Ilustrasi. FOTO: dok/jawapos.com
SURABAYA – Rumah kos masih jadi tempat favorit para bandar narkoba untu bersembunyi. Butinya, Hakam alias Barru, 34, belum pernah tertangkap meski sudah hampir dua tahun menjadi bandar narkoba. Namun praktik warga Kebraon, Surabaya itu akhirnya terendus ketika petugas merazia kos-kosan.
Hakam ditangkap anggota Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jatim dalam razia gabungan bersama satpol PP di sebuah rumah kos di kawasan Bratang Gede. ”Kami menduga tempat-tempat tersebut menjadi tempat persembunyian bandar dan penggunanya,” kata Kepala BNNP Jatim Iwan Abdullah Ibrahim.
Iwan mengatakan, saat merazia itu, Hakam ditemukan sedang bersama seorang wanita penghibur alias purel di dalam kamar kosnya. Petugas pun langsung melakukan tes urine terhadap Hakam dan semua penghuni kos. Ternyata benar, urine Hakam diketahui positif mengandung narkotika.
Petugas langsung menggeledah kamar itu dan menemukan sebuah plastik yang diikat karet di atas pintu kamar mandi. Ketika dibuka, plastik tersebut berisi narkotika jenis sabu-sabu (SS) dan ekstasi. Jumlahnya, 10 gram SS dan 29 ekstasi.
Iwan mengungkapkan, SS tersebut siap diedarkan. Hakam sudah membungkusnya dalam plastik klip ukuran kecil sebanyak 12 paket. ”Ternyata, itu sisa penjualan. Sebelumnya, dia punya banyak. Tapi, sebagian besar sudah laku,” jelasnya.
Berdasar pemeriksaan, terungkap bahwa Hakam merupakan bandar yang sudah lama memasarkan narkoba di kamar kos. Konsumennya adalah purel-purel yang kebanyakan tinggal di kamar kos. Karena itulah, Hakam tinggal di kamar kos yang sebagian besar adalah purel.
Selama ini Hakam belum pernah tertangkap karena hanya menjual narkoba kepada purel. Purel yang menjadi pelanggannya bekerja di sejumlah tempat dugem di Surabaya. Mereka rata-rata saling kenal sebelumnya. Karena itulah, nama Hakam sangat terkenal di kalangan purel di beberapa rumah kos di kawasan Ngagel.
Meski Hakam hanya melayani purel, omzetnya tidak bisa dibilang kecil. Dalam sebulan, dia bisa kulakan narkoba hingga Rp 10 juta. Penyidik memprediksi, tidak sampai setahun, pria lulusan D1 Teknik Elektro kampus swasta itu membelanjakan uang hingga Rp 100 juta hanya untuk narkoba.
Hakam bahkan tidak pernah kehabisan stok narkoba. Ketika stoknya akan habis, dia sudah memesan lagi kepada bandar di atasnya lagi. Untuk memudahkan purel, Hakam juga memberlakukan sistem utang. Purel yang belum mempunyai cukup uang, tetapi butuh narkoba bisa berutang dulu. Selanjutnya, mereka baru membayar ketika memiliki uang.
Menurut Iwan, Hakam mendapat narkoba dari seorang terpidana narkoba yang saat ini masih mendekam di lapas. (eko/git/mas/jpnn)