DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO TEGANG: Anggota ormas bersiaga di depan rumah yang akan dieksekusi. Kapolsek Banjarsari Kompol Saprodin dihadang massa, kemarin.
SOLO – Upaya eksekusi rumah tua peninggalan Belanda di Jalan Sabang Nomor 4, Kelurahan Kestalan, Kecamatan Banjarsari oleh Pengadilan Negeri (PN) Solo berlangsung ricuh, kemarin (8/4). Polisi dan petugas PN Solo dihadang dan didorong-dorong massa berpakaian serba putih.
Pantauan Jawa Pos Radar Solo, ketika polisi dan petugas PN Solo tiba di lokasi eksekusi sekitar pukul 9.30, massa telah membuat pagar betis tepat di depan rumah yang selama ini ditinggali keluarga almarhum Winarso. Mereka juga membentangkan spanduk bertuliskan penolakan eksekusi.
Begitu petugas mendekat, aksi saling dorong dengan massa tak terhindarkan. Petugas PN Solo Rohadi sempat membacakan isi putusan PN Solo yang intinya meminta rumah tersebut dikosongkan. Pembacaan keputusan dari PN Solo itu tak menyurutkan niat massa melakukan penghadangan.
Untungnya, situasi yang makin panas itu bisa diredam setelah kedua belah pihak melakukan diskusi. Petugas PN Solo memilih menangguhkan eksekusi hingga waktu yang belum ditentukan.
Kuasa hukum istri almarhum Winarso, Suharti, H. Joko Sunarto mengatakan, keluarga dan kerabat menolak putusan pengadilan dengan mengajukan derden verzet atau perlawanan dari pihak ketiga.
“Eksekusi tidak bisa dilakukan karena cacat hukum. Rumah ini tidak memiliki sertifikat HGB (Hak Guna Bangunan). Tapi anehnya ada pihak yang mengklaim sebagai ahli waris,” ujarnya.
Menurut Joko, rumah yang ditinggali Almarhum Winarso tersebut sebelumnya adalah milik warga negara Belanda. Sejak 1949, keluarga Winarso menempati rumah tersebut dengan menyewa pada pemegang HGB seorang warga keturunan Tiongkok.
Sekitar 1990, masa HGB habis. Tapi keluarga Winarso tidak pernah diinformasikan oleh pemilik rumah, terkait habisnya masa HGB. Selang beberapa tahun kemudian, muncul gugatan terhadap keluarga Winarso yang didaftarkan ke pengadilan oleh seseorang bernama Agus Pribadi yang mengklaim sebagai ahli waris pemilik rumah.
Keluarga almarhum Winarso mengaku selama ini tak mengetahui hubungan antara pemilik rumah dengan Agus Pribadi.
“Dalam gugatan Agus Pribadi itu mencantumkan nama keluarganya yang sudah meninggal sebagai penggugat. Tentu ini tidak dibenarkan,” tandas Joko.
Perwakilan PN Solo Rohadi menuturkan, sesuai putusan pengadilan, penghuni rumah (keluarga almarhum Winarso) dinyatakan kalah dalam perkara tersebut, karena tidak memiliki bukti kepemilikan bangunan dan tanah yang sah.
“PN Solo berhak melakukan eksekusi,” kata Rohadi.
Kapolsek Banjarsari Kompol Saprodin menuturkan, penjagaan polisi dan unsur TNI guna mencegah kejadian yang tak diinginkan. “Hanya berjaga-jaga saja,” singkatnya.(din/wa/hes/mga)