AHMAD RIYADI/RADAR JOGJA
TERSENYUM: Terdakwa Prof Susamto (baju putih) saat memberikan keterangan di hadapan majelis hakim Pengadilan Tipikor Jogja, kemarin (7/4).
JOGJA – Kasus dugaan korupsi penjua-lan aset UGM berupa tanah semakin terang. Dalam persidangan yang diketuai Sri Mumpuni SH, terdakwa Prof Susamto mengaku tidak mengetahui asal usul tanah persil 41 dan 41 di Dusun Plumbon, Banguntapan, Bantul. Padahal, tanah UGM yang disidik Kejati DIJ itu diklaim milik Yayasan Fepertagama.”Kami tidak tahu asal usul tanah persil 41 dan 42,” kata Susamto menjawab per tanyaan majelis hakim Samsul Hadi SH yang me-nanyakan seputar asal usul tanah yang diklaim sebagai milik Yayasan Fapertagama, apakah hasil pembelian atau hibah.
Menuruf Susamto, yayasan merasa me-miliki tanah itu atas dasar informasi dari pengurus yayasan sebelumnya. Bahwa yayasan memiliki sejumlah aset berupa tanah, tapi belum ada sertifikatnya. Keya-kinan itu diperkuat oleh dokumen Leter C dari Kelurahan Banguntapan. Sedangkan untuk tanah persil 180 seluas 2.900, yaya-san mengantongi bukti berupa hak pakai.”Saya percaya saja dengan para senior dan tim revitalisasi aset. Tahu-tahu ber-masalah yang di sini (pengadilan, Red),” beber profesor di bidang tumbuhan ini sambil tersenyum.Susamto menjabat dekan Fakultas Per-tanian UGM periode 2000 – 2008. Saat itu, ia sekaligus menjabat Ketua Yayasan Fepertagama. Pada 2000, Susamto mener-bitkan surat keputusan (SK) tim revitali-sasi aset yayasan Nomor. 147/K/KGP/2002 tertanggal 20 April 2002. Tim beranggotakan tiga orang yaitu Ken Suratiyah, Toekidjo, dan Triyanto.
Sebelumnya, pada 1995, yayasan juga pernah membentuk tim yang dinamai panitia penelusuran aset yayasan.”Tim yang dulu dan baru tugasnya sama, hanya beda nama saja. Tugas tim meng-inventarisasi dan mengurus kepastian hukum aset yayasan, terutama berupa tanah,” papar Susamto.Anggota majelis hakim Suwarno SH sempat menyentil Susamto. Sebagai seorang dosen dan profesor, Susamto dinilai tidak memikir-kan aspek hukum ketika menugaskan tim menelusuri aset yayasan berupa tanah. “Saya tidak berpikir aspek hukum ketika menelusuri aset yayasan tidak bergerak. Saya percaya saja dengan senior dan tim,” sahut Susamto saat menjawab pertanyaan yang diajukan hakim Suwarno.
Selain tidak mengetahui asal usul tanah, Susamto ternyata tidak mengetahui siapa sapa para pendiri yayasan kali pertama. Menurutnya, ia mengetahui para pendiri dan tahun pendirian yayasan setelah yayasan disidik oleh Kejati DIJ. Sebelumnya, dalam dakwaan jaksa disebutkan Yayasan Fapertagama didirikan pada 1969. Yayasan ini didirikan dengan modal awal sebesar Rp 1.000. “Belum per-nah mengetahui akta pendirian yayasan. Tahu-tahu, ya setelah ada masalah ini,” kata Susamto.Dalam persidangan juga terungkap, uang hasil penjualan tanah di Dusun Plumbon mengalir ke rekening Susamto. Namun, ia berkelit ketika ditanya seputar adanya uang hasil penjualan tanah yang disimpan di rekening pribadinya.”Uang di rekening pribadi tersebut sifatnya dititipkan ke pengurus dan itu hanya semen-tara. Buku rekening juga disimpan yayasan, tidak saya bawa,” jelasnya. (mar/laz/ong)