SETIAKY A KUSUMA/RADAR JOGJA
BAHAYA : Inilah kondisi salah satu rumah di Pedukuhan Nglengkong, Sambirejo, Prambanan yang berada di wilayah bahaya tanah longsor.Ancaman Tanah Longsor di Prambanan Masih Mengancam
PRAMBANAN- Tiga kepala keluarga (KK) di Pedukuhan Nglengkong, Sambirejo, Prambanan, akhirnya memilih mengungsi dari tempat tinggalnya. Itu mereka lakukan setelah tempat tinggalnya tertimpa longsoran tanah perbukitan seminggu lalu.
Salah di antaranya adalah keluarga Ngadi Suwito, 70, yang rumahnya mengalami kerusakan paling parah. Kini, dia masih menunggu kebijakan relokasi dari pemerintah.
Semula, Ngadi mencoba bertahan di rumah dengan dinding kamar yang retak. Nah, agar tidak jebol, Ngadi menyangga dinding dengan balok kayu. Namun, Ngadi semakin khawatir, setelah berhari-hari muncul gempa susulan yang diikuti tanah longsor susulan.
Menurutnya, saat pertama kali terjadi tanah longsor memang tidak sampai mengenai rumah. Namun, longsoran tersebut ternyata menimbulkan rekahan tanah perbukitan. Lambat laun, rekahan itu melebar dan terjadi longsoran secara berangsur-angsur hingga kemarin (7/4). “Saya memilih mengungsi. Sebelum ini sudah ada tiga rumah kena longsoran,” ungkapnya.
Selain milik Ngadi Suwito, tanah longsor mengenai rumah Eko Sarjito, 31, dan Wakidi, 35. Di sisi lain, early warning system (EWS) yang semakin sering bernunyi menimbulkan keresahan warga setempat. Kekhawatiran warga terbukti dengan adanya penurunan tanah di perbukitan. Tanah ambles sedalam 1 meter, kini mencapai lebih dari 2,5 meter. Warga meyakini, jika terjadi hujan deras rekahan tanah akan longsor. “Tinggal menunggu waktu saja. Longsor bisa lebih besar,” kata Tuminem, warga lainnya.
Ibu paruh baya itu mengatakan, warga selalu dilanda perasaan waswas setiap tahun saat musim penghujan. Sebab, setiap hujan deras selalu terjadi pergerakan tanah di atas bukit. Seperti halnya Ngadi, Tuminem pun tidak berani tidur di rumah, terutama saat malam hari atau hujan.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman Julisetiono Dwi Wasito membenarkan jika EWS sering berbunyi. Alarm tanda terjadi gempa kecil akibat pergerakan tanah. “Saat tidak hujan saja EWS sering berbunyi,” jelasnya.
Warga yang masih tinggal di kawasan berbahaya diminta secepatnya mengungsi ke tempat aman. Nantinya, urusan relokasi akan dirembug bersama pemerintah kabupaten, kecamatan, dan desa. Sambil menunggu kebijakan penyediaan lahan untuk relokasi. Sedikitnya enam KK harus direlokasi.
Selain itu, BPBD menunggu kajian aspek geologi kawasan tersebut oleh Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG). Untuk menentukan langkah lanjutan dari bencana tersebut. “Yang penting evakuasi dulu warga yang terancam bahaya longsor,” tegasnya. Julisetono mewanti-wanti agar rumah yang mepet dengan perbukitan tak dihuni dulu.
Hingga kemarin, warga dibantu petugas BPBD dan relawan gotong royong membersihkan kawasan permukiman yang tertimpa tanah longsor.(yog/din/Nr)