GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOJGA
JOGJA – Para musisi di Jogja menyatakan keprihatinannya atas tata bangunan belakangan ini, khususnya makin maraknya pembangunan hotel. Sebuah aksi bertajuk Mengheningkan Cipta pun diselenggarakan di Alun-Alun Utara Keraton Jogja, kemarin sore (8/4).
Aksi yang melibatkan Komunitas Musisi Jogja ini fokus pada dampak pembangunan hotel. Terutama pengaruhnya terhadap berkurangnya debit air tanah di beberapa wilayah di Jogja. Keprihatinan ini pun dikemas secara apik melalui alunan musik orchestra.
“Keprihatinan kami muncul setelah menonton film Belakang Hotel. Ada sebuah rasa ironi yang kami rasakan dari pembangunan hotel di Jogjakarta. Secara fisik memang berkembang, namun ada dampak negatif kepada lingkungan di sekitarnya,” kata musisi Oscar Artunes.
Tunes menjelaskan, aksi ini bukan ajang untuk mencari siapa yang salah. Namun sekadar menyadarkan kehidupan yang mulai tidak selaras. Terutama antara ketidakseimbangan hidup antara manusia dengan alam.
Manusia yang seharusnya bertugas menjaga, justru merusak. Apalagi perusakan ini tanpa memandang dampak jangka panjang. Air, menurut Tunes, elemen penting dalam hidup. Namun jika diekploitasi untuk satu pihak, maka dapat merugikan lingkungan sekitarnya.
“Aksi bisa dikatakan sebagai wujud doa dan harapan kami. Agar seluruh elemen masyarakat di Jogjakarta benar-benar sadar akan dampaknya. Lalu bersama-sama menjaga kelestarian lingkungan, terutama air,” harapnya.
Dalam kesempatan ini, musik yang didominasi alat musik gesek dan tiup terdengar syahdu. Meski tidak mengenakan pengeras suara, mampu mencuri perhatian setiap warga yang lewat. Aksi ini melibatkan beberapa siswa SMKN 2 Kasihan, mahasiswa jurusan musik dan Etno ISI, serta mahasiswa jurusan musik UNY.
Sebuah repertoar Mengheningkan Cipta karya T. Prawit dibawakan. Lagu ini, menurut Tunes, merupakan gambaran untuk wujud Jogjakarta saat ini. Selain itu juga untuk mendoakan situasi di Jogja maupun para leluhur.
“Supaya tidak ada lagi wilayah yang kekeringan karena bangunan bangunan yang tidak berperikemanusiaan. Juga berharap Jogja damai, Jogja ojo gumunan dan Jogja tabah atas pembangunan saat ini,” katanya. (dwi/laz/mga)