DEWI SARMUDYAHSARI/RADAR JOGJA
TANGGUH: Selain untuk prestasi dan kebugaran, Bettika menekuni tarung drajat untuk menjaga diri dan orang-orang di sekitar dari tindak kriminalitas.

Kejar Prestasi Maksimal dan Bekal untuk Membela Diri

Sebagian masyarakat menilai tarung drajat sebagai olahraga keras. Karena itu, tidak banyak kaum perempuan yang meliriknya. Satu di antara yang sedikit itu adalah Bettika Yuni Lestari. Apa motivasinya menggeluti olahraga ini?
DEWI SARMUDYAHSARI, Jogja
BETTIKA memang serius un-tuk menambatkan pilihannya kepada tarung drajat. Baginya, olahraga ini tidak semata-mata digeluti sebagai olahraga dan mengukir prestasi. Lebih dari itu, juga sebagai bela diri.Siang itu di sebuah stasiun kereta api ramai seperti biasanya. Orang-orang dengan raut wajah sabar, duduk menunggu kereta yang akan ditumpanginya. Di sisi lain, loket tiket dikerubuti para calon penumpang. Nah, suasana stasiun yang tadinya tenang, sontak berubah ketika seorang wanita berteriak copet-copet-copet. Refleks, Bet-tika dan beberapa orang yang ada di stasiun mengejar seorang laki-laki yang dicurigai sebagai copet.
Tendangan dan teknik bertahan diri pun mampu melumpuhkan si pencopet. Meski sempat mela-kukan perlawanan, si pencopet pun berhasil dilumpuhkan di-bantu oleh beberapa orang yang geram karena ulah si pencopet.Kejadian itu sepertinya tidak akan mudah dihilangkan dari ingatan Bettika, petarung ke-lahiran, Bantul 21 Juni 1992 ini. Bersyukur, olahraga beladiri yang digelutinya sejak tahun 2013 ini tak hanya semata melatih diri secara fisik, agar tubuh tetap bugar. Lebih dari itu, juga bermanfaat untuk menjaga diri dan orang-orang di sekitar dari tindak kriminalitas.”Memang sudah hobi dan suka, bapak dulu juga berke-cimpung di olahraga beladiri, tapi pencak silat,”ujar sulung dari dua bersaudara ini.
Sempat ikut berlatih pencak silat semasa SMA, namun anak pasangan Hadi Pranoto dan Suparmi ini lebih merasa klik dengan tarung drajat. Meskipun olahraga ini masih dipandang sebagai olahraga keras, tetapi mahasiswi semester 2 Jurusan Bisnis Administrasi LP3I Jogja-karta ini lebih nyaman melako-ninya. Terlebih lagi dia juga bisa mandiri melatih diri selain apa yang sudah dilatih di satuan latihan (satlat).Petarung putri kelas 50,1-54kg ini yakin dirinya bisa mengem-bangkan diri lewat olahraga keras ini. “Ya ada kalanya berat, saat latihan misalnya. Di satlat saya cewek satu-satunya dari 20 anggota. Mau tidak mau ya saya harus berlatih dengan porsi yang sama. Meskipun ti-dak juga harus dipaksakan ka-rena porsinya beda,”ujar pe-tarung sekaligus asisten pelatih di Satlat Piyungan ini.Latihan dan terus latihan akan terus dijalani.
Apalagi, petarung kurata 4 ini menjadi salah satu petarung yang lolos seleksi un-tuk Pra PON 2015 bulan Oktober mendatang di Bali. Mimpi men-jadi wakil Jogjakarta di skala nasional tinggal selangkah lagi. Bekal prestasi seperti Juara 1 untuk Jurus dan tarung di Porkab 2015, juara 2 tarung di Pra Por-da, serta juara 1 Kejurda Tarung Drajat 2015 untuk kelas tarung putri 51,1-54 membuatnya se-makin optimistis untuk meraih prestasi lebih tinggi. “Tak hanya ingin berprestasi. Olahraga ini bisa dicintai semua orang. Peminatnya tidak hanya cowok, tetapi cewek juga,”ujar Bettika. (*/din/ong)