illustrasi
SLEMAN- Pemenuhan gizi seimbang pada balita harus menjadi perhatian para orang tua. Salah sedikit saja, bisa jadi balita mengalami masalah gizi. Masalah-masalah kesehatan anak itu antara lain berupa stunting (tubuh pendek), wasting (kurus), atau bahkan overweight (kegemukan).Di Sleman, kasus stunting pada 2014 cukup tinggi. Angkanya mencapai 12,8 persen dari 65.389 balita (angka di DIJ 14,32 %). Sedangkan wasting 4,02 persen (DIJ 3,89%), dan overweight 5,82 % (DIJ 5,84 %). “Kekurangan gizi pada awal kehidupan berdampak serius terhadap kualitas sumber daya manusia di masa mendatang,” kata Kepala Dinas Kesehatan Mafilindati Nuraini kemarin (5/4).
Khusus stunting, jumlah penderitanya mencapai 8.415 balita. Angka terbanyak di wilayah Minggir, yakni 141 balita. Disusul Ngemplak 122 balita dan Moyudan 121 balita.Menurut Mafilindati, stunting terjadi akibat balita kekuragan asupan protein pada masa pertumbuhan. Hal itu juga bisa terjadi sejak masa kehamilan ibu. Tanda-tandanya, panjang bayi lahir kurang dari 48 cm, sedangkan beratnya di bawah 2,5 kilogram.Mafilinda mengingatkan, masalah gizi bayi dan balita tak selalu dilatarbelakangi masalah ekonomi. Seperti kebanyakan kasus stunting dan gizi buruk, lebih banyak terjadi akibat pola asuh orang tua pada balita masing-masing.Mafilinda melihat ada yang keliru dalam pola asuh orang tua. Itu mengingat kasus stunting banyak terjadi justru di wilayah lumbung pangan di Kabupaten Sleman.
Menurut Mafilinda, pemenuhan protein nabati dan hewani cukup mudah tanpa banyak biaya. Misalnya, telur ayam atau bebek, ikan, dan daging atau sayur mayur. “Itu banyak terdapat di lingkungan sekitar masyarakat petani,” ujarnya.Mafilinda mengatakan, stunting bisa dicegah. Upaya percepatan gizi masyarakat (balita) bisa dilakukan dengan memperkuat Posyandu dan menerapkan perilaku hidup sehat dan bersih. Serta tak kalah penting, penerapan gizi seimbang pada diri sendiri dalam keluarga maupun masyarakat. “Itu kunci sukses perbaikan gizi,” tegasnya.Penanganan kasus gizi dilakukan dalam jangka panjang. Sesuai hasil pemantauan berkala. Pemantauan tidak hanya dititik-beratkan pada bayi dan balita, tetapi juga ibu pemilik balita. Itu dimulai masa kehamilan sampai perkembangan bayi dan balita.Kasi Gizi, Bidang Kesehatan Masyarakat Widiharto menambahkan, pihaknya selalu memantau perkembangan gizi masyarakat melalui puskesmas. Langkah penting menggugah kesadaran masyarakat melalui penyuluhan masalah gizi. “Kesadaran orang tua dalam pola asuh anak sangat penting,” katanya. (yog/din/ong)