FOTO-FOTO: KALI BIRU FOR RADAR JOGJA
MEMESONA: Wisatawan domestik saat menikmati panorama Waduk Sermo dari Bukit Menoreh di Kalibiru. 

Konsep Eco-Tourism Cocok untuk Pengembangan Menoreh

Raymond Friedrich, turis berkebangsaan Australia mengaku puas setelah berkunjung sejumlah objek wisata di kawasan Bukit Menoreh, Kulonprogo. Banyak bertemu warga yang ramah membuat dirinya merasa betah. Begitu juga melihat pengembangan wisata tanpa merusak lingkungan, menciptakan kesan yang mendalam baginya.
HENDRI UTOMO, Kulonprogo
SENIN (30/3) Raymond Friedrich berhasil menyentuh keindahan alam bukit Menoreh. Dengan mata kepalanya sendiri, ia melihat lingkungan yang bersih dari sampah. Dari atas sepeda motornya, ia bahkan sudah mengaku merasa memiliki, dan sedikit cemas jika objek wisata yang baru berkembang itu akan semakin banyak menyita perhatian dan ramai kunjungan wisatawan.
Pasalnya, satu sisi masyarakat akan dapat penghasilan ketika banyak wisatawan berdatangan. Namun di sisi lain, wisatawan yang tidak sadar lingkungan akan memicu sampah, sementara sampah yang dibuang sembarangan dan tidak dikelola dengan baik sudah pasti akan merusak pemandangan dan lingkungan.
Menurut Raymond, itu menjadi tantangan bagi penduduk setempat, juga pemerintah daerah, untuk tetap konsisten menjaga lingkungan. Dengan demikian, kondisi tetap asri dan asli seperti yang ada saat ini.
“Waduk Sermo sangat indah, pariwisata ini bisa dikembangkan dengan konsep eco-tourism. Boleh saja ada restoran atau cafe di sekitar Waduk Sermo, tetapi harus terikat dengan keindahan wilayah dan tetap menghormati lingkungan. Sehingga, keindahannya terjaga dan tetap menarik mereka yang datang,” terang Raymond.
Ia menambahkan, menjaga kebersihan lingkungan sangat penting sehingga alam tetap berada pada kondisi yang sempurna. Terlebih, kesempurnaan alam itu yang justru banyak menarik wisawatan untuk datang. Konsep pengembangan objek wisata alam memang harus berjalan perlahan namun cerdas.
“Justru jika terlalu cepat, kebanyakan justru efek negatif biasanya muncul pada lingkungan, dan secara tidak langsung akan berefek negatif juga bagi pariwisata,” imbuhnya.
Raymond menilai, pengembangan wisata di Kulonprogo sudah berada pada jalur yang semestinya. Ia mencontohkan, obyek wisata air terjun Kembangsoka, merupakan obyek wisata yang sangat spektakuler. Ia bahkan mengakui, sangat jarang mendapati obyek wsiata dalam tahap awal berkembang dan itu berbasis pada masyarakat sekitar.
“Melihat masyarakat bergotong-royong dan mengembangkan wisata dan menjaga keindahan alam, itu juga sebuah pemandangan yang menjadi satu dengan objek wisata yang ada. Kebetulan saya senang berwisata naik sepeda motor, sementara jalanan di sekitar sini sangat bagus untuk berpetualangan,” ucap bule yang sudah fasih berbahasa Indonesia ini.
Kawasan bukit Menoreh juga menawarkan medan yang menantang bagi mereka yang memiliki jiwa petualangan. Karena hampir semua titik objek wsiata yang akan disinggahi harus mengikuti rute perjalanan yang sangat mengasyikkan. Jalan berliku dan tebing curam, terkombinasi sempurna dengan keasrian alam dan sambutan penduduk sekitar yang ramah.
Dilihat sepintas, objek wisata di sekitar Menoreh sebenarnya cukup sederhana dan alami. Warung yang ada juga dikelola oleh penduduk sekitar. Ini adalah titik keseimbangan baik yang dimiliki warga setempat. Kesederhanaan itu yang membuat Menoreh tepat dikunjungi, karena tempat ini belum berkembang sehingga sangat alami.
Perjalanan Raymond hingga di Kulonprogo ternyata berawal dari undangan penikmat touring sepeda motor yang saat ini ingin mengembangkan pariwisata Kulonprogo bernama Andry Berlianto. Keluarga Andry kebetulan berasal dari Wates, dan saat ini ia juga ingin tinggal di Kulonprogo, sehingga ia mencoba membantu memperkenalkan berbagai potensi wisata yang dimiliki Kulonprogo.
“Kebetulan Raymond ini sudah lama tinggal di Jogja, namun dia belum pernah ke Kulonprogo, maka saya ajak dia ke sini. Sekaligus memperkenalkan potensi wisata Kulonprogo, sehingga nantinya ia bisa ikut mempromosikannya saat traveling ke lain daerah atau saat pulang ke negaranya,” ungkap Andry.
Andry sempat mengajak Raymond ke berbagai tempat wisata di Kulonprogo. Di antaranya ke Waduk Sermo, Kali Biru, air terjun Kembangsoka, dan Taman Sungai Mudal yang semuanya berada di kawasan Bukit Menoreh. Ia optimistis, Raymond bisa ikut mempromosikan Kulonprogo khususnya kepada sesama petualang dengan sepeda motor.
Andry memilih mengenalkan perbukitan Menoreh karena jika dibanding tempat lain, lokasinya lebih indah ketimbang daerah pantai. Selain itu, Menoreh memiliki sejarah dan terbentang panjang dari selatan ke utara. “Dari situ kita mencoba memilih Perbukitan Menoreh, karena dari panorama dan rute daerah ini menawarkan sesuatu yang hebat jika ditempuh dengan sepeda motor,” ujarnya.
Adry menilai, Pemkab Kulonprogo dalam melibatkan masyarakat dalam mengembangkan pariwisata sangat tepat. Ini karena masyarakat ternyata juga sudah sangat paham bagaimana menjaga alam agar tetap indah dengan kearifan lokal yang sudah mengakar kuat sejak lama.
Eco-tourism menjadi sangat penting, lantaran jika lingkungan tidak dirusak, maka tempat itu akan menarik banyak wisatawan. Bagi pariwisata yang berbasis pada keindahan alami, sudah menjadi keharusan untuk menjaga lingkungannya. Maka juga diperlukan peraturan yang harus selalui bisa diterima dan ditaati.
“Pemerintah juga perlu memberi saran bagi warga sekitar untuk menjamin lingkungan ini terus berlanjut. Keterlibatan pemerintah bukan berarti pemerintah mengambil wilayah ini dari masyarakat, tetapi memberikan saran karena pemerintah tentunya lebih berpengalaman dan memiliki pandangan luas, untuk menjamin wilayah ini berkembang,” ucapnya.
Menurut Andry, Kulonprogo lebih berkembang untuk wisata minat khusus, namun juga tidak menutup kemungkinan munculnya wisata umum. Tentunya dengan kejelian memanfaatkan potensi yang ada.
Jika melihat orang-orang seperti Raymond sampai tertarik ke Kulonprogo, itu juga karena Kulonprogo adalah tempat yang bagus untuk melakukan perjalanan. Lalu-lintasnya juga tidak terlalu padat, pemandangan yang ditawarkan sangat natural dan indah, serta banyak tempat yang bisa dikunjungi dalam jarak tempuh tidak terlalu lama dan akses jalan yang sangat memadai.
“Karena yang menarik sebetulnya tidak hanya objek wisatanya, tetapi sepanjang perjalanan pun sudah indah. Terlebih banyak medan yang menantang, khususnya bagi para petualang. Bisa berinteraksi langsung dengan masyarakat setempat yang ramah, makan di rumah penduduk, hal-hal seperti itu yang tidak dilihat dari pengembangan wisata di Indonesia pada umumnya,” bebernya.
Raymond yang terkesan, bahkan mengaku akan merekomendasikan wilayah ini kepada teman-temannya sebagai referensi baru objek wisata yang harus dilihat. Raymond bahkan meyakini, bagi petualang sepeda motor seperti dirinya, tidak akan mengalami kesulitan sama sekali saat mengendarai motor di kawasan Menoreh karena jalannya sudah bagus.
Menutup kunjungannya di Kulonprogo, Raymond bahkan berharap pengembangan wisata di Kulonprogo harus tetap dipertahankan untuk dilakukan secara bijaksana. Jangan sampai kehilangan keindahan alamnya. Karena sebagai seorang pengelana, ia sering melihat di Indonesia banyak tempat yang sebetulnya indah, tetapi kemudian rusak karena industri pariwisatanya berjalan tidak semestinya seperti mengabaikan kebersihan dan kelestarian lingkungan.
Raymond bahkan telah mengisahkan perjalanan di Kulonprogo dalam akun blognya, www.2wheelvagabond.blogspot.com. Dalam laman itu, ia menyebutkan Kulonprogo relatif bersih, tidak ada sampah berserakan di tempat wisata, sehingga perlu dikembangkan secara cerdas, perlahan dan sabar, selalu melibatkan masyarakat dalam menjaganya.
Sebelumnya, Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo sudah memiliki angan-angan dan gambaran nyata tentang pengembangan wisata di kawasan Menoreh. Harapan besar akan pengembangan wisata di Menoreh bahkan sudah ditata sedimikian rigid-nya. Program Bedah Menoreh namanya.
Ledakan besar untuk memicu pertumbuhan sektor wisata di kawasan Menoreh Kulonprogo bahkan sudah dilakukan, yakni dengan pementasan Sendratari Sugriwo-Subali di Kompleks Gua Kiskendo, Desa Jatimulyo, Girimulyo. Aksesibilitas pengunjung yang terintergasi dalam program Bedah Menoreh juga akan segera dimulai 2016 mendatang. (*/laz/ong)