MAGELANG – Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Provinsi Jawa Tengah akan menjadikan
Alun-Alun Kota Magelang sebagai salah satu kawasan tertib di Jawa Tengah. Alun-alun ini menjadi percontohan bagi alun-alun di kota dan kabupaten lain.
Ini diungkapkan Kasi Ketertiban Umum dan Ketentraman Masyarakat (Tibumtraman) Satpol PP Jawa Tengah Tri Prasetyaningtyas saat sosialisasi kawasan tertib di Alun-alun Kota Magelang.
“Setiap alun-alun di kota/kabupaten se-Jateng, kami jadikan kawasan tertib. Termasuk Alun-alun Kota Magelang setelah sebelumnya sudah dicanangkan di Kota Semarang dan Jepara. Alun-alun Kota Magelang sudah cukup tertib,” tegas Tri kemarin (8/4).
Dijadikannya Alun-alun Kota Magelang sebagai kawasan tertib berimplikasi pada wilayah tersebut untuk selalu menjaga ketertiban dan kenyamanannya. Di antaranya, soal pengemis, pengamen, dan lainnya yang bisa mengganggu kenyamanan pengunjung.
“Alun-alun ini sudah baik, tapi masih perlu terus dipelihara. Harapannya memang tidak ada pengamen dan pengemis. Kalau masih ada, itu jadi tanggung jawab Satpol PP Kota Magelang untuk menertibkannya,” paparnya.
Rencananya, ke depan tidak hanya alun-alun yang dijadikan kawasan tertib. Tetapi hingga kawasan di tingkat kecamatan. Upaya itu sudah dilakukan dan akan terus diupayakan, sehingga semua kawasan menjadi tertib.
“Kami akan terus sosialisasikan ke masyarakat. Seperti sekarang, kami berkeliling alun-alun sambil membagikan selebaran berisi imbauan untuk tertib sesuai dengan Perda Nomor 3 Tahun 2007 dan Perda Nomor 13 Tahun 2013. Sepanjang kawasan ini tertib pedagang kaki lima dan reklame,” jelasnya.
Kasi Tantrib Kantor Satpol PP Kota Magelang Otros Trianto mengemukakan, pihaknya menyambut baik adanya sosialisasi tersebut. Ia mendukung penetapan alun-alun ini menjadi kawasan tertib di Kota Magelang.
“Alun-alun merupakan wajah kota yang harus terlihat tertib, rapi, bersih, dan nyaman. Alun-alun pantas menjadi kawasan tertib, sehingga membuat nyaman pengunjung. Kami siap menjaganya,” paparnya.
Otros menambahkan, Pemkot Magelang sudah sejak September 2014 melarang aktivitas pengamen dan pengemis di alun-alun. Terutama di kompleks pusat kuliner Tuin Van Java (TVJ). Pelarangan itu diwujudkan dalam pemasangan papan peringatan.
“Hal ini berdasar pada banyaknya keluhan masyarakat terhadap keberadaan pengamen dan pengemis di area itu,” ungkapnya.
Hanya, meski ada dilarang, aktivitas pengamen dan pengemis masih ditemukan. Seperti diutarakan Rosadi, 35, salah satu pengunjung TVJ. Ia melihat pengamen dan pengemis selama menikmati hidangan di pusat kuliner itu.
“Bagus ada kampanye kawasan tertib itu. Tapi, penegakkannya harus tegas. Misalnya, sekarang masih saja ada pengamen dan pengemis. Harusnya tidak ada, sehingga kami bisa nyaman menikmati kuliner,” harapnya.(dem/hes/mga)