Meski belum sampai ditetapkan sebagai kejadian luar biasa (KLB), kewaspadaan terhadap Leptospirosis tetap perlu ditingkatkan. Bahkan sebenarnya pencegahan terhadap penyakit ini sangat sederhana. Salah satunya dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).
KEPALA Bidang Pengendalian Penyakit dan Masalah Ke-se hatan (P2-MK ) Dinas Ke se hatan (Din kes) DIJ drg Daryanto Chado-rie mengatakan, pe ri laku cuci dengan sabun pa-da seluruh tubuh, seperti kaki dan tangan, setelah beraktivitas sa ngat efektif untuk mencegah Leptospiro sis
“Setiap selesai melakukan ak-tivitas, biasakan untuk member-sihkan diri dengan sabun, ka-rena bakteri Leptospira bisa langsung mati dengan sabun,” ujar Daryanto kemarin (7/4).Selain itu juga harus memper-hatikan makanan yang disedia-kan. Tindakan pencegahan dengan menjaga makanan yang disediakan di meja agar tidak terkena tikus. Terlebih, jika tidak diawasi bisa jadi makanan yang dikonsumsi sudah terkena ken-cing tikus atau digigit tikus. Lemari atau tempat sampah, secara periodik juga dianjurkan untuk digeser. Hal itu agar tikus tidak menetap di satu tempat di rumah. Lingkungan rumah juga bisa dibersihkan dengan air de-tergen yang berfungsi sebagai disinfektan. Ini karena bakteriLeptospiramudah mati dengan disinfektan.
Dalam beraktivitas juga di-minta untuk selalu mengguna-kan alat pelindung diri (APD), seperti sepatu boot dan sarung tangan. Termasuk bagi para pe-tani yang turun ke sawah. Menurut Daryanto, tikus pem-bawa bakteri Leptospira, berasal dari berbagai jenis tikus, se-perti tikus rumah tangga, tikus got maupun tikus sawah. “Dalam kasus-kasus terbaru yang dite-mukan disebabkan tikus rumah tangga dan tikus got,” ungkapnya. Wilayah penyebaran bakteri leptospira, juga tidak hanya be-rada di dekat sungai saja. Tapi bisa ditemukan di semua wi-layah, yang terdapat genangan air. Untuk itu, pihaknya menya-rankan setiap ada genangan air untuk dibersihkan, agar tidak menjadi fektor.
Genangan air bisa menjadi risiko karena jadi tempat lalu lintas tikus. Masyarakat yang memiliki luka, juga diminta was-pada, karena jika terkena ge-nangan air yang terkena bak-teri Leptospira, bisa terinfeksi.Alumnus UGM ini menjelaskan, gejala klinis sudah terkena Lep-tospirosis, seperti demam hingga 38 derajat celcius, mata merah, bahkan bisa hingga mata kuning jika sudah kronis, serta nyeri di tungkak kaki dan tulang punggung. “Kalau ada yang panas tinggi dan nyeri tulang, harus segera mengak-ses sarana kesehatan,” tuturnya.

Dinkes Kulonprogo Ambil Sampel di Daerah Endemis

Memasuki minggu ke-8 tahun 2015, serangan Leptospirosis di Kabupaten Kulonprogo sudah tercatat tujuh kasus. Ketujuh kasus itu terjadi di Kecamatan Nanggulan, yang selama ini me-mang dikenal sebagai daerah endemis Leptospirosis, selain Kecamatan Sentolo. Berdasarkan Data Laporan Perkembangan Penyakit Lep-tospirosis Dinkes Kulonprogo, dari tujuh kasus tersebut, lima di antaranya terdeteksi di bulan Januari dan dua kasus lagi ter-jadi Februari. “Kami berharap kasus Leptospirosis di Kulon-progo tahun ini menurun, ka-rena jika dilihat dari tren serang-annya cukup fluktuatif,” terang Habib Abubakar Ahmad, Peng-elola Pemberantasan Penyakit Bersumber Binatang (P2B2), Seksi Pemberantasan Penyakit Menular (P2M) Dinkes Kulon-progo, kemarin (7/4).Habib menyebutkan, ledakan kasus penyakit yang disebabkan oleh air seni tikus ini sempat ter-jadi di Kulonprogo pada tahun 2011, dengan total 329 kasus, dan sempat merenggut 19 korban jiwa. Saat itu, puncak serangan terjadi dengan rentan waktu mu-lai bulan Januari hingga Juni 2011.
Secara rinci serangan di tahun 2011 itu dimulai pada bulan Ja-nuari dengan 18 kasus dan me-nyebabkan dua warga meninggal dunia. Kemudian di bulan Fe-bruari (32 kasus, 4 meninggal dunia), Maret (114 kasus, 6 me-ninggal dunia), April (71 Kasus, 5 meninggal dunia), Mei (55 kasus), Juni (28 kasus, 2 meninggal dunia).”Kasus kemudian menurun ke-tika memasuki bulan Juli 2011 dengan 4 kasus saja, bulan Agustus 2 kasus, September 2 kasus, Okto-ber 2 kasus, November 1 kasus, dan Desember tidak ditemukan kasus Leptospirosis,” bebernya.Habib menjelaskan, pihaknya telah mengambil sejumlah lang-kah pencegahan, salah satunya dengan meningkatkan kewaspa-daan. Di setiap Puskesmas, khu-susnya di daerah endemis Lep-tospirosis, petugas akan lebih detail dalam memeriksa pasien, khususnya yang memiliki gejala klinis seperti Leptospirosis. “Petugas kesehatan disediakan RDT (Rapid Diagnosis Test) untuk memeriksa apakah pasien yang bersangkutan positif Leptospiro-sis atau tidak. Jika pasien terindi-kasi positif, langsung ditangani secepatnya. Jika tidak memun-gkinan, perawatan di Puskesmas, langsung dirujuk ke rumah sakit yang bisa merawat,” jelasnya.
Kasi Pemberantasan Penyakit Menular (P2M) Dinkes Kulon-progo Slamet Riyanto SKM me-nambahkan, jika menyimak data, tren serangan Leptospirosis yang fluktuatif itu cukup dip-engaruhi faktor cuaca atau musim. Serangan marak terjadi biasanya bersamaan musim penghujan.Mengantisipasi ledakan kasus seperti tahun 2011, Dinkes Ku-lonprogo dan Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan (BPTKL) Jogjakarta telah mengambil sam-pel tikus di daerah endemis Lap-to spi rosis, kemarin (7/4). Upaya itu dilakukan untuk mengetahui jenis tikus apa yang bisa menularkan bakteri Lep-tospira. Di Kulonprogo sendiri, daerah endemis Leptospirosis ada di dua kecamatan, yakni Kecamata Nanggulan dan Se-notolo.
Sedangkan pengambilan sampel kali ini dilakukan di Desa Wijimulyo dan Donomulyo, Kecamatan Nanggulan. “Hari ini (kemarin, Red) 100 perangkap tikus sudah dipasang di 25 rumah warga. Masing-masing rumah dipasang empat perangkap. Rabu (8/4) pagi, ha-sil tangkapan itu akan dikum-pulkan dan diteliti, apakah tikus sudah terinfeksi atau belum. Jika positif, tikus jenis apa yang terinfeksi,” imbuhnya. Menurut Slamet, pengambilan sampel kali ini cukup penting, untuk mengetahui jenis tikus apa yang telah menularkan penyakit. Terma-suk lokasinya di mana dan bagai-mana cara penanganan dan kewas-padaan masyarakat untuk men-ghadapinya. (pra/tom/laz/ong)