GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
BERLINDUNG : Para pemain dan tim ofisial PSIR Rembang berusaha menyelamatkan diri dari lemparan batu saat kericuhan usai laga melawan PSIM Jogja di Stadion Mandala Krida, Selasa (7/4).
JOGJA – Kericuhan saat laga PSIM Jogja menjamu PSIR Rembang Selasa (7/4) menjadi pekerjaan rumah yang mende-sak untuk segera dipecahkan. Ini tidak hanya terhadap orga-nisasi supporter, tetapi juga juga manajemen klub. Untuk mengantisipasi agar kejadian serupa tidak terulang kembali pihak manejemen akan lebih intensif melakukan pem-binaan bagi para suporter.Ketua Umum PSIM Jogja Agung Damar Kusumandaru menya-takan, manajemen siap mela-kukan pembinaan lebih intensif ke suporter agar kejadian se-perti melawam PSIR Rembang tidak terjadi lagi. Pihaknya akan berkoordinasi dengan pengurus suporter untuk berkomitmen bersama dalam menjaga kon-dusifitas setiap laga PSIM Jogja.”Sebab tidak semua supor-ter yang hadir paham dampak dari kericuhan. Padahal yang dirugikan sebenarnya klub dengan kejadian ini,” kata Agung kemarin (8/4).
Imbas dari kericuhan tersebut salah satunya adalah sulitnya perizinan laga kandang yang akan digelar oleh PSIM. Sehing-ga, untuk uji coba selanjutnya, manajemen masih mengkaji kembali diperlukan atau tidak. “Masih kami kaji dan menunggu masukan dari panpel terkait pengamanan,” jelasnya.Panita Penyelenggara (Panpel) PSIM Jogja mengaku khawatir dampak ikutan dari kericuhan supporter itu. Bukan tidak mungkin, akibat kericuhan itu, pihak kepo-lisian akan mempersulit penye-lenggaraan pertandingan PSIM.Kekhawatiran tersebut memang cukup beralasan. Katua Panpel PSIM Jogja Ipung Purwan-dani mengaku, sebelum PSIM pertandingan digelar, sudah ada kesepakatan dari suporter dengan pihak kepolisian dari Polresta Jogja dan Panpel untuk menjaga kea-manan pertandingan tetap kon-dusif. Akibat kericuhan suporter, dimungkinkan pihak keamanan meninjau ulang kembali izin laga pertandingan. Padahal, sebelum menjalani kom-petisi Divisi Utama, PSIM masih akan menggelar laga uji coba kan-dang. “Akibat kericuhan kemarin saya khawatir izin tidak bisa didapat,” kata Ipung kemarin (8/4).
Panpel PSIM sendiri menya-yangkan ulah suporter. Padahal, status laga pertandingan lawan PSIR rembang hanya laga uji coba. Seharusnya, penonton bisa lebih dewasa menerima hasil, karena dalam laga tersebut tidak menentukan hasil apapun.”Suporter kita belum dewasa untuk menerima hasil pertan-dingan. Padahal laga lawan PSBK Blitar bisa kondusif. Se-harusnya apapun hasilnya, ko-mitmen untuk membuat suana kondisif harus dijaga,” jelasnya. Tidak hanya itu, Ipung me-ngatakan, kericuhan tersebut juga bisa berpengaruh pada Pemerintah Kabupaten Kulon-progo untuk kesediannya memin-jamkan Stadion Cangkring men-jadi homebase PSIM untuk mejalani laga DU musim ini. “Bisa jadi bupati berpikir ulang untuk menyewakan stadionnya kepada kami,” jelasnya.Agung masih berpegangan pada hasil audiensi, bahwa bu-pati menyetujui Stadion Cang-kring digunakan sebagai home base bagi tim berjuluk Laskar Mataram itu. “Sekarang yang diperlukan hanya tinggal cek kelayakan maupun kekurangan stadion,” jelasnya. Seperti diketahui setelah kalah dari PSIR Rembang dengan skor 2-3, penonton di Stadion Man-dala Krida melampiaskan ke-kesalannya kepada para pemain tim tamu. Tercatat sekitar lima pemain PSIR Rembang dan seorang petugas keamanan meng-alami luka akibat aksi anarkis sebagian penonton tuan rumah.Akibat insden tersebut, ofisial dan para pemain PSIR Rembang sempat tertahan di dalam sta-dion. Mereka baru bisa keluar dari stadion setelah situasi benar-benar kondusif dengan ken-daraan truk dalmas milik aparat keamanan. (bhn/din/ong)