YOGI ISTI PUJIAJI/RADR JOGJA
SUKARJO

Butuh Pendampingan Manajemen, Harus Segera Ditindaklanjuti

 
PENGELOLAAN desa wisata mendapat sorotan Anggota Komisi C DPRD Sleman Sukarjo. Politikus Partai Nasdem ini menilai pemerin-tah kurang sungguh-sungguh mendo-rong para pengelola desa wisata, dalam pengembangan potensi wi-layah masing-masing. Buktinya, masih banyak penge lola desa wisata sambat sulitnya meng-atur manajerial, hingga mengelola destinasi. Seperti Desa Wisata Pen-tingsari di Umbulharjo, Cangkringan. Padahal, destinasi di lereng Gunung Merapi itu termasuk salah satu ung-gulan Kabupaten Sleman. Bahkan, hampir tiap tahun, Pentingsari selalu dikunjungi wisatawan, baik domestik maupun mancanegara.
“Pengelola mengeluh butuh pen-dampingan manajemen. Itu harus segera ditindaklanjuti,” ungkap Su-karjo kemarin (7/4).
Mantan kepala Desa Sukoharjo, Ngaglik, ini tak ingin desa wisata yang telah mandiri justru meng-alami mati suri, seperti sekitar 30-an desa wisata lain. Promosi dan pembinaan harus digalakkan se-cara intensif. Promosi bisa melalui berbagai sarana. Outdoor maupun indoor. Sukarjo menilai, saat ini pengelola desa wisata lebih banyak melakukan promosi secara individual. Salah satunya melalui media internet. Iro-nisnya, tak semua desa wisata mem-punyai alamat website. Itu lantaran tak ada sumber daya manusia yang mengelolanya. “Ini kan sayang. Di era modern tanpa internet. Ini juga jadi PR pemerintah,” lanjut Sukarjo.
Biar bagaimanapun kondisi desa wisata, Sukarjo meyakini bahwa desa wisata memberi sumbangsih dan andil cukup besar dalam pembangu-nan. Setidaknya melalui perputaran uang yang dibelanjakan wisatawan. Sukarjo berharap ada sinergitas antara pemerintah dengan pelaku wisata dan semua lini yang berben-turan dengan dunia pariwisata. Di antaranya, hotel, restoran, agen travel, serta objek-objek wisata. Sukarjo melihat, saat ini belum ada atau hanya sedikit sekali informasi tentang desa wisata di lobi hotel atau bandara.
Apalagi di stasiun atau terminal bus. Untuk hal promosi, tak ada jeleknya pemerintah mencontoh Bali. Saat menginjakkan kaki di Bandara Ngu-rah Rai, para wisatawan disuguhi aneka pamflet, buku saku, hingga peta wisata. Sarana itu diberikan gratis dengan dipampang di salah satu dinding lobi. Semua sarana memuat informasi tentang seluk beluk Bali. Mulai hotel berbintang hingga kelas melati. Dari tempat wisata modern sampai klasik di pelosok pedesaan. “Sleman itu kaya tempat wisata. Seharusnya bisa ditonjolkan mela-lui sarana promosi seperti itu. Jangan dicetak sangat terbatas,” harapnya.Promosi bukan hanya tentang desa wisatanya.
Keunggulan masing-masing desa juga harus ditonjolkan, tanpa menghilangkan unsur loka-litas budaya. Mulai kuliner, kera-jinan, kehidupan masyarakat, keindahan alam, sampai kesenian tradisional. Untuk lebih memperkuat citra, setiap elemen itu harus dipaparkan secara detail dan komprehensif. Bukan sekadar untuk menambah wawasan dan informasi bagi wi-satawan. Tapi lebih dari itu, meng-gugah minat wisatawan untuk mengunjungi desa wisata yang bersangkutan.Pada bagian lain, Sukarjo berharap pemerintah membuat semacam pakem dalam pengelolaan desa wisata. Terutama bagi desa yang belum menemukan ritme dalam promosi maupun manajerial. Se-dangkan desa wisata yang telah berjalan tanpa kendala, dibiarkan mengalir, namun tetap dengan pen-dampingan. Sukarjo optimistis, penyeragaman sistem manajerial akan mempermudah pengelola antardesa wisata bertukar infor-masi tentang kesulitan dan kelebihan masing-masing. (yog/laz/ong)