GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
REOG PRAJURITAN: Kesenian dari Putat, Patuk, Gunungkidul, memeriahkan pentas kesenian tradisional di Alun-Alun Sewandanan, Pura Pakualaman, Jogja, kemarin (5/4).
JOGJA – Gunungkidul memiliki keragaman seni tradisi kerakyatan, salah satunya adalah kesenian Reog. Berbeda dengan Reog Ponorogo, kesenian di Desa Batur, Putat, Patuk, Gunungkidul ini memiliki warna tersendiri. Kesenian yang sudah ada sejak tahun 1918 bercerita tentang keprajuritan.Ketua Paguyuban Reog Budaya Manunggal Sardi mengungkapkan, kesenian ini peninggalan nenek moy-ang. Cerita yang diusung dalam ke-senian ini tentang keprajuritan. Teru-tama semangat dan filosofi yang di-miliki setiap prajurit pada waktu itu.”Kesenian ini memang berbeda dengan yang ada di Ponorogo. Ka-rena sesepuh kita dulu menganggap keprajuritan juga reog. Dalam kese-nian ini ditonjolkan bentuk gerak berbaris, hingga latihan peperangan yang dipimpin Manggala atau koman-dan,” kata Sardin saat pementasan di Alun-Alun Sewandanan, Pakuala-man, kemarin (5/4).
Ciri khas lainnya adalah tarian ini menampilkan empat macam bre-gada atau prajurit. Mulai dari bre-gada Manggolo Yudo Rekso, Jogo Boyo, Sekar Arum dan Bregada Pu-tro Kencono. Kesemua prajurit ini membawa pedang, tombak, terkadang juga perisai dan busur panah.Melihat pementasan ini seakan ada nilai topeng panji. Ini terlihat dari beberapa tokoh yang memiliki kemi-ripan dengan topeng panji. Sardi mengungkapkan Reog khas Patuk ini mengadaptasi beberapa cerita panji.”Dari beberapa sesepuh mengata-kan ada unsure panji meski tidak kuat. Namun untuk pementasan ini kita sesuaikan dengan dinamika ma-syarakat saat ini,” ungkap Sardi.
Sementara itu penasihat paguy-uban Tugimin menilai, dinamika perubahan sangatlah penting. Pe-rubahan yang terlihat adalah di-tanggalkannya jaran kepang atau kuda lumping. Menurutnya dalam pementasan saat ini cenderung menyorot pada gerakan tari.Pria yang juga menjabat dukuh berharap dengan kemasan ini keles-tarian bisa terjaga. Apalagi saat ini generasi penerus paguyuban budaya manunggal justru didominasi gene-rasi muda. Hal ini menurutnya ada-lah suatu angin segar dalam upaya pelestarian kesenian tradisi.Nilai yang dipertahankan hingga saat ini adalah menjaga keguyuban. Terlebih kesenian ini kerap dipen-taskan dalam acara desa. Ini tercer-min dari beberapa gerakan tari yang menampilkan kekompakan. Ada juga semangat hidup dalam gerakan yang terlihat rampak.”Untuk pementasan sendiri kerap dilakukan saat merti desa di kampung. Untuk menarik generasi muda kita kemas dengan gaya yang berbeda. Tujuannya untuk melahirkan rasa suka terlebih dahulu. Selanjutnya kita tanamkan nilai-nilai yang ter-kandung dalam kesenian ini,” kata Tugimin. (dwi/laz/ong)