JOGJA – Menjelang eksekusi, terpidana mati narkoba Mary Jane Fiesta Veloso mulai mengajukan sejumlah permintaan. Kali ini, perempuan asal Filipina itu ingin mencicipi buah durian. Maklum, Mary Jane mengaku selama hidupnya ia belum pernah makan buah berduri itu.
“Sebagai pelayan napi, kami pun membelikan durian. Dia bilang, itu kali pertama makan durian,” ungkap Kepala Lapas Klas IIA Wirogunan, Jogja, Zaenal Arifin, kemarin (7/4).
Selain durian, ibu tiga anak yang dikenal sebagai “ratu heroin” ini ingin es krim dan pizza. Sebab, selama menjalani proses hukum dan menjadi narapidana ia belum pernah makan es krim dan pizza.
Wajar, Lapas Wirogunan memang tidak menyediakan es krim dan pizza kepada para napi. “Dia ingin membeli durian, es krim, dan pizza dengan uangnya sendiri. Kemudian petugas lapas yang membelikan keinginan Mary Jane sesuai pesanannya,” beber Zaenal.
Uang yang digunakan membeli makanan itu berasal dari pegawai Kedubes Filipina. Beberapa waktu lalu, saat mengunjungi Mary Jane, pegawai Kedubes Filipina memberikan uang Rp 1,5 juta. “Karena dia ingin makanan lain selain yang disediakan pihak lapas, ya kami belikan sesuai keinginannya,” jelasnya.
Menurut Zaenal, sesaat setelah mengetahui Peninjauan Kembali (PK)-nya ditolak Mahkamah Agung, Mary Jane sempat shock. Tetapi, kini Mary tampak sehat dan tegar. Bahkan Mary Jane mulai beraktivitas seperti saat-saat awal masuk Lapas Wirogunan dengan mengikuti olahraga, upacara, doa bersama, dan berbaur dengan napi lain.
Mary Jane sendiri ditangkap aparat Bea Cukai Bandara Adisutjipto pada 2010. Ia tertangkap basah membawa narkoba jenis heroin seberat 2,6 kilogram. Pengadilan Negeri (PN) Sleman menjatuhkan vonis hukuman mati terhadap perempuan asal Filipina itu.
Mary dianggap terbukti menyelundupkan heroin dan tergolong sebagai sindikat narkotika internasional. Sebelum mengajukan PK, Mary Jane sempat mengajukan grasi ke Presiden Joko Widodo. Permohonan ampunan pun oleh presiden itu pun ditolak. (mar/laz/ong)