JOGJA – Sebagai kota pariwisata, Pemkot Jogja terus berbenah untuk membuat wi-satawan kian tertarik mendatangi dan nya-man di kota ini. Salah satunya rencana menata Titik Nol Kilometer yang kini men-jadi salah satu ikon baru tempat selfie.Demi memberikan kenyamanan bagi wi-satawan, DPRD Kota Jogja pun memberikan dukungan penuh rencana pemkot. Komisi C meminta pemkot untuk membuat usulan rencana tersebut di APBD Perubahan
“Bisa saja diusulkan di APBD Perubahan. Tinggal nanti diu-sulkan,” tutur anggota Komisi C DPRD Kota Jogja Muhammad Fursan, pekan lalu.Ia mengungkapkan, penataan Titik Nol Kilometer memang harus dilakukan. Apalagi, setiap malam di kawasan tersebut selalu penuh. Baik wisatawan maupun warga Jogjakarta untuk menghabiskan malam di sana. “Memang harus dibuat men-jadi kawasan yang ramah. Jangan asal bisa buat foto-foto saja,” saran politikus yang tinggal di Kauman ini.Fursan menegaskan, Titik Nol Kilometer merupakan kawasan yang punya nilai historis tinggi. Di kawasan tersebut, selain men-jadi garis imajiner Keraton Jogja, juga terdapat bangunan bersejarah. Di sebelah barat ada Istana Gedung Agung, bagian timur ada Monumen Plaza Se-rangan Oemoem 1 Maret. Juga, Benteng Vredeburg serta ke se-latan terdapat Keraton Jogja.”Itu bukan hanya jendela Kota Jogja. Tapi, DIJ secara keseluruhan. Makanya, penataannya jangan hanya parsial saja. Harus meny-eluruh dengan memperlihatkan kekhasan Kota Jogja,” terangnya.
Seperti diketahui, rencana un-tuk mengangkat Titik Nol Kilo-meter sebagai landmark baru Kota Jogja terus menguat. Hal tersebut juga mendapat dukungan dari berbagai kalangan. Baik wisatawan, warga Jogja, maupun para pemangku kepentingan.Pemkot Jogja pun telah mer-encanakan hal itu. Hanya saja, rencana ini belum pasti akan direalisasikan tahun 2015 atau masih tahun depan. Kini, pem-kot masih menanti koordinasi dari Pemprov DIJ.Sebab, Pemprov DIJ melalui Dinas Pekerjaan Umum, Peru-mahan, Energi, dan Sumber Daya Mineral (PUPESDM) tahun ini telah menyusun Detail Engine-ering Desain (DED) Malioboro secara menyeluruh. Penyusunan ini dengan melibatkan lima pe-menang Sayembara Malioboro yang digelar tahun 2014.Gubernur DIJ Hamengku Bu-wono X juga memastikan, pena-taan Titik Nol Kilometer untuk dilakukan secara menyeluruh. Tidak parsial, mengingat Malio-boro merupakan sumbu filoso-fis imajiner Keraton yang ter-kait dengan Tugu, Malioboro, dan Panggung Krapyak. “Se-baiknya memang dilakukan koordinasi terlebih dahulu an-tara kota dengan Dinas PU,” pinta HB X. (eri/laz/ong)