HENDRI UTOMO/RADAR JOGJA

DRG LIA DESIRE OCTARINA

KESEHATAN menjadi salah satu hal yang sangat utama dan berharga. Namun kebanyakan orang sering luput memaha-minya. Mereka baru datang ke dokter dan menghabiskan biaya tidak sedikit saat sakit telah menghampiri, tidak terkeculai dalam urusan men-jaga kesehatan gigi
Perihatin dengan kebiasaan itu, drg Lia Desire Octarina men-coba membuat terobosan atau inovasi untuk menumbuhkan semangat warga untuk peduli dengan kesehatan gigi. Ia men-ciptakan Kartu Sehat Gigiku, yang sekaligus mengantarkan dirinya menjadi dokter gigi teladan Ka-bupaten Kulonprogo tahun 2014.Dokter gigi kelahiran Klaten, 25 Oktober 1980, ini mencipta-kan Kartu Sehat Gigiku menuju gigi sehat yang dimiliki masing-masing pasiennya. Kartu itu juga difungsikan untuk mem-bantu mengidentifikasi masalah gigi pasien, sehingga sang pasien bisa merencanakan perawatan gigi sampai tuntas atau pari-purna.
Pertama kali kartu ini dilun-curkan di tempat praktiknya tahun 2005, kemudian juga dip-raktikan di Puskesmas Sentolo II tempatnya bertugas sejak 2011 lalu. Sistem pelayanan keseha-tan gigi dengan kartu ini menda-pat apresiasi Pemkab Kulon-progo, sehingga diberikannya predikat dokter gigi teladan. Tepatnya bulan Juni 2014, Kar-tu Sehat Gigiku ini secara resmi dicanangkan Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo saat bulan bakti gotong-royong di Kecamatan Sentolo. Pada gelaran Kulonpro-go Expo, kartu itu juga digunakan untuk sarana pemeriksaan di stan Dinas Kesehatan. “Ternyata melebihi target, yang semula ditargetkan hanya 100 kartu keluar, ternyata bisa tembus hampir 400 kartu,” ungkapnya. Lia mengungkapkan, terkait pelayanan kesehatan gigi memang butuh inovasi. Terlebih hasil ris-kesdas 2013, ternyata hanya 8,1 persen dari seluruh masyarakat Indonesia yang punya kemauan untuk mendapat pelayanan gigi. “Kartu ini boleh dikatakan se-buah trik agar masyarakat se-makin peduli dengan giginya dan mau datang periksa dan tidak hanya berobat saat sakit,” ungkap alumnus Fakultas Ke-dokteran Gigi (FKG) UGM ini.
Menurut Lia, hal yang meny-ebabkan perawatan gigi tidak pernah tuntas atau setengah-setengah yakni ketika orang hanya datang ke dokter gigi saat sakit dengan segala keluhannya. Ada beberapa beberapa factor, sehingga kecenderungan orang bersikap seperti itu.Pertama memang tidak ada motivasi, namun juga bisa ka-rena tidak tahu gigi itu rentan dengan masalah kesehatan. “Akhirnya saya muncul ide, kartu status pasien itu juga bisa memuat rekam status giginya. Sehingga pasien juga punya ca-tatan pribadi. Ini juga memper-mudah dan mempercepat penanganan saat si pasien datang berobat,” ujarnya.
Hebatnya lagi, ide penerbitan Kartu Sehat Gigiku itu muncul lebih dulu dibanding kartu-kartu “sakti” milik Jokowi. Kon-sepnya pun berbeda, jika kartu Jokowi hanya berwujud kartu identitas pemilik, Kartu Gigi Sehatku disertai rekam medis pasien di RS, klinik, maupun Puskesmas khusus gigi dan da-lam bentuk mini. “Jadi ada tulisan-tulisan di da-lamya. Kebetulan saja namanya agak sama kartu sehat, tapi du-luan saya,” selorohnya.Lia menambahkan, banyak teman-temannya yang juga ter-tarik mengaplikasikan kartu ini di institusi mereka. Seperti di Puskesmas Nanggulan, Kulon-progo, Puskesmas di Magetan Jatim, dan dokter gigi di Dinas Kesehatan Cilegon. “Kartu ini juga sudah ditulis menjadi makalah oleh maha-siswa S2 UGM asal Dinas Kese-hatan Kaltim sebagai bahan kajian dan dimasukkan dalam pengembangan kesehatan di sana,” imbuhnya. (tom/laz/ong)