UNTUNG PRAMONO/RADAR JOGJA
BERBAHAYA: Sebagain contoh obat tradisional yang diperilihatkan BPOM. Semua contoh obat tersebut mengandung BKO.
JOGJA – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengajak ma syarakat waspada terhadap makanan, kosme-tik, maupun obat yang beredar di masyarakat. Terutama jenis makanan ringan dan kerupuk yang banyak di-temui di warung.Jenis makanan tersebut, seringkali terindikasi mengandung Rhodamin B dan Methanil Yellow. Rhodamin B dan Methanil Yellow tergolong pewarna tekstil yang dilarang digunakan untuk pangan. “Rhodamin B dan Methanil Yellow merupakan sejenis pewarna tekstil yang berbahaya jika dicampur pada makanan. Karena bisa meng-ganggu fungsi hati, jika dikonsumsi dalam jangka panjang” kata Staf Bidang Sertifikasi dan Layanan Informasi Konsumen BPOM Ida Wahyu Win darti, 48, kemarin (5/4).
Ida ditemui dalam acara 4th Kids Castle, yang digelar 1 sampai 5 April 2015.Ida meneruskan, makanan ringan yang berwarna memang menarik anak-anak. Mereka ingin mengkonsumsinya. Dengan kampanye tersebut, diharap-kan orang tua akan lebih sering menga-wasi makanan dan jajanan yang di-konsumsi anaknya.”Pewarna dijadikan daya tarik produsen makanan menarik kon-sumennya. Namun, orang tua harus jeli, karena sebagian darinya meng-gunakan pewarna tekstil yang ber-bahaya,” katanya mengingatkan.Untuk obat tradisional, ungkap Ida, seharusnya tidak dicampur dengan bahan kimia obat (BKO). Karena ber-bahaya jika digunakan tanpa resep dokter. Ia menengarai, obat tradisional yang sering dicampur dengan BKO, di anta-ranya obat pegel linu dan penambah stamina
. Kebanyakan, obat bahan kimia yang digunakan sebagai bahan campu-ran, di antaranya fenilbutason, dexa-metason, sildenafil, dan tadalafil sitrat.Pada kesempatan tersebut, BPOM juga mengkampanyekan soal kosmetik yang tanpa izin edar. Beberapa dari kosmetik tersebut cukup terkenal. Padahal, jika tidak dilengkapi izin edar, produk tersebut tidak terjamin ke-amanannya.”BPOM tidak menjamin keamanan-nya jika sebuah produk kosmetik tanpa izin edar. Karena, semua yang beredar harus melalui BPOM,” tegas-nya. (cr2/hes/ong)