Aprillyani Sofa Marwaningtyaz for Radar Jogja
BANGGA: Aprillyani Sofa Marwaningtyaz bersama Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama usai menerima penghargaan Kick Andy Young Heroes 2015.

Kapuk Randu dan Kapur Giling Antarkan ke Georgia dan Brasil

 
Berbekal kapuk randu dan kapur giling, Aprillyani Sofa Marwaningtyaz menyabet medali internasional di bidang fisika dan biologi. Torehan itu pula yang membawanya dinobatkan sebagai Kick Andy Young Heroes 2015 di Jakarta belum lama ini. Bagaimana kisahnya ?
RIZAL SETYO NUGROHO, Jogja
Benda-benda di sekitar kita yang kadang dianggap tidak bernilai, kadang kala malah mempunyai khasiat yang luar biasa. Kapuk randu misalnya. Jika biasanya hanya dimanfaatkan untuk bahan baku kapas, atau bahkan hanya kayu bakar, namun di tangan April, sapaan akrab Aprillyani Sofa Marwaningtyaz, dapat diolah menjadi biofungisida yang bisa mengendalikan hama dan penyakit pada tanaman.
Penelitian biofungisida berbahan kulit (klotokan) kapuk randu yang diubah menjadi biofungisida berhasil mengalahkan 500 peserta dari 40 negara besar di dunia, seperti Amerika Serikat, Rusia, dan lain sebagainya. Tak tanggung-tanggung, hasil penelitian gadis manis kelahiran Pati, 21 April 1997 itu, berhasil menyabet dua medali sekaligus, yakni Best Project dan Juara I dari 13 kategori Biologia Celulare Molucular Micro Biologia di Brasil dua tahun lalu.
Ia menceritakan, temuan itu berawal dari keprihatinannya saat melihat sejumlah tanaman, seperti cabai milik petani di daerahnya yang produktivitasnya menurun, karena diserang jamur berupa serbuk-serbuk putih. Dia kemudian mencari berbagai informasi terkait persoalan itu. Salah satu informasi yang diterimanya adalah, klotokan kapuk randu ternyata bisa digunakan untuk menangkal jamur pada tanaman.
Ia lalu melakukan serangkaian percobaan. Klotokan kapuk randu itu dibakar, lalu diambil abunya. Setelah itu, abu tersebut diambil ekstraknya. Lantas, ekstrak dicampur dengan sejumlah bahan lain, salah satunya sabun colek. Setelah berbagai bahan tersebut siap, dia lantas melakukan percobaan untuk menguji efektivitas formula yang dibuatnya.
“Pertama saya uji coba ke irisan tempe. Biasanya tempe kalau dibiarkan akan dipenuhi oleh jamur. Dan ternyata setelah saya beri formula itu, ternyata jamur tersebut tidak muncul,” terangnya.
Keunggulan lain dari biofungisida jenis ini adalah harganya yang relatif murah. Sedang apabila menggunakan pestisida kimia, justru dapat memicu karsiogenetik yang bila menumpuk di dalam tubuh dalam jangka waktu lama, akan menumbuhkan kanker.
“Jadi dengan biofungisida ini, semestinya pengeluaran petani dalam menghilangkan jamur pada tanaman bisa ditekan hingga seperempat dari harga umum di pasaran,” tambahnya.
Prestasi perempuan yang mempunyai hobi membaca dan diskusi ini tidak berhenti di situ. Sebelumnya, penelitiannya mengenai campuran mortar dari kapur giling membawanya memperoleh silver medali di International Young Inventors Project Olympiad di Georgia.
Hasil uji coba efektivitas penambahan batu kapur giling pada campuran mortar untuk bangunan, mampu meyakinkan juri dan membuatnya menyabet perak. “Setelah presentasi juri sempat mendebat, kenapa temuannya masuk fisika, saya jawab karena ini menggunakan unsur tekanan pada zat padat. Dengan alasan ini, juri tampaknya tertarik,” ujarnya kepada Radar Jogja kemarin (7/4).
Saat ini, perempuan yang tinggal di JalanWonosari Km 4 Banguntapan, Bantul, ini tidak akan berhenti bereksperimen untuk memperoleh temuan-temuan baru yang bermanfaat bagi masyarakat. Mahasiswa semester 2 Fakultas Farmasi UGM itu mengaku, sebenarnya pemuda Indonesia tidak kalah dengan negara-negara lain.
“Pelajari hal-hal yang disukai dan belajar dengan suasana hati yang senang, tidak perlu dipaksa. Terus tiap dua jam belajar, istirahat, setengah jam untuk merefresh otak lagi. Habis Maghrib, siang dan sepertiga malam, waktu yang enak untuk belajar,” ungkapnya. (*/laz/ong)