehingga me-lalaikan konsep. “Juga mengajak terbuka terhadap dinamika termasuk fotografi dengan smartphone. Dalam kesempatan ini, setiap peserta menyajikan karya dengan menggunakan smartphone-nya masing-masing,” ujar Carten. (dwi/ila/ong)